Asing Jual Neto Jumbo di Pasar Keuangan Sepekan, Lalu?
JAKARTA, investortrust.id – Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah. Dalam sepekan ini, aliran dana asing tercatat keluar dari pasar keuangan Indonesia. Lalu, apa penyebabnya dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi?
Larut malam mengakhiri hari kerja sepekan, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memaparkan, asing mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 9,61 triliun minggu ini. Penjualan neto jumbo terjadi di semua pasar, seiring kekhawatiran meningkatnya perang dagang yang dipicu kebijakan Presiden Amerika Serikat yang baru Donald Trump, yang mendorong menguatnya kembali imbal hasil US Treasury (UST) Note. Sementara, di dalam negeri, yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) trennya menurun.
"Kami laporkan aliran modal asing pada minggu II Februari 2025. Berdasarkan data transaksi 10 – 13 Februari 2025, non-resident tercatat jual neto Rp 9,61 triliun, yang terdiri dari jual neto Rp 2,42 triliun di pasar saham, Rp 2,51 triliun di pasar SBN, dan Rp 4,68 triliun di SRBI," katanya dalam keterangan di Jakarta, 14 Februari 2025 sekitar pukul 09.30 malam.
Baca Juga
Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 13 Februari, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 7,59 triliun di pasar saham. Namun, asing masih mencatatkan beli neto Rp 10,11 triliun di pasar SBN dan Rp 4,60 triliun di SRBI.
"Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. BI juga mengoptimalkan strategi bauran kebijakan, untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 13 Februari 2025 sebesar 72,22 bps, turun dibanding pada 7 Februari 2025 sebesar 74,22 bps. CDS adalah sejenis perlindungan atau proteksi atas credit event (resiko kredit).
Rupiah Menguat
Denny juga menjelaskan perkembangan nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback periode 10 – 14 Februari 2025. Meski terjadi capital outflows di pasar keuangan RI, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS.
"Pada akhir hari Kamis, 13 Februari 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.350 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,82%. DXY (indeks dolar AS) melemah ke level 107,31. Sedangkan yield UST Note 10 tahun naik ke 4,529%," paparnya.
Baca Juga
Indeks dolar ini menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
"Pada pagi hari Jumat, 14 Februari 2025, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.280 per dolar AS. Sedangkan yield SBN 10 tahun turun di 6,81%," tuturnya.
Siapkan Inovasi
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia James T Riady memberikan pandangan mengenai adanya ancaman gejolak imbas perang dagang dan berbagai tindakan mengejutkan lain oleh AS. Alih-alih cemas akibat ancaman global tersebut, ia memilih untuk tetap optimistis dengan bersiap melakukan terobosan dan inovasi baru.
"Gejolak-gejolak tidak semuanya negatif, ya. Karena memberikan kita suatu warning, suatu ingatan bahwa kita, setiap sekian saat, perlu melakukan terobosan-terobosan baru," katanya saat ditemui usai menghadiri breakfast meeting Kadin Indonesia di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (14/02/2025).
Video: Investortrust.
Bos Lippo Group itu mengatakan, pengusaha-pengusaha dalam negeri -- khususnya yang bergabung bersama Kadin -- tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ancaman perang dagang yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump di periode kepresidenannya yang kedua. Ia bahkan menyebut gejolak global yang ada semestinya memberikan inspirasi baru bagi para pengusaha.
Bagi James, adanya gejolak global menantang kelompok pengusaha untuk tidak hanya adaptif, melainkan mampu melihat peluang-peluang baru yang hadir di depan. Ia menyebut kemampuan para pengusaha untuk menyesuaikan diri serta merespons perubahan situasi dunia nantinya menjadi identitas tersendiri bagi sebuah bangsa.
"Bagaimana kita bisa merespons gejolak-gejolak yang ada di dunia, itu identitas Indonesia. Pada saat satu negara bisa merespons situasi di dunia, dan bisa mengubah diri sendiri untuk menyesuaikan situasi di dunia, dia menjadi satu bangsa yang kuat," ungkapnya.
Sebelumnya, pada Kamis (13/02/2025), Presiden Trump menandatangani memorandum kepresidenan yang merinci rencananya untuk memberlakukan tarif resiprokal terhadap negara-negara asing. AS akan menganggap kebijakan nontarif negara lain sebagai praktik perdagangan tidak adil, yang layak dikenai tarif balasan.
"Mereka mengenakan pajak atau tarif kepada kami, maka kami akan mengenakan tarif kepada mereka," kata Trump dalam konferensi pers di Oval Office, seperti dikutip CNBC.
Kebijakan tersebut mencakup pajak pertambahan nilai (VAT) dan praktik lain yang dianggap oleh kantor perwakilan dagang AS sebagai pembatasan perdagangan yang tidak adil. Trump juga mengatakan bahwa negara-negara asing tidak akan diizinkan mengirim barang dagangan atau produk lainnya ke AS melalui negara ketiga.

