Sepekan, Asing Jual Neto Dua Kali Lipat Tembus Rp 10,23 Triliun di Pasar Keuangan
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah terkini. Dalam pekan ini, modal asing masih mengalir keluar dari pasar keuangan Indonesia, seiring ketatnya persaingan pilpres Amerika Serikat yang akhirnya dimenangi Donald Trump. Berdasarkan data transaksi 4 – 7 November 2024, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 10,23 triliun, dua kali lipat lebih dari periode sama sepekan sebelumnya 28 - 31 Oktober 2024 senilai Rp 4,86 triliun.
“Kami sampaikan pula perkembangan nilai tukar 4 – 8 November 2024. Pada akhir hari Kamis, 7 November 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.730 per dolar AS dan yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,75%. Sementara DXY (indeks dolar) menguat ke level 104,51 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 4,326%,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 8 November 2024.
Baca Juga
Trump Untungkan Sektor Keuangan, Kurs Rupiah Menguat usai The Fed Pangkas Bunga
DXY menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
“Pada pagi hari Jumat, 8 November 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.605 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,66%," ujar Ramdan Denny.
Berdasarkan data kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap greenback tercatat ditutup di level Rp 15.671/USD pada Jumat (8/11/2024) sore.
Aliran Modal Asing Minggu I November
Berdasarkan data transaksi 4 – 7 November 2024, lanjut Ramdan Denny, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 10,23 triliun, terdiri dari jual neto Rp 2,29 triliun di pasar saham, Rp 4,66 triliun di pasar SBN, dan Rp 3,28 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sementara itu, berdasarkan data transaksi 28 - 31 Oktober 2024, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 4,86 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 2,53 triliun di pasar saham, jual neto Rp 3,95 triliun di pasar SBN, dan beli neto sebesar Rp1,63 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Pada semester-II 2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 38,17 triliun di pasar saham, Rp 72,82 triliun di pasar SBN dan Rp 62,65 triliun di SRBI. Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen hingga 4 November 2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 38,51 triliun di pasar saham, Rp 38,86 triliun di pasar SBN, dan Rp 192,99 triliun di SRBI," paparnya.
Baca Juga
Ia mengatakan lebih lanjut, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 7 November 2024 tercatat 67,59 bps. Ini turun dibanding dengan 1 November 2024 sebesar 71,58 bps.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," imbuh dia.

