Wall Street Mayoritas Melemah di Tengah Rapuhnya Gencatan Senjata AS-Iran, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS Sebagian besar melemah pada perdagangan Jumat atau Sabtu (11/4/2026). Indeks S&P 500 turun 0,11% ke level 6.816,89. Dow Jones Industrial Average melemah 269,23 poin atau 0,56% ke 47.916,57. Sedangkan, Nasdaq Composite naik 0,35% menjadi 22.902,89, didorong penguatan saham semikonduktor seperti Nvidia dan Broadcom.
Baca Juga
Wall Street Menguat, Investor Berharap Gencatan Senjata AS-Iran Dapat Bertahan
Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis, namun tetap membukukan kinerja mingguan terbaik sejak November 2025.
Secara mingguan, S&P 500 melonjak sekitar 3,6%, Nasdaq menguat 4,7%, dan Dow Jones naik 3%—menandai performa terbaik ketiga indeks sejak November. Investor masih berharap terhadap gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen pasar masih dipengaruhi dinamika geopolitik. Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melakukan “pemerasan jangka pendek terhadap dunia” melalui jalur pelayaran internasional, khususnya terkait Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan agar Iran tidak membebankan biaya pada kapal tanker minyak yang melintas.
Harga minyak bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian pembukaan kembali jalur tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) akhirnya turun 1,33% ke US$96,57 per barel, sementara Brent turun 0,75% ke US$95,20.
Di sisi makroekonomi, inflasi tetap menjadi perhatian utama. Data indeks harga konsumen (CPI) Maret menunjukkan inflasi naik 0,9% secara bulanan dan 3,3% tahunan, sejalan dengan ekspektasi pasar, didorong lonjakan harga energi sebesar 10,9%.
Baca Juga
Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan energi dan pangan tetap terkendali, naik hanya 0,2% bulanan dan 2,6% tahunan—di bawah perkiraan.
Meski demikian, ekspektasi inflasi meningkat. Survei University of Michigan menunjukkan konsumen memperkirakan inflasi mencapai 4,8% dalam setahun ke depan.
Chief Investment Officer Orion, Tim Holland, menilai The Fed kemungkinan akan mengabaikan lonjakan inflasi jangka pendek selama konflik mereda. “The Fed akan melakukan segala daya upaya untuk mengabaikan data apa pun yang didapatnya untuk bulan Maret dan April,” kata Tim Holland, kepala investasi di Orion, seperti dikutip CNBC. Itu dengan asumsi “ada jalan keluar antara AS, Israel, dan Iran.”
Namun ia memperingatkan, jika harga minyak tetap tinggi mendekati US$100 per barel hingga pertengahan tahun, dampak inflasi bisa menjadi lebih serius bagi ekonomi.

