Wall Street Terpukul Harga Minyak dan Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz, Dow Ambles Hampir 800 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada Jumat waktu AS atau Sabtu (29/3/2026) WIB. Indeks utama Wall Street terjun bebas di tengah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak global.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Berlanjut, Minyak Sentuh Level Tertinggi sejak 2022
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 793,47 poin atau 1,73% ke level 45.166,64, sekaligus resmi masuk ke wilayah koreksi. S&P 500 turun 1,67% ke 6.368,85—level terendah dalam tujuh bulan—dan Nasdaq Composite melemah 2,15% ke 20.948,36.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif pasar, dengan S&P 500 mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut. Nasdaq telah turun sekitar 13% dari rekor tertingginya pada Oktober, sedangkan Dow kini terkoreksi lebih dari 10% dari puncaknya.
Tekanan pasar dipicu lonjakan harga energi, di mana minyak Brent menembus US$112 per barel—level tertinggi sejak 2022—akibat gangguan di Selat Hormuz yang memperparah kekhawatiran pasokan global.
Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat untuk menyerang infrastruktur energi Iran hingga 6 April, sedikit lebih dari seminggu setelah tanggal target awal yang ditetapkan pada Jumat.
“Sesuai permintaan Pemerintah Iran, mohon pernyataan ini dianggap sebagai representasi bahwa saya menghentikan periode penghancuran Pabrik Energi,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social. “Pembicaraan sedang berlangsung dan, meskipun ada pernyataan keliru yang bertentangan dari Media Berita Palsu, dan pihak lainnya, semuanya berjalan sangat baik. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!”
Pengumuman tersebut merupakan sinyal terbaru bahwa pemerintahan Trump berupaya mengakhiri perang AS-Iran, sebuah konflik yang telah mendorong lonjakan harga minyak dan membebani konsumen di pompa bensin. Krisis ini dapat membuat Partai Republik kehilangan kursi dalam pemilu paruh waktu.
Baca Juga
Trump Tunda Lagi Tenggat Serangan ke Iran, Buka Ruang Negosiasi hingga 6 April 2026
Namun, ketidakpastian tetap ada bagi investor setelah menteri luar negeri Iran dilaporkan mengatakan kepada media pemerintah minggu ini bahwa Teheran tidak berniat mengadakan pembicaraan dengan AS, meskipun para pemimpinnya sedang meninjau proposal Amerika untuk mengakhiri perang. Selain itu, The Wall Street Journal melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, bahwa Pentagon mempertimbangkan untuk mengirim tambahan 10.000 pasukan ke Timur Tengah.
Garda Revolusi Iran kepada media pemerintah menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup. Garda Revolusi mengancam pergerakan melalui jalur air utama tersebut akan menghadapi respons keras. Dua kapal China ditolak untuk melintasi selat tersebut pada awal Jumat, dan sebuah kapal kargo berbendera Thailand yang sebelumnya terkena serangan di jalur tersebut telah kandas.
“Dengan perpanjangan tenggat oleh Trump, investor kini berada pada titik di mana mereka ingin melihat penyelesaian konflik benar-benar terwujud, bukan sekadar mendengar bahwa “mungkin” ada penyelesaian,” kata Jay Hatfield, pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, seperti dikutip CNBC.
Sebuah penyelesaian akan menjadi dorongan bagi pasar saham, yang telah anjlok sejak AS dan Israel menyerang infrastruktur energi Iran pada 28 Februari. Ketiga indeks utama masing-masing telah turun lebih dari 7% sejak awal bulan.
Semakin lama Selat ditutup, kata Hatfield, semakin buruk bagi pasar minyak. Kalau harga turun cukup banyak, masih akan ada masalah persediaan ketika Selat dibuka kembali. “Jika butuh satu bulan lagi untuk membuka kembali Selat, minyak mungkin akan bertahan di sekitar $80 untuk sementara waktu sampai kita dapat membangun kembali persediaan. Ini buruk jika tidak ada penyelesaian, bahkan jika ada jalur menuju penyelesaian,” tambahnya.

