Beruntun 59 Bulan, Surplus Perdagangan Naik Tembus US$ 4,33 Miliar Maret
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 senilai US$ 4,33 miliar. Ini adalah surplus beruntun selama 59 bulan atau sejak Mei 2020.
“Suplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 naik dari Februari sebesar US$ 3,10 miliar. Namun, surplus ini lebih rendah dibandingkan Maret 2024,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Jumpa Pers Perkembangan Ekspor Impor Maret, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (21/04/2025).
Baca Juga
Amalia menjelaskan, 3 negara penyumbang surplus neraca perdagangan terbesar Maret 2025 adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina. Surplus ke AS naik secara bulanan maupun tahunan ke US$ 1,98 miliar.
Surplus neraca perdagangan RI dengan India menurun secara bulanan maupun tahunan ke US$ 1,04 miliar. Surplus neraca perdagangan dengan Filipina juga menurun secara bulanan maupun tahunan ke US$ 714,1 juta.
Sedangkan 3 negara penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia adalah Cina, Australia, dan Thailand. Defisit dengan Tiongkok menembus US$ 1,11 miliar, menurun secara bulanan namun melonjak secara tahunan.
Defisit dengan Australia senilai US$ 353 juta, menurun secara bulanan namun meningkat secara tahunan. Defisit dengan Thailand sebesar US$ 195,4 juta, naik secara bulanan namun menurun secara tahunan.
"Surplus perdagangan nonmigas terbesar terjadi dengan Amerika Serikat. Sementara defisit nonmigas terdalam dengan Tiongkok," tandas Amalia.
Ekspor Naik Bulanan dan Tahunan
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia naik secara bulanan dan tahunan pada Maret 2025. Ekspor Indonesia pada Maret 2025 tercatat sebesar US$ 23,25 miliar.
“Pada Maret 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 23,25 miliar, atau naik 5,95% dibanding Februari 2025,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
Secara tahunan, nilai ekspor pada Maret juga mengalami kenaikan. Amalia menyebut kenaikan ekspor pada Maret 2025 sebesar 3,16%, dibandingkan Maret 2024 senilai US$ 22,54 miliar.
Data BPS menunjukkan kenaikan nilai ekspor pada Maret 2025 terjadi pada ekspor migas maupun nonmigas. Nilai ekspor migas tercatat US$ 1,45 miliar pada Maret 2025 atau naik 28,81% secara bulanan. Sementara, ekspor nonmigas mencapai US$ 21,8 miliar pada Maret 2025, naik 4,71%.
Peningkatan nilai ekspor Maret 2025, secara bulanan, didorong kenaikan nilai ekspor nonmigas. Ini terutama pada komoditas biji logam, terak dan abu, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Baca Juga
China Akan Balas Negara-Negara yang Ikuti Seruan AS untuk Mengisolasi Beijing
“Sedangkan kenaikan ekspor migas terjadi karena nilai hasil ekspor minyak. Andilnya sebesar 1,18%” kata dia.
Sedangkan secara tahunan (year on year), nilai ekspor Maret 2025 didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas. Ini mencakup lemak dan minyak hewan nabati, nikel dan barang daripadanya, serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya.
Peningkatan Ekspor Nonmigas Didorong Industri Pengolahan
Ekspor nonmigas Maret 2025 didominasi oleh sektor industri pengolahan. Kontribusinya mencapai 79,4% dari total ekspor nonmigas.
"Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara bulanan utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan. Nilai ekspor industri pengolahan naik 2,98% pada Maret 2025 (month to month) dengan andil peningkatan sebesar 2,40%. Nilai ekspor sektor industri pengolahan Maret 2025 mencapai US$ 18,16 miliar, yang secara year on year juga naik 9%," ungkap Amalia.
Kontributor kedua terbesar adalah sektor pertambangan dan lainnya senilai US$ 3,07 miliar, atau naik 16,96% secara bulanan namun turun 26,4% yoy. Kontribusinya sebesar 12,6%.
"Ini dipengaruhi melorotnya harga batu bara. Batu bara menyentuh harga terendah," papar BPS.
Kontributor ketiga atau terkecil adalah sektor pertanian senilai US$ 0,57 miliar, tumbuh 1,73% secara mtm atau melonjak 32,8% yoy. Kontribusinya hanya sebesar 2,5% dari total ekspor nonmigas.
Kinerja Ekspor Komoditas Nonmigas Unggulan
Amalia juga menjelaskan kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan. Ini mencakup besi dan baja, CPO dan turunannya, serta batu bara.
"Pada Maret 2025, nilai ekspor komoditas besi dan baja meningkat secara bulanan 19,64% dan tahunan 11,84%. Share Maret 2025 mencapai 10,92%, dengan nilai US$ 2,38 miliar," ujar Amalia.
CPO dan turunannya share pada Maret 2025 mencapai 10,06%, dengan nilai ekspor US$ 2,1 miliar. Ekspor minyak sawit ini turun 3,55% secara bulanan namun meningkat secara tahunan 40,85%.
Sedangkan batu bara memiliki share terhadap ekspor komoditas nonmigas Maret 2025 sebanyak 9,03%. Ekspor turun secara bulanan 5,54% dan secara tahunan 23,1%, menjadi US$ 1,97 miliar.
Cina Tujuan Utama Ekspor Nonmigas
Pada Maret 2025, Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Pangsanya ekspor tertinggi mencapai 23,84%, dengan nilai naik secara bulanan maupun tahunan ke US$ 5,2 miliar.
