Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali naik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan ulang ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 0,78% ke level US$112,41 per barel pada Senin (6/4/2026). Sedangkan, minyak Brent sebagai acuan global menguat 0,68% ke US$109,77 per barel.
Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran harus mencakup kebebasan lalu lintas minyak global. Ia menetapkan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu AS bagi Iran untuk membuka kembali jalur vital tersebut.
“Kami harus memiliki kesepakatan yang dapat diterima, dan bagian dari itu adalah kebebasan arus minyak,” ujar Trump dalam konferensi pers.
Meski mengeklaim adanya itikad baik dari pihak Iran dalam negosiasi, Trump tetap melontarkan ancaman keras. Ia menyebut Amerika Serikat akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam waktu empat jam jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Penutupan Selat Hormuz—jalur yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global—telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
Serangan terhadap kapal tanker membuat jalur tersebut praktis tidak dapat dilalui, memicu lonjakan harga minyak mentah, bahan bakar jet, diesel, hingga bensin sejak konflik dimulai.
Menurut TD Securities, dunia berpotensi kehilangan hampir 1 miliar barel pasokan hingga akhir bulan ini, terdiri dari sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.
“Dengan konflik yang diperkirakan berlangsung setidaknya hingga April, tekanan terhadap pasokan semakin memburuk,” tulis Ryan McKay, analis komoditas senior TD Securities.
Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan total kehilangan bersih mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni, bahkan setelah memperhitungkan pengalihan distribusi dan pelepasan cadangan darurat.
Di sisi lain, aliansi OPEC+ telah sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai Mei. Namun, efektivitas langkah ini masih dipertanyakan selama Selat Hormuz tetap tertutup.
Baca Juga
OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Perusahaan energi Kuwait juga melaporkan serangan drone yang merusak fasilitas operasionalnya, menambah tekanan pada infrastruktur energi kawasan.
OPEC+ memperingatkan bahwa perbaikan fasilitas energi yang rusak memerlukan biaya besar dan waktu lama, sehingga berdampak pada ketersediaan pasokan global.

