Ada Rapat Dewan Gubernur BI sampai Was-Was Perang Iran-Israel, Simak Nasib Kurs Rupiah Pagi Ini
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melanjutkan tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomber pada Selasa (17/6/2025) pukul 09.00 WIB pagi ini, kurs rupiah bergerak menguat 38 poin (0,24%) ke level Rp 16.265 per dolar AS.
Hari ini rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode 17-18 Juni 2025 dimulai. Pada RDG periode Mei lalu, BI memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%. Selain itu, dewan gubernur juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bos menjadi 4,75%. Kemudian suku bunga Lending Facility juga turun 25 bps menjadi 6,25%.
Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,50% dalam rapat dewan gubernur (RDG) periode 17-18 Juni 2025.
Menurutnya BI diperkirakan akan lebih fokus pada dampak transmisi penurunan suku bunga kebijakan sebelumnya terhadap suku bunga kredit perbankan sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Baca Juga
Rupiah Menguat Terbatas Gegara Perang Iran-Israel, Apa Hubungannya dengan Trump dan Putin?
"Kami masih melihat terdapat ruang bagi BI untuk melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan," ungkap Faisal kepada Investortrust, dikutip Selasa (17/6/2025).
Was-Was Perang Iran-Israel dan Ekspektasi Arah Kebijakan The Fed
Kemudian dari sentimen global, pasar diselimuti was-was akibat adanya konflik antara Iran dan Israel. Diketahui selama akhir pekan, Iran-Israel melancarkan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi masing-masing, yang memicu lonjakan baru harga minyak. Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz—titik kritis untuk pengiriman minyak global—yang menambah kegelisahan pasar.
"Pasar juga akan mencermati setiap kemajuan negosiasi perdagangan antara AS dan mitra utamanya," ungkap Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, dalam laporan tertulis, Selasa (17/6/2025).
Sementara itu yield US Treasury 10 tahun naik 4,75 bps menjadi 4,45% (-12,3 bps ytd) karena optimisme seputar meredanya ketegangan geopolitik mendorong sentimen investor. Sedangkan fokus beralih ke keputusan kebijakan Federal Reserve pada hari Rabu, dengan pasar secara luas memperkirakan suku bunga tetap tidak berubah.
Menurut Andry Asmoro Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan mendatang, meskipun ada tekanan yang meningkat dari Presiden Trump untuk melonggarkan kebijakan.
"Bank sentral menghadapi latar belakang yang kompleks dari ketidakpastian terkait tarif dan meningkatnya ketidakstabilan geopolitik," tulis Andry.

