Trump Desak Iran Bernegosiasi, AS–Iran Memulai Pembicaraan Damai di Pakistan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekan Iran untuk segera bernegosiasi, di tengah dimulainya pembicaraan damai yang dinilai krusial di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/04/2026). Pernyataan Trump muncul saat delegasi kedua negara bersiap memulai perundingan yang disebut-sebut sebagai “make or break negotiation” bagi masa depan konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan BBC yang dipublikasikan pada 11 April 2026, Trump menyatakan bahwa satu-satunya alasan Iran masih “bertahan” adalah untuk masuk ke meja perundingan. Pernyataan keras ini menegaskan posisi Washington yang tetap menekan Teheran, meskipun secara formal kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance telah tiba di Islamabad untuk memimpin delegasi Amerika. Dalam pernyataannya sebelum perundingan, Vance menyebut pihaknya siap bekerja sama dengan Iran jika menunjukkan “itikad baik”, namun memperingatkan bahwa AS tidak akan kompromi jika Iran mencoba mempermainkan proses diplomasi.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif 50% kepada Semua Negara Pemasok Senjata ke Iran, Tanpa Pengecualian
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa para negosiator Teheran telah lebih dulu tiba di Pakistan menjelang pembicaraan akhir pekan ini. Pertemuan ini menjadi momentum penting karena berpotensi menjadi kontak langsung tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak hubungan diplomatik terputus pasca Revolusi Islam 1979.
Koresponden internasional BBC, Lyse Doucet, dalam laporan yang sama menilai bahwa jika pertemuan antara Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf benar-benar terjadi, maka itu akan menjadi momen bersejarah. Namun, ia menekankan bahwa pertemuan tersebut tidak serta-merta menghilangkan ketegangan panjang antara kedua negara.
Doucet juga menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat sangat kecil, mengingat gencatan senjata dua pekan yang diumumkan sebelumnya sudah diwarnai pelanggaran sejak awal. Bahkan hingga menjelang perundingan, masih terdapat ketidakpastian apakah Iran akan benar-benar hadir, sementara Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon.
Agenda Berat
Menurut laporan Sky News yang juga terbit pada 11 April 2026, sejumlah isu utama akan menjadi fokus pembicaraan. Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan pembukaan kembali asetnya yang dibekukan, sementara AS mensyaratkan konsesi terkait program nuklir dan pengembangan rudal Teheran.
Selain itu, Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—menjadi salah satu titik krusial. Iran menginginkan pengakuan atas otoritasnya di kawasan tersebut, termasuk kemungkinan penerapan biaya bagi kapal yang melintas. Sebaliknya, AS menuntut jalur tersebut tetap terbuka tanpa hambatan bagi tanker minyak global.
Isu lain yang turut mengemuka adalah tuntutan Iran atas kompensasi kerusakan akibat perang, serta permintaan penarikan pasukan AS dari kawasan Timur Tengah. Namun, Washington menegaskan tidak akan menarik kekuatan militernya sebelum tercapai kesepakatan damai yang komprehensif.
Menjelang dimulainya pembicaraan, sempat muncul laporan dari sumber Iran yang menyebut AS telah menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan. Namun, Gedung Putih langsung membantah klaim tersebut dan menegaskan belum ada kesepakatan apa pun terkait isu itu.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang turut menerima delegasi AS, menyatakan harapannya agar perundingan ini menjadi langkah awal menuju perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.
Baca Juga
Paus Leo: Tidak Bisa Diterima, Ancaman Presiden Trump Hancurkan Peradaban Iran
Lebanon, Faktor Pengganjal
Di luar isu utama AS–Iran, konflik di Lebanon juga menjadi variabel yang memperumit negosiasi. Iran menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai prasyarat perundingan, sementara AS dan Israel menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Pejabat Lebanon bahkan menyebut delegasi mereka akan bertemu dengan pihak Israel di Washington pada Selasa mendatang untuk membahas kemungkinan gencatan senjata terpisah.
Dengan berbagai perbedaan mendasar yang masih menganga, pembicaraan damai di Pakistan diperkirakan akan berlangsung alot. Meski demikian, dimulainya dialog langsung ini tetap dipandang sebagai langkah penting untuk meredam konflik yang telah mengguncang pasar global, terutama sektor energi dan keuangan.

