Selat Hormuz Menjadi Topik Alot dalam Perundingan di Islamabad
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance kini sedang duduk satu meja dalam perundingan langsung yang disebut bersejarah di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/04/2026). Pembicaraan ini menjadi kontak tatap muka tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak putusnya hubungan diplomatik pasca Revolusi Islam 1979. Keamanan di Selat Hormuz menjadi topik alot dalam perundingan.
Berdasarkan laporan Al Jazeera yang dipublikasikan 11 April 2026, perundingan trilateral yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan itu difokuskan pada upaya memperkuat gencatan senjata yang masih rapuh setelah enam pekan konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Delegasi Amerika dipimpin Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya telah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Di pihak Iran, delegasi dihadiri Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang juga melakukan pertemuan awal dengan Sharif.
Pemerintah Pakistan menyatakan berperan aktif memfasilitasi dialog langsung antara Washington dan Teheran sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik yang telah mengguncang stabilitas global, terutama pasar energi. Perundingan ini dipandang sebagai momen penting dalam diplomasi global. Namun, sejumlah analis menilai bahwa pembicaraan tersebut masih dibayangi ketidakpercayaan mendalam antara kedua negara.
Baca Juga
Trump Desak Iran Bernegosiasi, AS–Iran Memulai Pembicaraan Damai di Pakistan
Dalam analisis yang dikutip BBC (11 April 2026), koresponden internasional Lyse Doucet menyebut bahwa pertemuan antara Vance dan Ghalibaf akan menjadi simbol diplomasi baru, tetapi tidak serta-merta meredakan hubungan yang telah lama bermusuhan. Ia menegaskan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat sangat kecil, mengingat gencatan senjata dua pekan yang disepakati sebelumnya telah diwarnai pelanggaran sejak awal. Bahkan hingga menjelang perundingan, Iran sempat memberi sinyal tidak pasti soal kehadirannya, sementara Israel tetap melanjutkan serangan di Lebanon.
Namun, di tengah proses diplomasi, eskalasi di lapangan belum menunjukkan tanda mereda. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel pada Rabu (09/04/2026) meningkat menjadi sedikitnya 357 orang, dan masih berpotensi bertambah seiring proses identifikasi korban.
Sementara itu, kontak diplomatik lain mulai terbuka. Menurut laporan yang sama, duta besar Lebanon dan Israel di Amerika Serikat telah melakukan komunikasi langsung melalui sambungan telepon —yang disebut sebagai kontak pertama yang dilaporkan antara kedua negara— menjelang rencana pembicaraan gencatan senjata di Washington pekan depan.
Perundingan di Islamabad menjadi titik awal penting, tetapi masih jauh dari solusi final. Sejumlah isu mendasar —mulai dari program nuklir Iran, sanksi ekonomi, Sekat Hormuz, hingga konflik di Lebanon— masih menjadi ganjalan utama.
Dengan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan, proses diplomasi ini diperkirakan akan berlangsung panjang dan penuh ketegangan. Namun, dimulainya dialog langsung tetap menjadi sinyal bahwa kedua pihak, setidaknya untuk saat ini, memilih jalur diplomasi untuk menahan eskalasi konflik yang lebih luas.
Hormuz dan Ancaman Baru
Presiden AS Donald Trump juga mengklaim bahwa ancaman utama Iran saat ini berada di Selat Hormuz, berupa ranjau laut yang disebut telah ditempatkan oleh kapal Iran. Dalam pernyataannya di platform Truth Social pada 11 April 2026, Trump menyatakan AS telah memulai operasi pembersihan jalur tersebut demi menjaga keamanan pelayaran global.
Ia bahkan menyindir negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, dan Jerman yang dinilai tidak memiliki “keberanian” untuk melakukan langkah serupa.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap sejumlah negara besar dunia yang dinilai tidak memiliki “keberanian” untuk ikut mengamankan Selat Hormuz, jalur vital energi global yang tengah terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Dalam pernyataannya di platform Truth Social pada Sabtu (11/4/2026), Trump menyebut Amerika Serikat telah memulai proses pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz “sebagai bantuan bagi negara-negara di seluruh dunia”, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Jerman, dan negara lainnya. Ia menuding negara-negara tersebut tidak memiliki “courage or will” untuk melakukan langkah serupa.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, sekaligus beriringan dengan dimulainya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, yang juga digelar pada 11 April 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint paling strategis di dunia, dilalui sekitar 20% hingga sepertiga perdagangan minyak global. Gangguan di jalur ini dalam beberapa pekan terakhir telah memicu lonjakan harga energi dan menekan stabilitas ekonomi global.
Laporan The Guardian (11 April 2026), mengutip pejabat Amerika Serikat, menyebut Iran diduga tidak mampu menemukan kembali ranjau laut yang mereka pasang sendiri di perairan tersebut. Ranjau itu disebut ditempatkan secara tidak teratur tanpa penandaan yang jelas, sehingga memperumit upaya pembersihan dan memperlambat pembukaan kembali jalur pelayaran.
Kondisi ini membuat pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu tuntutan utama Washington dalam negosiasi damai dengan Teheran. Penutupan de facto jalur tersebut bahkan disebut sebagai pemicu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Perbedaan Pendekatan Global
Meski sangat bergantung pada jalur Hormuz untuk pasokan energi, negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa memilih tidak terlibat langsung dalam operasi militer di kawasan tersebut.
Baca Juga
Vance Bertolak ke Pakistan, Perundingan AS-Iran Dibayangi Serangan Israel dan Mandeknya Hormuz
Sejumlah analis menilai sikap ini lebih mencerminkan kehati-hatian strategis ketimbang ketidakpedulian. Operasi pembersihan ranjau di wilayah konflik bukan sekadar misi teknis, melainkan berisiko tinggi memicu konfrontasi langsung dengan Iran.
Selain itu, banyak negara memilih pendekatan diplomatik untuk meredakan ketegangan, termasuk mendorong perundingan damai antara Washington dan Teheran yang kini berlangsung di Pakistan. Namun, bagi Trump, sikap tersebut tetap dianggap sebagai bentuk ketidaksiapan untuk menanggung risiko global.
Pernyataan Trump kembali menyoroti isu lama mengenai pembagian beban keamanan global. Amerika Serikat selama ini memainkan peran dominan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, termasuk di kawasan Teluk.
Kritik terhadap sekutu dan mitra dagang yang dianggap “menumpang” pada kekuatan militer AS bukan hal baru dalam kebijakan luar negeri Trump. Namun, pernyataan terbaru ini muncul dalam konteks yang lebih sensitif, yakni saat dunia menghadapi ketidakpastian energi dan eskalasi konflik bersenjata.
Di sisi lain, perundingan damai AS–Iran di Islamabad menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada satu faktor kunci: pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan aman. Selama jalur tersebut masih terganggu —baik karena ranjau maupun ketegangan militer— maka stabilitas energi global tetap berada dalam bayang-bayang krisis. (Sumber: Al Jazeera, BBC News, The Guardian, The New York Times)

