Sentimen Ekonomi Global 'Paksa' Rupiah Melemah Dekati Rp 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah dalam perdagangan Selasa (26/11/2024), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp 16.000/USD. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar mata uang Garuda melemah 66 poin ke level Rp 15.930/USD, dibanding dalam penutupan perdagangan kemarin di posisi Rp 15.864/USD.
Sementara dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.45 WIB, kurs rupiah bergerak melemah 60 poin (0,38%) ke level Rp 15.924/USD. Dalam penutupan perdagangan kemarin, kurs rupiah ditutup di posisi Rp 15.864/USD.
Menurut Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, sentimen ekonomi global memaksa mata uang rupiah terdepresiasi hingga semakin dekat ke angka psikologis Rp 16.000/USD. Dia mengungkapkan sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah masih kekuatan dolar AS, didorong oleh kebijakan ekonomi dan keputusan suku bunga The Fed.
"Penguatan indeks dolar berdampak signifikan menekan rupiah. Ada pula konflik yang sedang berlangsung, seperti perang Rusia-Ukraina, yang menciptakan ketidakpastian ekonomi global, mendorong investor beralih ke mata uang safe-haven seperti dolar AS, yang melemahkan rupiah," kata Sutopo kepada Investortrust, Selasa (26/11/2024).
Baca Juga
Rosan akan Hilirisasi 28 Komoditas, Bidik BlackRock Berdana Kelolaan US$ 11 Trilliun
Ancam Tarif Impor Naik
Analis valas ini mengungkapkan, indeks dolar AS naik kembali di atas 107 pada Selasa (26/11/2024). Hal ini karena Presiden AS Terpilih Donald Trump memperkuat ancamannya untuk menaikkan tarif impor, khususnya pada barang asal Cina, Meksiko, dan Kanada, yang mendorong permintaan baru untuk dolar AS.
Trump menyatakan akan mengenakan tarif tambahan 10% pada semua barang Cina yang masuk ke AS, serta tarif 25% pada impor dari Meksiko dan Kanada. Indeks Trump tercatat juga mencalonkan manajer dana lindung nilai Scott Bessent sebagai menteri keuangan, yang memberikan pasar rasa stabilitas.
Baca Juga
Harga Emas Tertekan di Tengah Isyarat Gencatan Senjata Israel - Hizbullah
"Ke depan, investor sangat menantikan rilis risalah rapat FOMC terbaru, dan data inflasi PCE AS. Selain itu, data indikator ekonomi utama lainnya minggu ini, yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang sikap kebijakan moneter Federal Reserve," tandas Sutopo.

