Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 59 Bulan Berturut-turut
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 mengalami surplus sebesar US$ 4,33 miliar. Dengan ini, Indonesia kembali mencatatkan surplus selama 59 bulan berturut-turut.
“Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 59 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Amalia saat laporan Neraca Perdagangan Indonesia untuk Maret 2025, di kantor pusat BPS, Senin (21/4/2025).
Amalia menjelaskan, surplus sebesar US$ 4,33 miliar ini naik 1,23% secara bulanan. Namun, jika dibandingkan data tahunan, surplus tahun ini mengalami kontraksi sebesar -0,25%.
Menurut Amalia, surplus pada Maret 2025 ini ditopang oleh surplus dari komoditas nonmigas sebesar US$ 6 miliar. Komoditas penyumbang utama adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Pada saat yang sama, kata Amalia, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ 1,67 miliar. “Komoditas penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah,” kata dia.
Sebelumnya dilaporkan, BPS mencatat terjadinya kenaikan ekspor dan impor Indonesia pada Maret 2025.
Baca Juga
Nilai ekspor Indonesia secara bulanan dan tahunan pada Maret 2025 mengalami kenaikan. Nilai ekspor Indonesia pada Maret 2025 tercatat sebesar US$ 23,25 miliar atau naik 5,95% secara bulanan dan 3,16% secara tahunan.
Sementara, nilai impor pada Maret 2025 mencatat terjadinya kenaikan. Impor pada bulan yang sama tercatat sebesar US$ 18,92 miliar atau naik 0,38% secara bulanan dan 5,34% secara tahunan.
Menurut BPS, perubahan harga komoditas di perdagangan internasional menjadi bagian dari kondisi ini. Secara bulanan, terjadi kenaikan pada komoditas logam dan mineral, serta logam mulia. “Penurunan harga terjadi pada komoditas energi dan pertanian,” ujar dia.
Kondisi lain yang memengaruhi perdagangan Indonesia adalah melorotnya harga batu bara. Menurut BPS, harga batubara menyentuh harga terendah sejak Mei 2025.

