Diplomat Muslim Bertemu di Islamabad, Tekan Deeskalasi Perang Iran–AS–Israel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Upaya meredakan eskalasi perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah sejumlah negara kunci di dunia Islam menggelar pertemuan darurat di Islamabad, Pakistan.
Berdasarkan laporan langsung Al Jazeera yang dipublikasikan pada Minggu (29/3/2026), para menteri luar negeri dari Pakistan, Turki, Mesir, dan Arab Saudi bertemu untuk membahas langkah konkret menurunkan tensi konflik yang kian meluas di Timur Tengah.
Pertemuan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam negara-negara kawasan terhadap potensi meluasnya perang menjadi konflik regional berskala penuh, terutama setelah keterlibatan berbagai aktor non-negara dan meningkatnya serangan lintas batas dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga
AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Fokus Amankan Hormuz, Iran Melawan
Di tengah upaya diplomasi, situasi di lapangan justru semakin memanas. Al Jazeera (29/3/2026) melaporkan Iran mengancam akan melancarkan serangan balasan terhadap target Israel dan Amerika Serikat, termasuk universitas di kawasan Timur Tengah, sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas pendidikan di Iran.
Ledakan besar dilaporkan mengguncang Teheran, sementara korban jiwa dilaporkan terjadi di kota Shaft dan Bandar Khamir. Pada saat yang sama, serangan Iran juga menyebabkan kerusakan dan korban luka di Israel serta negara-negara Teluk.
Laporan senada dari Reuters (29/3/2026) menyebutkan sejumlah fasilitas industri strategis di kawasan Teluk ikut terdampak, termasuk milik Aluminium Bahrain dan Emirates Global Aluminium, menandai meluasnya sasaran serangan ke sektor ekonomi vital.
Konflik juga semakin kompleks dengan keterlibatan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Dalam perkembangan terbaru, kelompok tersebut meluncurkan serangan kedua menggunakan rudal dan drone ke Israel.
Juru bicara militer Houthi menegaskan serangan akan terus dilakukan hingga Israel menghentikan agresinya. Menurut laporan Reuters dan CNN (28–29/3/2026), keterlibatan Houthi membuka front baru yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, khususnya di Laut Merah.
Tekanan Publik Global Meningkat
Di luar medan perang, tekanan publik terhadap konflik ini juga meningkat. Demonstrasi menolak perang terjadi di Tel Aviv serta sejumlah kota besar di Amerika Serikat, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kemanusiaan dan ekonomi global.
Baca Juga
AS Siap Gelar Serangan Darat di Iran, Pasukan Mulai Dekati Teluk Persia
Di Lebanon, ribuan warga turun ke jalan di Beirut untuk memprotes serangan Israel yang menewaskan tiga jurnalis dalam serangan terarah—insiden yang menuai kecaman luas dari berbagai pihak internasional.
Meski pertemuan di Islamabad menunjukkan adanya upaya serius untuk menurunkan eskalasi, sejumlah analis menilai peluang deeskalasi dalam jangka pendek masih terbatas. Hal ini mengingat intensitas serangan militer justru meningkat di berbagai front, mulai dari Iran, Israel, Lebanon, hingga kawasan Teluk.
Dengan keterlibatan aktor negara dan non-negara yang semakin luas, konflik ini kini tidak hanya menjadi perang bilateral, tetapi berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar—dengan implikasi serius terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi global, termasuk pasar energi dan jalur perdagangan internasional.
Perkembangan situasi di lapangan masih sangat dinamis, dengan korban jiwa terus bertambah di berbagai wilayah, sebagaimana dipantau melalui laporan langsung Al Jazeera dan sumber-sumber internasional lainnya hingga Minggu (29/3/2026).
Mayoritas Negara Islam Tidak Dukung Iran
Di tengah meningkatnya eskalasi perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat, pertanyaan krusial muncul: apakah dunia Islam berada di belakang Iran? Fakta di lapangan menunjukkan jawabannya cenderung tegas: mayoritas negara Islam justru tidak mendukung Iran, bahkan sebagian secara terbuka mengecam dan berseberangan dengan Teheran.
