Kapal Tanker Hadapi Ancaman di Selat Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lebih 4%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak melonjak lebih dari 4%. Para trader menimbang ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan pelepasan cadangan darurat bersejarah oleh International Energy Agency (IEA).
Minyak global Brent naik 4,76% dan ditutup pada US$91,98 per barel. Sedangkan, minyak mentah AS naik 4,55% dan berakhir pada US$87,25 per barel.
Baca Juga
Sempat Tembus US$ 120, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz
Harga minyak naik setelah beberapa kapal komersial diserang di lepas pantai Iran. Lalu lintas tanker dan kapal kargo melalui Selat Hormuz yang sangat penting mengalami gangguan parah akibat ancaman dari Iran.
Untuk mengatasi gangguan tersebut, negara-negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka, pelepasan terbesar dalam sejarah.
“Tantangan pasar minyak yang kita hadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala sebesar ini, oleh karena itu saya sangat senang negara-negara anggota IEA merespons dengan tindakan darurat kolektif dengan skala yang juga belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga
Atasi Gangguan Pasokan, IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Minyak Cadangan
“Pasar minyak bersifat global sehingga respons terhadap gangguan besar juga harus bersifat global. Keamanan energi adalah mandat utama IEA, dan saya senang anggota IEA menunjukkan solidaritas kuat dengan mengambil tindakan tegas bersama,” katanya.
Pada Selasa, harga minyak sempat turun drastis setelah unggahan di akun media sosial Menteri Energi AS Chris Wright secara keliru menyatakan bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah tanker melalui Selat Hormuz.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa Angkatan Laut AS “tidak mengawal tanker atau kapal mana pun saat ini”.
Serangan Kapal Berlanjut
Pada malam hari dilaporkan bahwa pasukan Amerika telah menenggelamkan beberapa kapal Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di dekat Selat Hormuz.
Pada Rabu pagi juga muncul tanda-tanda lain bahwa konflik semakin meningkat ketika United Kingdom Maritime Trade Operations mengatakan tiga kapal kargo di lepas pantai Iran terkena proyektil. Salah satu kapal tersebut diserang di Selat Hormuz.
Sementara itu, otoritas di Dubai mengatakan dua drone jatuh di sekitar Dubai International Airport pada Rabu, menyebabkan empat orang terluka. Wilayah udara di sekitar kota itu sempat ditutup sementara.
“Kami benar-benar berpikir faktor paling krusial tetaplah durasi perang, sehingga pelepasan cadangan IEA ini pada dasarnya hanya memberi waktu beberapa hari, tetapi pada akhirnya semuanya bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata analis pasar energi Sasha Foss dari Marex kepada CNBC.
“Konflik ini harus berakhir pada akhir pekan ini. Jika tidak, kita akan melihat harga minyak melonjak kembali di atas US$100,” kata Foss.
Pengamat pasar lainnya juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat mendorong harga minyak kembali melampaui ambang US$100.
“Jika ketegangan mereda dalam beberapa minggu mendatang, harga minyak bisa turun kembali … tetapi bahkan dalam skenario itu kecil kemungkinan harga kembali ke kisaran US$60–US$70 seperti yang terlihat awal tahun ini,” kata Paul Gooden dari Ninety One dalam catatan pada Selasa.
“Jika gangguan berlangsung lebih lama, konsekuensinya akan semakin besar. Harga minyak bisa melonjak lebih jauh — berpotensi di atas US$120 atau bahkan lebih tinggi — sampai harga yang lebih tinggi mulai menekan permintaan.”

