Serangan AS-Israel Hantam Situs Militer di Isfahan, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memuncak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel kembali menghantam wilayah Iran, kali ini menargetkan sejumlah fasilitas di Provinsi Isfahan, mempertegas eskalasi konflik yang kini memasuki fase semakin berbahaya bagi stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Berdasarkan laporan Al Jazeera Live yang diterbitkan pada 31 Maret 2026, kantor berita Iran, Fars News Agency, menyebutkan bahwa serangan tersebut menyasar beberapa “situs militer” di Isfahan, salah satu wilayah strategis yang dikenal sebagai pusat fasilitas nuklir dan pertahanan Iran. Namun, otoritas Iran belum merinci tingkat kerusakan maupun korban akibat serangan tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah intensitas perang yang terus meningkat sejak dimulainya operasi militer AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Baca Juga
AS dan Israel Gempur Isfahan, Iran Balas Serang Israel dan Basis Militer AS
Dalam perkembangan terpisah, sebuah kapal tanker minyak Kuwait, Al-Salmi, dilaporkan terbakar di pelabuhan Dubai setelah mengalami serangan saat dalam kondisi penuh muatan. Petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api, namun insiden ini memperkuat kekhawatiran bahwa jalur distribusi energi global kini menjadi target langsung konflik.
Ketegangan juga meningkat di jalur vital Selat Hormuz, di mana Iran dilaporkan melakukan penutupan parsial. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancara dengan Al Jazeera menegaskan bahwa Presiden Donald Trump “selalu mengedepankan diplomasi”, tetapi memperingatkan Iran akan menghadapi “konsekuensi nyata” jika terus mengganggu lalu lintas energi global.
Baca Juga
AS Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran, Termasuk Kharg Island Jika Hormuz Tak Dibuka
Reaksi keras datang dari negara-negara Teluk. Dalam pertemuan tingkat tinggi di Jeddah, Arab Saudi, para pemimpin kawasan — termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Raja Yordania Abdullah II — mengecam serangan Iran terhadap infrastruktur sipil di kawasan.
Pernyataan bersama tersebut menegaskan kekhawatiran bahwa konflik telah meluas dari target militer ke objek sipil, yang berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan dan destabilitas regional.
Risiko Global
Laporan senada juga disampaikan oleh sejumlah media internasional. Reuters pada 31 Maret 2026 melaporkan bahwa serangan terhadap fasilitas militer Iran, termasuk di wilayah tengah seperti Isfahan, merupakan bagian dari upaya sistematis AS-Israel untuk melumpuhkan kemampuan militer strategis Iran.
Sementara itu, BBC dalam laporan terbarunya pada tanggal yang sama menyoroti meningkatnya risiko gangguan terhadap pasokan minyak global, terutama jika konflik terus mengancam keamanan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Adapun Bloomberg menekankan bahwa serangan terhadap tanker dan infrastruktur energi menandai pergeseran konflik ke fase “perang ekonomi terbuka”, dengan dampak langsung terhadap harga minyak, inflasi global, dan stabilitas pasar keuangan.
Dengan serangan yang kini menyasar pusat-pusat strategis Iran dan meningkatnya insiden di jalur energi internasional, para analis menilai konflik ini berisiko berkembang menjadi perang regional terbuka yang melibatkan lebih banyak negara.
Di tengah retorika diplomasi yang masih dikedepankan Washington, realitas di lapangan menunjukkan eskalasi militer terus berlanjut menciptakan ketidakpastian tinggi bagi stabilitas geopolitik dan ekonomi global.