Berdasarkan laporan berbagai sumber internasional, termasuk Reuters, The Wall Street Journal, dan dokumen diplomatik kawasan, peta sikap negara-negara Muslim terhadap konflik ini terfragmentasi, dengan blok terbesar berada di luar orbit Iran. Sinyal paling jelas terlihat dari pertemuan para menteri luar negeri negara-negara muslim di Riyadh pada pertengahan Maret 2026. Sedikitnya 12 negara Islam, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Yordania, Turki, hingga Pakistan secara bersama-sama mendesak Iran untuk menghentikan serangan militernya.
Tidak hanya itu, kelompok negara Arab utama juga mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan Iran. Enam negara Teluk —Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania— menyebut serangan Iran sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional, serta memperingatkan risiko eskalasi konflik regional.
Bahkan dalam perkembangan terbaru, sejumlah negara Teluk dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk lebih dekat ke posisi Amerika Serikat dan Israel jika ancaman Iran terhadap infrastruktur mereka terus berlanjut.
Di sisi lain, dukungan terhadap Iran datang dari jumlah yang lebih terbatas, baik dari negara maupun aktor non-negara. Beberapa negara seperti Malaysia menunjukkan sikap simpatik terhadap Iran, terutama dalam konteks mengecam serangan AS–Israel dan mendorong diplomasi damai. Namun, posisi ini lebih bersifat dukungan diplomatik dan kemanusiaan, bukan dukungan militer atau strategis penuh.
Dukungan yang lebih kuat justru datang dari jaringan proxy Iran di kawasan, seperti kelompok Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman, yang secara aktif terlibat dalam konflik. Namun, aktor-aktor ini bukan negara berdaulat dan tidak merepresentasikan mayoritas dunia Islam.
Negara Islam Jadi Target Iran
Ironisnya, sejumlah negara Islam justru menjadi korban langsung serangan Iran. Data konflik menunjukkan Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Uni Emirat Arab sejak akhir Februari 2026. Negara-negara tersebut mengecam keras serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan memperkuat pertahanan militernya.
Resolusi Dewan Keamanan PBB pada 11 Maret 2026 bahkan secara eksplisit mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Situasi ini membuat solidaritas berbasis agama semakin sulit terwujud, karena konflik berubah menjadi pertarungan antarnegara muslim itu sendiri.
Perpecahan ini tidak lepas dari rivalitas struktural antara Iran (Syiah) dan negara-negara Arab Teluk (Sunni), terutama Arab Saudi. Persaingan ini telah berlangsung lama dalam bentuk perang proxy di berbagai kawasan seperti Suriah dan Yaman.
Selain faktor ideologis, kepentingan geopolitik dan ekonomi juga memainkan peran besar. Negara-negara Teluk memiliki kepentingan menjaga stabilitas pasar energi dan keamanan domestik, sementara Iran menggunakan strategi tekanan regional untuk meningkatkan posisi tawarnya.
Dengan demikian, peta dukungan di dunia Islam terhadap konflik ini dapat diringkas sebagai berikut. Mayoritas negara Islam tidak mendukung Iran, bahkan banyak yang mengecam dan berseberangan. Sebagian kecil negara bersikap netral atau simpatik secara diplomatik. Dukungan kuat terhadap Iran lebih banyak datang dari proxy non-negara.
Baca Juga
Realitas ini menegaskan bahwa konflik Iran saat ini bukanlah perang antara “dunia Islam vs Barat”, melainkan konflik geopolitik kompleks di mana dunia Islam sendiri terpecah. Dalam konteks ini, upaya diplomasi seperti pertemuan di Islamabad atau Riyadh tetap penting, tetapi efektivitasnya akan terus dibatasi oleh perbedaan kepentingan yang mendasar di antara negara-negara muslim itu sendiri.