Yang kedua adalah Amerika Serikat 12,06%. Nilai ekspor ke ekonomi terbesar dunia itu US$ 2,63 miliar naik secara bulanan maupun tahunan.
Yang ketiga adalah India 6,47%. Nilai ekspor ke negara dengan penduduk terbanyak di dunia itu US$ 1,4 miliar. Ini turun secara bulanan maupun tahunan.
Sedangkan pangsa ekspor nonmigas ke kawasan ASEAN sebesar 19,08%. Nilainya adalah US$ 4,1 miliar, naik secara tahunan namun turun secara bulanan.
Ekspor nonmigas ke kawasan Uni Eropa sebesar 7,94%. Nilainya adalah US$ 4,1 miliar, naik secara bulanan maupun tahunan.
"Ekspor nonmigas ke seluruh negara/kawasan tujuan utama meningkat secara bulanan, kecuali ke India dan ASEAN. Sedangkan secara tahunan, ekspor nonmigas ke seluruh negara/kawasan tujuan utama mengalami peningkatan, kecuali ke India," tutur Amalia.
Maret, Impor Naik 0,38% Bulanan
BPS juga mencatat terjadi kenaikan nilai impor pada Maret 2025. Impor pada bulan lalu tercatat sebesar US$ 18,92 miliar atau naik 0,38% secara bulanan dan 5,34% secara tahunan.
Peningkatan impor ini terjadi pada impor migas. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan impor migas memiliki andil 1,38%.
“Impor migas naik 9,07% secara bulanan. Nilai impor migas pada Maret 2025 sebesar US$ 3,13 miliar,” ucap Amalia.
Sedangkan nilai impor nonmigas sebesar US$ 15,79 miliar. Impor nonmigas mengalami penurunan secara bulanan 1,18%.
Secara tahunan, penurunan impor migas tercatat sekitar 5,98%, dari US$ 3,33 miliar Maret 2024 ke US$ 3,13 miliar. Sedangkan impor nonmigas naik sekitar 7,91%, dari US$ 14,63 miliar Maret tahun lalu menjadi US$ 15,79 miliar Maret tahun ini.
“Peningkatan nilai impor secara tahunan didorong kenaikan impor nonmigas. Andil terhadap total impor 6,45%,” kata dia.
Impor Barang Konsumsi Melonjak
Secara penggunaan, peningkatan nilai impor secara bulanan utamanya didorong oleh impor barang konsumsi. Nilai impor barang konsumsi melonjak 18,73% pada Maret 2025 mtm dengan andil peningkatan sebesar 1,46%.
"Kontribusi Impor terbesar adalah bahan baku/penolong US$ 13,48 miliar. Impor turun 3,26% secara bulanan," ungkap Amalia.
Yang kedua adalah barang modal senilai US$ 3,70 miliar. Impor naik 7,28% secara bulanan.
"Yang ketiga atau terkecil adalah barang konsumsi US$ 1,74 miliar. Impor melonjak 18,73% secara bulanan," ujarnya.
Tiongkok Asal Utama Impor
BPS mencatat, Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor Indonesia. Pada Maret 2025, Tiongkok pangsanya tertinggi mencapai 39,96%. Nilainya naik secara bulanan maupun tahunan ke US$ 6,31 miliar.
Yang kedua adalah Jepang dengan pangsa impor 7,75%. Nilainya mencapai US$ 1,22 miliar, naik secara bulanan maupun tahunan.
Ketiga adalah Thailand dengan pangsa impor 4,50%. Nilainya tercatat US$ 0,71 miliar, turun secara bulanan maupun tahunan.
Untuk kawasan ASEAN tanpa Thailand, pangsanya mencapai 11,65%. Nilai impor naik secara bulanan namun turun secara tahunan ke US$ 1,84 miliar.
Impor dari Uni Eropa pangsanya mencapai 5,82%. Nilainya tercatat US$ 0,92 miliar, naik secara bulanan maupun tahunan.
"Secara mtm, nilai impor nonmigas dari Tiongkok, ASEAN tanpa Thailand, dan Uni Eropa mengalami kenaikan, sementara impor dari Jepang dan Thailand mengalami penurunan. Secara yoy, nilai impor nonmigas dari Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa mengalami kenaikan, sementara impor dari Thailand dan ASEAN tanpa Thailand mengalami penurunan," ujar Amalia.
Kumulatif Januari-Maret 2025
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia Januari-Maret 2025 mencapai US$ 10,92 miliar. Total ekspor US$ 66,62 miliar, yang terdiri dari migas yang turun 6,72% dari periode sama tahun lalu ke US$ 3,64 miliar dan nonmigas naik 7,84% ke US$ 62,98 miliar.
"Total nilai ekspor sepanjang Januari-Maret 2025 mengalami peningkatan sebesar 7,84%, dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai ekspor
disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 12,18% dari nonmigas," ujar Amalia.
Sedangkan impor sepanjang Januari-Maret 2025 US$ 55,70 miliar. Impor terdiri atas migas yang turun 5,85% dari periode sama tahun lalu ke US$ 8,48 miliar dan nonmigas naik 2,91% ke US$ 47,23 miliar
"Total nilai impor sepanjang Januari-Maret 2025 naik sebesar 1,47% dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor tersebut disumbang oleh impor bahan baku/penolong sebesar 1,87%," paparnya.

