Teheran Tolak Ultimatum Trump, Serangan Infrastruktur Iran Bisa Menjadi Kenyataan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pemerintah Iran secara tegas menolak ultimatum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital negara itu jika Teheran tidak menerima kesepakatan damai dalam waktu 48 jam. Penolakan ini menandai semakin memanasnya konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam laporan yang dipublikasikan pada 4 April 2026, Al Jazeera menyebut bahwa komando militer pusat Iran mengecam ultimatum tersebut sebagai bentuk tekanan yang “lemah dan panik”. Pernyataan ini muncul setelah Trump memperingatkan bahwa “semua neraka akan turun” jika Iran tidak segera membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Ancaman tersebut disampaikan di tengah operasi militer yang terus berlangsung. Hingga Sabtu (4/4/2026), pencarian awak pesawat tempur Amerika Serikat yang jatuh di wilayah Iran masih berlanjut memasuki hari kedua, menyusul laporan bahwa jet tempur AS berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iran.
Baca Juga
Trump Ultimatum Iran: Membuka Selat Hormuz dalam 24 Jam atau “Neraka Turun dari Langit”
Sementara itu, serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas energi Iran. Menurut Al Jazeera, sedikitnya lima orang tewas dalam serangan terhadap fasilitas petrokimia, sementara satu korban jiwa dilaporkan dalam serangan di sekitar fasilitas nuklir Bushehr.
Informasi senada juga disampaikan oleh Reuters pada 4 April 2026, yang melaporkan meningkatnya intensitas serangan terhadap target strategis Iran serta eskalasi retorika antara Washington dan Teheran. Reuters menyoroti bahwa ancaman Trump terhadap infrastruktur energi dan listrik Iran meningkatkan kekhawatiran akan perluasan konflik ke target-target sipil yang lebih luas.
Di sisi lain, BBC dalam laporan pada tanggal yang sama juga mencatat bahwa situasi di kawasan Teluk semakin tidak stabil, dengan meningkatnya aktivitas militer dan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global. Ancaman terhadap Selat Hormuz —yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia—menjadi salah satu titik kritis dalam konflik ini.
Baca Juga
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, Washington juga mengambil langkah domestik dengan menangkap dan mencabut status izin tinggal tetap kerabat mendiang Komandan Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani. Namun, keluarga Soleimani membantah adanya hubungan dengan individu yang ditahan tersebut.
Penolakan Iran terhadap ultimatum AS sekaligus mempertegas bahwa jalur diplomasi masih menemui jalan buntu. Teheran memilih tetap melanjutkan perlawanan militer, sementara Washington meningkatkan tekanan dengan ancaman eskalasi lebih lanjut.
Dengan demikian, hingga 4 April 2026, konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebaliknya, kombinasi antara serangan militer yang terus berlangsung dan retorika keras dari kedua pihak menunjukkan bahwa perang masih berada dalam fase kritis di mana risiko eskalasi lebih luas tetap terbuka lebar.

