Firma Riset Wall Street Kirim Analis ke Selat Hormuz, Laporannya Mengejutkan!
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Di tengah ketidakpastian global terkait nasib Selat Hormuz, sebuah firma riset Wall Street, Citrini Research, mengambil langkah yang tidak biasa: mengirim analis langsung ke zona konflik.
Saat pelaku pasar mengandalkan citra satelit dan pernyataan resmi, firma tersebut mengeklaim telah menempatkan seorang analis di Semenanjung Musandam, Oman, untuk mengamati langsung aktivitas pelayaran di salah satu jalur energi paling vital dunia.
Baca Juga
Teheran Tolak Ultimatum Trump, Serangan Infrastruktur Iran Bisa Menjadi Kenyataan
Hasilnya mengejutkan. Bertolak belakang dengan narasi dominan bahwa Selat Hormuz praktis tertutup, analis tersebut menemukan bahwa kapal masih melintas—meski dalam jumlah terbatas. Lalu lintas tercatat sekitar 15 kapal per hari dalam beberapa hari terakhir.
Meski jauh di bawah tingkat normal, temuan ini menunjukkan bahwa gangguan bersifat parsial dan dinamis, bukan penutupan total.
Menurut laporan yang dipublikasikan di Substack, beberapa kapal tanker bahkan melintas tanpa mengaktifkan sistem pelacakan AIS (Automatic Identification System), sehingga tidak terdeteksi dalam data resmi.
AIS sendiri merupakan sistem pelacakan yang menyiarkan lokasi, kecepatan, identitas, dan rute kapal. Namun dalam situasi konflik, banyak kapal mematikan transponder untuk menghindari deteksi.
“Volume sebenarnya lebih tinggi dari data yang terlihat, dan meningkat dalam beberapa hari terakhir,” tulis Citrini, seperti dikutip CNBC.
Berdasarkan wawancara dengan nelayan, penyelundup, dan pejabat lokal, Iran disebut menerapkan sistem selektif dalam mengizinkan kapal melintas. Kapal tanker harus mendapatkan persetujuan sebelum memasuki perairan tertentu.
Baca Juga
Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Artinya, yang terjadi bukanlah blokade penuh, melainkan semacam “checkpoint fungsional” yang dikendalikan Iran.
Citrini menilai situasi ini tidak bisa disederhanakan menjadi dua skenario ekstrem—antara selat terbuka atau tertutup total.
Namun demikian, temuan ini masih bersifat anekdotal dan sulit diverifikasi secara independen, mengingat keterbatasan transparansi di kawasan tersebut.
Firma tersebut memperkirakan gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama, dengan premi risiko yang tertanam secara permanen di pasar minyak.
Citrini bahkan merekomendasikan eksposur pada kontrak minyak jangka panjang, seperti WTI Desember 2026, dengan proyeksi bahwa lalu lintas dapat pulih hingga 50% dalam 4–6 minggu ke depan.

