Rapat Dewan Gubernur BI Dibuka Rupiah Melemah, IHSG Lanjut Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) mulai rapat bulanan hari ini hingga besok, rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas di pasar spot Selasa (22/04/2025) pagi. Depresiasi itu juga terdampak menguatnya kembali indeks dolar AS.
Berdasarkan data TradingView, nilai tukar rupiah melemah 50 poin atau 0,30% pada pukul 09.05 WIB ke level Rp 16.849 per dolar AS. Secara year to date, mata uang Garuda sudah terdepresiasi terhadap greenback 4,21%.
"Sentimen datang dari perseteruan yang terjadi di AS, antara Chairman The Fed Jerome Powell dan Presiden Donald Trump," kata pengamat pasar modal Reza Priyambada di Jakarta, Selasa pagi.
Pada hari Senin, 21 April 2025 waktu setempat, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk menurunkan suku bunga. Trump menyarankan agar suku bunga diturunkan setidaknya 100 basis poin dan dimulai kembali pelonggaran kuantitatif (quantitative easing). Tokoh pengusaha properti paling terkenal di New York ini berpendapat bahwa langkah tersebut akan memperbaiki ekonomi AS dan meningkatkan ekonomi global secara signifikan.
Baca Juga
Suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 4,25-4,50% sejak 18 Desember 2024. Pada tanggal tersebut, Bank Sentral AS menurunkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin, menjadi 4,25%–4,50%.
Sedangkan Bank Indonesia Rate berada di level 5,75%. BI terakhir kali menurunkan suku bunga acuan dari 6,00% ke 5,75% pada 15 Januari 2025 atau telah berlaku selama lebih dari 3 bulan.
Sementara itu, pada Selasa hingga pukul 10.52 WIB, rupiah juga melemah terhadap hard currency yang lain yen Jepang. Rupiah melemah 1,09 poin atau 0,91% ke level Rp 120,26 per yen. Ini adalah titik terendah kurs rupiah terhadap yen sepanjang 2025, yang sudah terdepresiasi secara year to date 16,81%.
Kebijakan Tarif Trump Merugikan AS
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,13 poin atau 0,13% ke level 98,45 Selasa pagi. Namun, secara ytd, DXY sudah melemah 9,28%.
Pengamat kebijakan ekonomi Tri Winarno mengatakan, kebijakan tarif tinggi resiprositas yang diumumkan Trump 2 April lalu justru akan sangat merugikan AS.
Baca Juga
Beruntun 59 Bulan, Surplus Perdagangan Naik Tembus US$ 4,33 Miliar Maret
Ia mengatakan, sementara AS mengalami defisit perdagangan barang sebesar US$ 1,2 triliun pada tahun 2024, negara itu juga mencatat surplus sebesar US$ 295 miliar dalam neraca jasa lintasbatas. Yang lebih penting, anak perusahaan AS di luar negeri menghasilkan penjualan sebesar US$ 2,1 triliun, dibandingkan dengan US$ 1,5 triliun oleh anak perusahaan asing yang beroperasi di AS. Hasilnya adalah surplus neraca jasa bersih sebesar US$ 895 miliar, hampir cukup untuk mengimbangi defisit neraca barang.
"Anak perusahaan asing dari perusahaan AS juga menghasilkan laba bersih sebesar US$ 632 miliar pada tahun 2024 saja. Dengan asumsi pengembalian konservatif sebesar 4%, itu berarti basis aset sebesar US$ 15,8 triliun. Ini angka yang mencengangkan untuk negara yang, di atas kertas, mengalami defisit transaksi berjalan kumulatif sebesar US$ 14,4 triliun," kata Tri Winarno kepada Investortrust, Senin.
Untuk memahami kontradiksi yang tampak ini, lanjut dia, kita perlu mempertimbangkan narasi yang berbeda, yakni AS secara efektif meminjam bukan US$ 14,4 triliun tersebut tetapi US$ 28 triliun. Ini setengahnya digunakan untuk belanja domestik, setengah lainnya digunakan untuk mendanai investasi langsung asing (FDI).
"Perbedaan utamanya terletak pada bagaimana perusahaan-perusahaan Amerika menggunakan dana ini. Dengan menggabungkan modal dengan aset tak berwujud seperti ide, kekayaan intelektual, dan kemampuan organisasi, mereka menghasilkan laba sebesar 8%, jauh di atas 4% yang biasanya diperoleh oleh investor pasif, termasuk pemberi pinjaman asing. Intinya, AS tidak hanya mengekspor dolar, tetapi juga bentuk modal tak kasat mata, yang berfungsi sebagai sumber pendapatan yang andal. Pada tahun 2005, (ekonom) Federico Sturzenegger menggunakan istilah 'dark matter' untuk menggambarkan nilai tak terukur yang tertanam dalam aset berbasis pengetahuan yang gagal ditangkap oleh akuntansi tradisional," ujarnya.
