AS Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran, Termasuk Kharg Island Jika Hormuz Tak Dibuka
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengancam akan menghancurkan fasilitas energi utama negara tersebut, termasuk ladang minyak, pembangkit listrik, dan pulau ekspor strategis Kharg, jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz dan mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Dalam laporan CNBC yang dipublikasikan pada Senin (30/3/2026), Trump menyatakan Amerika Serikat akan “sepenuhnya menghancurkan” infrastruktur energi Iran apabila jalur pelayaran vital tersebut tidak segera dibuka kembali untuk aktivitas global.
Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social, di tengah konflik yang telah memasuki pekan kelima sejak dimulainya serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Trump juga mengklaim bahwa pembicaraan dengan “rezim baru yang lebih rasional” di Iran tengah berlangsung, meski belum ada konfirmasi dari Teheran.
“Jika kesepakatan tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak segera dibuka, kami akan mengakhiri keberadaan kami di Iran dengan menghancurkan seluruh pembangkit listrik, ladang minyak, dan Kharg Island,” ujar Trump, seperti dikutip CNBC, Senin (30/3/2026).
Pulau Kharg merupakan pusat ekspor minyak utama Iran. Sekitar 90% ekspor minyak mentah negara itu melewati fasilitas tersebut sebelum dikirim melalui Selat Hormuz. Pulau ini memiliki kapasitas pemuatan hingga sekitar 7 juta barel per hari, menjadikannya target strategis dalam konflik energi global.
Laporan CBS News yang diperbarui pada Senin (30/3/2026) menegaskan bahwa ancaman Trump juga mencakup kemungkinan serangan terhadap infrastruktur sipil lainnya, termasuk fasilitas air (desalinasi) dan energi, jika Iran tidak menunjukkan kemajuan dalam negosiasi. Di saat yang sama, Washington disebut telah menempatkan ratusan pasukan operasi khusus di kawasan Timur Tengah, dengan opsi pengerahan pasukan darat untuk merebut aset energi vital Iran, termasuk Kharg Island.
Baca Juga
Trump Ancam Serangan Baru ke Pulau Kharg, Tekan Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Sementara itu, Iran menolak klaim kemajuan diplomasi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut proposal damai 15 poin yang diajukan AS sebagai “berlebihan dan tidak masuk akal”, serta menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan langsung dengan Washington.
Laporan NBC News yang juga dirilis pada Senin (30/3/2026) menyebutkan bahwa Trump bahkan mengisyaratkan keinginan untuk “mengambil alih minyak Iran” sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal. Di sisi lain, Teheran memperingatkan siap menghadapi kemungkinan invasi darat AS, dengan ancaman akan memberikan respons militer keras.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini telah meluas ke berbagai front, termasuk keterlibatan kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Serangan rudal dan drone terus terjadi di wilayah Israel dan negara-negara Teluk, termasuk insiden ledakan di sekitar infrastruktur energi di Haifa.
Dampak konflik terhadap pasar energi global semakin terasa. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak hingga sekitar US$115 per barel—naik hampir 60% sejak awal perang—seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama jika Selat Hormuz tetap terganggu.
Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas sejak konflik dimulai, termasuk sekitar 1.900 korban di Iran, 1.200 di Lebanon, dan puluhan korban di Israel serta personel militer AS, menurut data yang dihimpun NBC News per 30 Maret 2026.
Eskalasi terbaru ini mempertegas bahwa perang Iran kini tidak hanya menjadi konflik militer regional, tetapi juga krisis energi global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia, termasuk negara-negara importir energi seperti Indonesia.

