Trump Ancam Serangan Baru ke Pulau Kharg, Tekan Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, sambil mendesak negara-negara sekutu untuk mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang vital bagi pasokan energi global.
Dalam laporan Reuters yang diterbitkan pada 15 Maret 2026, Trump mengatakan serangan militer AS sebelumnya telah “sepenuhnya menghancurkan” sebagian besar fasilitas di pulau tersebut. Ia bahkan menyatakan Washington dapat kembali menyerang lokasi yang sama.
“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News, seperti dikutip Reuters.
Pulau Kharg merupakan infrastruktur energi strategis bagi Iran karena menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut. Serangan terhadap fasilitas di pulau itu menandai eskalasi signifikan dalam perang yang kini telah memasuki minggu ketiga sejak dimulai pada 28 Februari 2026 oleh Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump juga meminta negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah untuk ikut menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Ia mengatakan negara-negara tersebut harus ikut bertanggung jawab menjaga jalur tersebut tetap terbuka.
“Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan Amerika Serikat akan membantu—dalam skala besar,” tulis Trump melalui media sosialnya.
Baca Juga
AS dan Israel Gempur Isfahan, Iran Balas Serang Israel dan Basis Militer AS
Namun hingga kini belum ada negara yang secara terbuka menyatakan akan memenuhi permintaan tersebut. Sejumlah sekutu AS justru mendorong pendekatan diplomatik, sementara pemerintahan Trump dilaporkan menolak upaya mediasi yang diajukan beberapa negara Timur Tengah untuk memulai perundingan.
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energinya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran akan merespons secara tegas jika infrastruktur minyak negara tersebut terus menjadi target militer.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap target di Israel serta tiga pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari tahap awal pembalasan.
Konflik tersebut telah memperluas dampaknya ke berbagai negara di kawasan Teluk. Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan 10 drone yang menuju wilayah Riyadh dan kawasan timur negara itu, meskipun Iran membantah terlibat dalam serangan tersebut.
Perang yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran juga mulai mengguncang pasar energi global. Gangguan pasokan minyak disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah modern pasar energi, sementara harga minyak dunia melonjak tajam di tengah kekhawatiran terhadap keamanan jalur ekspor.
Serangan drone terbaru bahkan memaksa beberapa operasi pemuatan minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab—salah satu pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia—untuk sementara dihentikan, menurut sumber industri dan perdagangan yang dikutip Reuters.
Baca Juga
Ancaman Iran Meluas, Trump Galang Koalisi Internasional Jaga Hormuz
Menurut laporan pemerintah dan media negara Iran, perang yang dimulai pada akhir Februari tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran, sementara serangan udara terbaru di kota Isfahan juga menewaskan sedikitnya 15 orang setelah sebuah pabrik menjadi sasaran serangan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bukan hanya konflik militer regional, tetapi juga krisis energi global yang berpotensi berkepanjangan.