Dinamika struktural ini telah lama memungkinkan AS untuk menjalankan defisit perdagangan yang terus-menerus tanpa mengalami konsekuensi yang biasa terjadi, seperti pembayaran bunga yang meningkat. Sejak berakhirnya Perang Dunia II – dan lebih presisi, sejak Putaran Uruguay tahun 1994 dalam perundingan perdagangan – AS telah memimpin upaya untuk melembagakan perlindungan bagi investasi lintasbatas dan kekayaan intelektual.
Sebagai imbalannya, negara-negara berkembang memperoleh akses yang lebih luas ke pasar modal dan konsumen Amerika. Meski tidak sempurna, sistem perdagangan global telah memungkinkan AS untuk mengekstraksi nilai yang langgeng dari modal tidak berwujudnya.
Fondasi kekuatan Amerika itu kini terancam. Tarif 'Hari Pembebasan' yang dideklarasikan Trump bukan sekadar isyarat simbolis, tarif itu menandakan kesediaan untuk meninggalkan prinsip-prinsip yang telah menopang perdagangan dan investasi global selama beberapa dekade.
Jika AS dianggap menarik diri dari komitmennya terhadap pasar terbuka, negara-negara lain mungkin akan merespons dengan mengurangi perlindungan hak kekayaan intelektual. Pendapatan perusahaan-perusahaan besar AS – khususnya di bidang teknologi, farmasi, dan hiburan – dapat menghadapi pajak yang lebih tinggi, regulasi yang lebih ketat, dan bahkan perampasan. Akibatnya, pendapatan yang membantu mengimbangi defisit transaksi berjalan Amerika dapat mengering.
Kerusakan akibat agenda Trump, bahkan kemungkinan jauh melampaui perdagangan. Ini lantaran kekuatan model ekonomi Amerika selalu bertumpu pada keterbukaannya terhadap orang, modal, dan gagasan.
Selama beberapa dekade, AS telah menjadi magnet bagi bakat dalam sains dan teknologi, mulai dari para emigran Eropa yang membantu membangun bom atom hingga para peneliti artificial intelligence (AI) dan pengusaha bioteknologi masa kini. Namun, seiring AS beralih ke dalam negeri – bahkan juga menyerang universitas, merusak penelitian, dan menutup diri terhadap dunia – ekonomi terbesar dunia itu justru menghancurkan keunggulan basis pengetahuan yang menghasilkan 'materi gelap' yang menopang keseimbangan eksternalnya.
Baca Juga
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 59 Bulan Berturut-turut
Baik Korea Selatan maupun Jepang merupakan eksportir mobil utama ke Amerika Serikat. Namun, sejak 2 April 2025, AS yang merupakan ekonomi terbesar di dunia itu memberlakukan tarif impor sebesar 25% untuk semua mobil impor, termasuk dari kedua negara mitra dekatnya ini. Sedangkan untuk tarif resiprositas atas kedua negara Asia Timut tersebut dan sebagian besar negara lain -- termasuk Indonesia -- ditangguhkan oleh Trump pemberlakuannya selama 90 hari per 9 April 2025 untuk negosiasi.
Asing Balik Beli SBN
Sementara itu, investor asing akhirnya berbalik arah mencatatkan net buy di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia senilai Rp 4,19 triliun Kamis lalu, berdasarkan data terbaru DJPPR. Sedangkan di pasar saham, non-resident masih membukukan net sell Rp 0,69 triliun pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia Senin (21/04/2025).
Net foreign capital ouflows itu menambah akumulasi penjualan bersih saham oleh asing di Bursa Efek Indonesia month to date menjadi Rp 20,31 triliun hingga Senin sore. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 50,24 triliun. Ini setara US$ 2,99 miliar,” papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, Senin sore.
Berdasarkan catatan Investortrust, meski pemodal asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sepanjang hari ini, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup naik tipis sebanyak 7,7 poin (0,12%) menjadi 6.445,97.
Penguatan IHSG masih berlanjut Selasa pagi ini. Beradasarkan data BEI, indeks terangkat 0,46% ke 6.475,8.

