Perang Iran Masuk Bulan Kedua, Eskalasi Meluas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda mereda. Eskalasi justru semakin meluas dengan keterlibatan aktor baru, meningkatnya korban jiwa, serta meluasnya dampak geopolitik dan energi global.
Berdasarkan laporan live update Al Jazeera yang diterbitkan pada Sabtu (28/3/2026), kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengonfirmasi serangan pertama mereka terhadap Israel sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Serangan rudal balistik tersebut menargetkan instalasi militer Israel di wilayah selatan Tepi Barat dan berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel.
Baca Juga
Di front lain, konflik juga merembet ke Lebanon. Media internasional melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan tiga jurnalis dalam serangan yang menyasar kendaraan mereka di wilayah selatan Lebanon. Insiden ini menambah daftar panjang korban sipil dan memperkuat kekhawatiran atas meningkatnya risiko pelanggaran hukum humaniter internasional.
Dari sisi korban, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sejak 2 Maret 2026 sedikitnya 1.189 orang tewas dan 3.427 lainnya luka-luka akibat serangan Israel di berbagai wilayah negara tersebut. Angka ini menunjukkan eskalasi signifikan dibandingkan pekan-pekan awal konflik.
Ketegangan juga meningkat di ranah diplomatik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaannya terhadap respons NATO terhadap perang Iran. Dalam pernyataannya, Trump menilai aliansi tersebut tidak memberikan dukungan yang diharapkan dalam menghadapi konflik yang kian kompleks.
Baca Juga
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa negaranya akan menuntut “harga yang mahal” atas serangan Israel terhadap fasilitas sipil, termasuk dua situs nuklir dan pabrik baja. Militer Iran juga menuding Amerika Serikat dan Israel “bermain dengan api” dengan menyerang infrastruktur energi strategis, yang berpotensi memperluas konflik ke skala regional yang lebih besar.
Perkembangan ini mempertegas bahwa perang tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi telah menjalar ke kawasan yang lebih luas, termasuk Yaman dan Lebanon, dengan risiko keterlibatan negara-negara lain di Timur Tengah.
Baca Juga
Perang Iran vs AS-Israel Mulai Pukul Industri Eropa, Prancis Luncurkan Paket Bantuan Darurat
Laporan senada juga disampaikan BBC dan Reuters pada periode yang sama, yang menyoroti bahwa konflik kini memasuki fase berkepanjangan dengan intensitas serangan yang tetap tinggi serta belum adanya terobosan diplomatik yang signifikan. Kedua lembaga tersebut juga menekankan meningkatnya risiko gangguan terhadap jalur energi global, khususnya di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Dengan dinamika tersebut, para analis menilai perang Iran berpotensi berkembang menjadi konflik regional berskala penuh jika tidak segera ditemukan jalan diplomasi. Hingga kini, tidak ada indikasi kuat bahwa pihak-pihak yang bertikai siap menurunkan eskalasi dalam waktu dekat.

