Wall Street Terbang Setelah Ada Sinyal ‘Deeskalasi’ Perang Dagang AS-China, Dow Melejit 1.000 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat tajam pada Selasa waktu AS atau Rabu (23/4/2025) WIB. Ada harapan bahwa ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok bisa segera mereda, seiring para investor bangkit dari penurunan tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Baca Juga
Menkeu AS Sebut Kemungkinan ‘Deeskalasi’ Perang Tarif AS-China dalam Waktu Dekat
Dow Jones Industrial Average naik 1.016,57 poin, atau 2,66%, menjadi 39.186,98 pada penutupan. S&P 500 menguat 2,51% dan berakhir di 5.287,76, sementara Nasdaq Composite naik 2,71% menjadi 16.300,42.
Kenaikan tajam indeks-indeks utama dipicu oleh kabar bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada sekelompok investor akan ada “de-eskalasi” dalam perang dagang dengan Tiongkok. “Tak ada yang berpikir status quo saat ini bisa dipertahankan,” katanya dalam sebuah pertemuan dengan investor yang diselenggarakan oleh JPMorgan Chase, menurut seseorang yang hadir di ruangan tersebut. Pertemuan ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News.
Pada titik tertingginya, Dow sempat melonjak lebih dari 1.100 poin dalam sehari. Namun, saham-saham melandai dari level tersebut setelah Bessent juga mencatat bahwa, “Jika kami keluar dari meja perundingan dan menandatangani sesuatu dalam dua atau tiga tahun yang terlihat seperti itu, saya akan menganggapnya sebagai kemenangan besar.”
Saham-saham yang terkait erat dengan Tiongkok mendapat dorongan dari kabar tersebut. ETF iShares China Large-Cap (FXI) dan ETF iShares MSCI China (MCHI) sama-sama naik sekitar 3%.
“Bessent jelas sedang mencoba mengirim sinyal lewat komentar itu, dan sinyal itu tampaknya adalah bahwa kami tahu ini merugikan pasar dan kami ingin segera menyelesaikannya,” kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, seperti dikutip CNBC. Pasar akan menafsirkan ini sebagai kabar baik yang akan mendorong reli dan menyesuaikan ekspektasinya terhadap seperti apa hasil akhir perang dagang ini dalam beberapa bulan mendatang.
Kenaikan hari Selasa menghapus kerugian tajam yang diderita pada sesi sebelumnya. Dow turun lebih dari 970 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing merosot lebih dari 2%.
Baca Juga
Wall Street Ambles Setelah Trump 'Serang' Powell, Dow Longsor Lebih dari 950 Poin
Ketakutan akan perang dagang yang meningkat telah membuat saham-saham anjlok dalam beberapa pekan terakhir. Sejak 2 April, saat Presiden Donald Trump mengumumkan serangkaian tarif terhadap barang impor dari banyak negara, S&P 500 telah turun lebih dari 6%.
Investor semakin gelisah setelah Trump memposting di Truth Social bahwa ekonomi akan melambat jika Federal Reserve tidak memangkas suku bunga. Dalam postingan terbaru dari serangkaian serangan yang menyebut langsung Ketua The Fed Jerome Powell, ia menyebut Powell sebagai “Mr. Too Late” dan “pecundang besar.”
Trump mengisyaratkan soal “pemecatan” Powell minggu lalu, sebuah tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan yang menurut penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, sedang dipelajari oleh tim presiden saat ini. Powell sendiri mengatakan bahwa ia tidak bisa dipecat menurut hukum dan berniat menjabat hingga akhir masa jabatannya pada Mei 2026.
“Banyak ketidakpastian, tak banyak jawaban, ini lingkungan yang agak membuat frustrasi bagi investor saat ini. Satu perasaan yang bisa saya tangkap adalah: semakin lama kita terjebak di situasi abu-abu ini, semakin buruk dampaknya bagi ekonomi,” tambah Ellerbroek.

