Iran Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ujung tanduk setelah serangan besar-besaran Israel ke Lebanon memicu kecaman keras dari Teheran. Eskalasi terbaru ini menimbulkan keraguan serius terhadap keberlanjutan kesepakatan damai yang baru berjalan beberapa hari. AS dan Israel menolak anggapan bahwa gencatan senjata AS dan Iran juga mencakup Lebanan.
Dalam laporan langsung Al Jazeera yang diterbitkan hari Kamis (09/04/2026), disebutkan bahwa serangan Israel pada Rabu, 8 April 2026, menewaskan sedikitnya 200 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya dalam satu hari di Lebanon. Pemerintah Lebanon bahkan menetapkan hari berkabung nasional menyusul tingginya korban sipil.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata antara Teheran dan Washington. Ia menyatakan bahwa tindakan itu dapat membuat proses negosiasi menjadi tidak bermakna. “Kami tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon,” tegasnya.
Baca Juga
AS Ancam Aksi Militer Baru di Iran, Gencatan Senjata Sangat Rapuh
Namun, baik Amerika Serikat maupun Israel menolak anggapan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan bahwa seluruh kekuatan militer AS tetap siaga di sekitar Iran hingga kesepakatan “yang sebenarnya” benar-benar dipatuhi. Ia juga memperingatkan kemungkinan konflik lanjutan jika syarat tersebut tidak terpenuhi.
Laporan senada dari NBC News yang diperbarui pada 9 April 2026 pukul 10.08 EDT menyebutkan bahwa serangan Israel telah “mengguncang” gencatan senjata AS-Iran. Iran menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran serius” dan memperingatkan akan adanya “respons kuat”.
NBC News juga mencatat bahwa meski tidak ada serangan baru di kawasan Teluk pada hari yang sama, ketegangan tetap tinggi. Jalur vital energi dunia di Selat Hormuz juga belum sepenuhnya kembali normal. Iran bahkan mengindikasikan kemungkinan penempatan ranjau laut di perairan tersebut, sambil menawarkan jalur alternatif bagi kapal yang melintas.
Di sisi diplomasi, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan damai di Pakistan. Ia menyebut isu Lebanon sebagai “kesalahpahaman yang sah” dan memperingatkan bahwa Iran akan merugi jika membiarkan negosiasi gagal hanya karena persoalan tersebut. Sementara itu, diplomat Iran di Islamabad sempat mengindikasikan kedatangan delegasi Teheran untuk melanjutkan perundingan, meski pernyataan tersebut kemudian dihapus.
Baca Juga
Paus Leo: Tidak Bisa Diterima, Ancaman Presiden Trump Hancurkan Peradaban Iran
Data korban juga menunjukkan besarnya skala konflik. Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, memperkirakan total korban tewas dalam konflik mencapai hampir 3.400 orang, termasuk lebih dari 1.600 warga sipil di Iran, lebih dari 1.700 korban di Lebanon, serta puluhan korban di Israel dan personel militer AS.
Selain itu, Al Jazeera juga melaporkan bahwa jaringan medianya mengecam keras tewasnya jurnalis mereka, Mohammed Wishah, di Gaza akibat serangan Israel, yang disebut sebagai “kejahatan keji”.
Dengan perkembangan ini, gencatan senjata AS-Iran tampak semakin rapuh. Selama konflik proksi di kawasan, terutama melalui Lebanon, terus berlanjut, peluang tercapainya perdamaian yang berkelanjutan semakin kecil, sementara risiko eskalasi perang regional tetap tinggi.

