Lalu Lintas Tanker di Selat Hormuz Belum Pulih, Pasokan Energi Terganggu, Harga Minyak Naik Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz diperkirakan belum akan kembali normal dalam waktu dekat, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan. Para pelaku industri pelayaran dan analis maritim menilai gangguan terhadap jalur energi paling strategis dunia itu masih akan berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Harga minyak mentah yang sempat turun, kini kembali melembung.
Laporan CNBC yang dipublikasikan pada Kamis (09/04/2026) —diperbarui sekitar satu jam setelahnya—, menyebutkan bahwa gencatan senjata yang rapuh belum cukup memulihkan kepercayaan operator kapal untuk kembali melintasi Selat Hormuz secara normal. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian keamanan serta eskalasi konflik di kawasan, termasuk serangan Israel ke Lebanon yang memicu kekhawatiran runtuhnya kesepakatan damai.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata bergantung pada “pembukaan penuh, segera, dan aman” Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Wakil Presiden JD Vance juga menegaskan Iran telah menyetujui pembukaan jalur tersebut. Namun, Teheran menekankan bahwa pembukaan itu bersifat kondisional, bergantung pada koordinasi militer dan keterbatasan teknis di lapangan.
Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan lalu lintas kapal masih sangat terbatas, dengan hanya empat kapal yang tercatat melintas pada Rabu, 8 April 2026. Sementara itu, platform pelacakan kapal MarineTraffic melaporkan lebih dari 400 kapal tanker bermuatan minyak serta puluhan kapal LNG dan LPG masih tertahan di luar Teluk Persia, menunggu kepastian keamanan untuk melintas.
Bahkan, sejumlah kapal memilih mematikan transponder mereka guna menghindari potensi serangan, sehingga volume lalu lintas riil kemungkinan lebih tinggi, tetapi tetap jauh di bawah level sebelum perang. Banyak kapal juga masih menggunakan rute alternatif di sekitar Pulau Larak untuk meminimalkan risiko.
Perusahaan riset maritim Windward mencatat bahwa ketidakjelasan terkait kondisi transit, skema biaya, serta kerangka hukum pelayaran menjadi faktor utama yang menahan pemilik kapal untuk kembali beroperasi di jalur tersebut. Windward juga menilai Iran kemungkinan tidak akan melepaskan kendali strategisnya atas Selat Hormuz selama masa negosiasi berlangsung.
Kepala komunikasi perusahaan pelayaran global Hapag-Lloyd, Nils Haupt, mengatakan industri pelayaran masih membutuhkan waktu panjang untuk kembali normal. “Kembali ke kondisi normal bagi industri kami masih membutuhkan waktu berminggu-minggu,” ujarnya kepada CNBC pada 9 April 2026. Ia menambahkan bahwa perusahaannya saat ini masih menahan diri untuk melintasi Selat Hormuz berdasarkan penilaian risiko terbaru.
Hal senada disampaikan Maersk yang menyatakan bahwa gencatan senjata belum memberikan kepastian penuh bagi aktivitas pelayaran. Perusahaan masih perlu memahami seluruh syarat dan risiko yang melekat sebelum kembali beroperasi normal di kawasan tersebut.
Para analis juga membandingkan situasi ini dengan gangguan di Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi di Yaman pada 2025. Menurut Nikos Petrakakos dari Tufton Investment Management, meskipun gencatan senjata telah tercapai saat itu, lalu lintas kapal belum sepenuhnya pulih hingga kini. “Selama masih ada ancaman serangan, itu saja sudah cukup untuk menahan kapal. Tidak perlu serangan nyata,” ujarnya.
Meski demikian, analis Kpler Panagiotis Krontiras menilai pemulihan di Selat Hormuz berpotensi lebih cepat dibanding Laut Merah karena keterbatasan jalur alternatif. Jika di Laut Merah kapal masih bisa dialihkan melalui Tanjung Harapan, opsi di Selat Hormuz jauh lebih terbatas dan sebagian besar bergantung pada jalur pipa.
Baca Juga
Iran Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam
Harga Minyak Naik Lagi
Di sisi harga energi, minyak mentah Brent dan WTI tercatat turun ke kisaran US$97 per barel setelah sempat mendekati US$110 sebelum pengumuman gencatan senjata pada 8 April 2026. Namun, harga tersebut masih jauh di atas level pra-perang sekitar US$70 per barel, mencerminkan premi risiko yang masih tinggi akibat gangguan pasokan.
Analis Aberdeen Investments, Ray Sharma-Ong, menegaskan bahwa disrupsi fisik dan logistik tidak akan hilang dalam waktu singkat. Selain itu, biaya pelayaran meningkat akibat premi asuransi risiko perang dan kebutuhan penimbunan stok global.
Sejumlah laporan senada dari Reuters dan Bloomberg pada periode 8–9 April 2026 juga menyoroti bahwa pasar energi global masih berada dalam kondisi rapuh. Kedua media tersebut mencatat bahwa meskipun ada penurunan harga minyak pasca-gencatan senjata, ketidakpastian di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang menjaga volatilitas harga dan membebani rantai pasok energi dunia.
Dengan demikian, meski ada secercah harapan dari kesepakatan sementara antara AS dan Iran, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan penuh Selat Hormuz masih jauh dari tercapai. Ketidakpastian keamanan, faktor teknis, dan kalkulasi risiko pelaku industri menjadi penentu utama kapan jalur energi vital ini benar-benar kembali normal.
Harga minyak mentah dunia, baik Brent maupun West Texas Intermediate (WTI), dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas ekstrem seiring perkembangan konflik AS–Iran dan ketidakpastian di Selat Hormuz. Pada Kamis, 9 April 2026, harga Brent tercatat mendekati US$98–99 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$91–92 per barel, setelah sempat melonjak hampir 4–5% dalam satu hari akibat gangguan lalu lintas energi global .
Kenaikan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya pasar mengalami koreksi tajam. Pada 8 April 2026, harga Brent sempat anjlok sekitar 13–15% ke kisaran US$94–95 per barel, sementara WTI juga turun signifikan, dipicu pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat meredakan kekhawatiran pasokan .
Namun, rebound cepat harga minyak menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap stabilitas situasi. Ketidakpastian implementasi gencatan senjata, serta fakta bahwa Selat Hormuz—jalur sekitar 20% pasokan energi dunia—masih belum sepenuhnya terbuka, membuat premi risiko tetap tinggi dan menjaga harga minyak bertahan di level elevated .
Secara tren lebih luas, sejak awal April 2026, harga minyak sempat menyentuh level sangat tinggi, bahkan Brent pernah melampaui US$109–111 per barel dan WTI menembus US$111 per barel saat eskalasi perang memuncak. Bahkan pada Maret 2026, Brent sempat mencapai puncak sekitar US$126 per barel, mencerminkan salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern .
Ke depan, lembaga keuangan global memperkirakan harga minyak masih akan bertahan di atas level pra-perang. Goldman Sachs, misalnya, memproyeksikan Brent sekitar US$90 per barel dan WTI US$87 pada kuartal II-2026 dalam skenario dasar, namun bisa kembali menembus US$100 bahkan hingga US$115 jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut atau konflik kembali memanas

