Cek, Asing Jual Neto Makin Besar Rp 6,63 Triliun di Pasar Keuangan Sepekan
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing makin deras mengalir keluar dari pasar keuangan domestik dengan mencatatkan jual neto jumbo Rp 6,63 triliun pekan ini, dibandingkan pekan sebelumnya. Bank Indonesia juga menyampaikan sejumlah perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini.
“Kami melaporkan perkembangan nilai tukar 21-25 Oktober 2024. Pada akhir Kamis, 24 Oktober 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.575 per dolar AS, dan yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,75%. DXY (indeks dolar Amerika Serikat) menguat ke level 104,06, yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 4,212%,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, Jumat 25 Oktober 2024.
Baca Juga
Kepresidenan Trump Dapat Dorong Inflasi Tinggi, Kurs Rupiah Terdampak Melemah Jumat Pagi
Indeks dolar menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
“Pada pagi hari Jumat, 25 Oktober 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.580 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,68%,” ujar Ramdan Denny.
Jisdor Bank Indonesia mencatat, nilai tukar rupiah melemah terhadap greenback 36 poin atau 0,23% ke level Rp 15.629/USD, pada Jumat sore. Pada hari sebelumnya, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp 15.593/USD.
Capital Outflow
Ramdan Denny juga membeberkan perkembangan aliran modal asing pada minggu IV Oktober 2024 dan data terkait. Premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 24 Oktober 2024 tercatat sebesar 68,04 bps, naik dibandingkan 18 Oktober 67,39 bps.
“Berdasarkan data transaksi 21-24 Oktober 2024, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 6,63 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 3,01 triliun di pasar saham, jual neto sebesar Rp 4,53 triliun di pasar SBN, dan beli neto sebesar Rp 0,91 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” paparnya.
Berdasarkan data periode sama sepekan lalu, transaksi 14-17 Oktober 2024, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 1,09 triliun. Ini terdiri dari beli neto sebesar Rp 0,93 triliun di pasar saham, beli neto sebesar Rp 3,30 triliun di pasar SBN, dan jual neto sebesar Rp 5,31 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga
Harga Emas Bertengger di Rp 1.529.000 per Gram, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Pada semester II-2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 44,14 triliun di pasar saham. Selain itu, beli neto Rp 81,27 triliun di pasar SBN dan Rp 65,04 triliun di SRBI.
“Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen hingga 24 Oktober 2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 44,48 triliun di pasar saham. Selain itu, Rp 47,31 triliun di pasar SBN dan Rp 195,39 triliun di SRBI,” ujarnya.
Bank Indonesia, lanjut dia, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.

