Vance Bertolak ke Pakistan, Perundingan AS-Iran Dibayangi Serangan Israel dan Mandeknya Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomatik baru untuk mengakhiri perang Iran memasuki babak krusial setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bertolak ke Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/04/2026) waktu setempat untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (11/4/2026). Namun, agenda damai itu datang di tengah situasi yang masih rapuh: Israel terus menggempur Lebanon, sementara lalu lintas di Selat Hormuz belum pulih normal meski gencatan senjata AS-Iran secara formal masih berlaku.
Mengutip laporan langsung Al Jazeera berjudul Iran war live: Vance departs for talks in Pakistan, as Israel bombs Lebanon yang tayang pada 10 April 2026, Vance berangkat ke Islamabad dengan nada optimistis. Dalam laporan terpisah Al Jazeera yang juga terbit 10 April 2026, Vance mengatakan perundingan itu berpotensi menghasilkan perkembangan “positif”, seraya menegaskan pemerintahan Presiden Donald Trump telah memberi pedoman yang jelas untuk negosiasi. Di saat bersamaan, media AS melaporkan Vance juga memperingatkan Teheran agar tidak mencoba “mempermainkan” Washington dalam perundingan damai tersebut.
Baca Juga
Akan tetapi, jalur diplomasi itu dibayangi eskalasi militer di Lebanon. Al Jazeera melaporkan bahwa menjelang perundingan Islamabad, Israel tetap membombardir Lebanon setelah serangan nasional pada Rabu (8/4/2026) menewaskan sedikitnya 300 orang dan melukai 1.150 lainnya. Associated Press, dalam liputan langsungnya pada 10 April 2026, juga melaporkan serangan Israel pada Rabu menewaskan sedikitnya 203 orang dan melukai lebih dari 1.000 orang menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Perbedaan angka ini menunjukkan korban masih terus diperbarui di tengah situasi lapangan yang sangat dinamis.
Tekanan kemanusiaan di Lebanon pun memburuk. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 9 April 2026 meminta Israel mencabut perintah evakuasi paksa di area Jnah, Beirut, yang mencakup dua rumah sakit rujukan utama. Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui ReliefWeb, WHO mengingatkan sistem kesehatan Lebanon sedang kewalahan menangani korban serangan dan tidak memiliki fasilitas alternatif memadai untuk memindahkan ratusan pasien, termasuk pasien perawatan intensif.
Di sisi diplomatik, Iran juga menaikkan tekanannya. Reuters melaporkan pada 10 April 2026 bahwa Teheran menuntut dua prasyarat sebelum perundingan damai dapat benar-benar berjalan, yakni gencatan senjata harus berlaku di Lebanon dan aset-aset Iran yang diblokir harus dicairkan. Sikap itu melempar keraguan pada menit-menit terakhir terhadap pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung Sabtu di Pakistan. Dalam laporan Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyindir bahwa bila AS memilih terus membiarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “membunuh diplomasi” dengan tidak mematuhi gencatan senjata, maka itu adalah pilihan Washington sendiri.
Sementara itu, posisi Israel terhadap Lebanon tetap keras. Reuters melaporkan pada 9-10 April 2026 bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan dimulainya negosiasi langsung dengan Lebanon “sesegera mungkin”. Namun, berbagai laporan media Barat menegaskan langkah diplomatik itu tidak disertai penghentian operasi militer terhadap Hezbollah. Dengan kata lain, pembicaraan politik dibuka, tetapi tekanan militer tetap berjalan. Kondisi inilah yang membuat gencatan senjata regional terlihat makin rapuh.
Ketegangan itu juga tercermin dari belum pulihnya Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. CBS News melaporkan pada 10 April 2026, mengutip pejabat Gedung Putih, bahwa arus kapal yang melintasi Hormuz baru sekitar 10% dari kecepatan normal. Dalam dua hari pertama setelah kesepakatan gencatan senjata, hanya sekitar selusin kapal yang melintas, jauh di bawah pola normal sebelum perang. Kondisi ini memperkuat penilaian bahwa kepercayaan pasar belum pulih, sekaligus menjelaskan mengapa harga minyak kembali menguat.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak 4% Setelah Vance Sebut Iran Abaikan Tuntutan AS
NBC News dalam pembaruan langsungnya pada 10 April 2026 juga menekankan bahwa Hormuz praktis masih tersendat, hanya sedikit kapal yang berani melintas, sementara Presiden Donald Trump menuduh Iran tidak menjalankan kewajibannya membuka kembali jalur perdagangan strategis itu. Di saat yang sama, pertukaran serangan baru antara Israel dan Hezbollah semakin menekan prospek keberhasilan gencatan senjata menjelang perundingan Islamabad.
Artinya, perundingan AS-Iran di Pakistan bukan dimulai dari situasi yang tenang, melainkan dari medan yang masih penuh ketidakpastian. Secara formal, jalur diplomasi memang bergerak. Vance sudah berangkat, Pakistan membuka ruang mediasi, dan kedua pihak bersiap duduk di meja perundingan. Namun, secara substantif, serangan Israel ke Lebanon, tuntutan baru dari Iran, tekanan kemanusiaan di Beirut, dan lalu lintas Hormuz yang masih tersendat menunjukkan bahwa perdamaian masih jauh dari aman. Untuk pasar global, terutama energi, pesan yang muncul sangat jelas: risiko geopolitik belum reda, dan hasil perundingan Islamabad akan menjadi penentu penting arah krisis berikutnya.

