Praktisi Sebut Literasi Kesehatan Sangat Penting untuk Antisipasi Overtreatment Kesehatan
SURABAYA, investortrust.id - Praktisi Medis dan Motivator Hidup Sehat Handrawan Nadesul mengungkapkan, saat ini sudah bukan jadi hal tabu bagi sejumlah rumah sakit (RS) untuk mengejar keuntungan, dengan mendorong praktik overtreatment atau pelayanan berlebih. Oleh karena itu, agar tak terjebak praktik “nakal”, pengetahuan masyarakat juga harus terus ditingkatkan.
Menurutnya, sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, salah satunya dengan menggenjot literasi agar nantinya punya bahan diskusi dengan dokter dan tidak terkena overtreatment.
“Sebagai negara berkembang, Indonesia kalah dengan Malaysia karena mereka lebih terdidik, dan luas wawasannya. Sehingga lebih kritis,” ujar Handrawan dalam Investortrust Power Talk bertema ‘Fraud di Layanan Kesehatan, Bagaimana dengan Perlindungan Konsumen/Pasien?’, yang digelar di Vasa Hotel, Surabaya, Rabu (14/8/2024).
Baca Juga
Kesenjangan Pengetahuan antara Dokter dengan Pasien Picu Timbulnya Overtreatment Kesehatan
Hal ini diperparah dengan sejumlah oknum dokter dan oknum RS yang “nakal” yang ada di dalam negeri. Namun begitu, lanjut Handrawan, oknum-oknum tersebut tidak bisa sepenuhnya untuk disalahkan karena industrial medical complex sudah merajai Indonesia.
“Kita sudah 10 tahun menerima kesehatan sebagai industri, artinya rumah sakit juga industri kesehatan, maka tidak salah kalau dia (RS) berhitung melaba, berhitung untuk profit” katanya.
Sebab bagaimanapun, investasi yang dikeluarkan untuk suatu alat penunjang di RS tidak murah. Contohnya, suatu alat dibeli oleh suatu RS dengan nilai investasi mencapai Rp 20 miliar, maka akan dihitung per harinya berapa pendapatan yang akan diterima dari alat tersebut, sampai benar-benar menutupi nilai investasi sebelumnya.
Baca Juga
Masalah Klasik, Overtreatment dan Fraud di Layanan Kesehatan Justru Rugikan Pasien
“Jadi kalau belum tercapai, satu hari mesti 10 pasien, dia kejar hari itu 10 pasien. Yang tidak perlu pun diperkisa. Saya tidak salahkan, karena dia (RS) berinvestasi,” ucap Handrawan.
Dari contoh tersebut, seharusnya yang disalahkan adalah pasien karena menerima apa saja yang dianjurkan tanpa bertanya secara kritis mengenai fungsi penggunaan alat tersebut untuk kesehatannya pribadi.

