Rupiah Ditutup Menguat usai Indonesia Catatkan Surplus Perdagangan 59 Bulan Beruntun
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Senin (21/4/2025) bertepatan usai Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 59 bulan beruntun. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat 25 poin (0,14%) ke level Rp 16.808 per dolar AS.
Pada perdagangan pasar spot valas, data Yahoo Finance menunjukkan kurs rupiah menguat 11 poin (0,11%) untuk bergerak ke level Rp 16.800 per dolar AS. Dalam penutupan perdagangan terakhir, Yahoo Finance menunjukkan kurs rupiah berada pada posisi Rp 16.819 per dolar AS.
Diberitakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 mengalami surplus sebesar US$ 4,33 miliar. Dengan ini, Indonesia kembali mencatatkan surplus selama 59 bulan berturut-turut.
“Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 59 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Amalia saat laporan Neraca Perdagangan Indonesia untuk Maret 2025, di kantor pusat BPS, Senin (21/4/2025).
Amalia menjelaskan, surplus sebesar US$ 4,33 miliar ini naik 1,23% secara bulanan. Namun, jika dibandingkan data tahunan, surplus tahun ini mengalami kontraksi sebesar -0,25%.
Baca Juga
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 59 Bulan Berturut-turut
Menurut Amalia, surplus pada Maret 2025 ini ditopang oleh surplus dari komoditas nonmigas sebesar US$ 6 miliar. Komoditas penyumbang utama adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Pada saat yang sama, kata Amalia, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ 1,67 miliar. “Komoditas penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah,” kata dia.
Kekhawatiran Global soal Perang Dagang AS dan China
Dari sentimen global, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkap ada kekhawatiran yang berkelanjutan tentang kurangnya negosiasi perdagangan langsung antara AS dan China terus membebani sentimen. Bahkan ketika pemerintahan Trump melanjutkan diskusi tarif dengan negara-negara ekonomi utama lainnya.
Andry mengungkap indeks dolar (DXY) bertahan pada level terendah 3 tahun pada hari Jumat, karena aktivitas perdagangan tetap lesu dengan sebagian besar pasar global tutup untuk liburan Jumat Agung. Dolar berada di bawah tekanan di tengah kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari tarif dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan di bawah Trump.
"Namun, sentimen pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi karena AS mengadakan pembicaraan perdagangan dengan mitra utama termasuk Jepang dan Italia," kata Andry dalam laporan tertulis, Senin (21/4/2025).
Presiden Trump juga mengindikasikan kemungkinan penurunan ketegangan perdagangan dengan Tiongkok, dengan menyatakan bahwa ia tidak ingin tarif naik lebih jauh dan bahkan mungkin mempertimbangkan untuk menguranginya di beberapa titik.
Baca Juga
Trump mengkritik Ketua Fed Powell karena terlalu lambat memangkas suku bunga dan menyatakan bahwa pemecatannya "tidak akan cukup cepat." Pada hari Rabu, Powell mengatakan bahwa Fed dengan hati-hati memantau dampak tarif sebelum bertindak. Di sisi ekonomi, klaim pengangguran turun ke level terendah dalam 2 bulan di tengah pasar tenaga kerja yang kuat.
"Pasar terus menilai masa depan kebijakan perdagangan AS dan bagaimana hal itu akan memengaruhi pertumbuhan dan permintaan asing untuk surat utang AS," tutur Andry.
Minggu ini, ketidakpastian mengenai jalur tarif oleh AS di tengah ancaman eskalasi terhadap janji untuk mencapai kesepakatan perdagangan akan terus mendorong volatilitas di semua kelas aset. Investor juga akan mencermati laporan pendapatan global. Pesanan barang tahan lama AS dan penjualan rumah yang ada juga akan diperhatikan di AS, dan pengukur keyakinan utama ditunggu di Jerman, Prancis, dan Inggris.
"Di sisi kebijakan moneter, PBoC akan mempertahankan suku bunga pinjaman utama di China," tutup Andry.

