Trump Ultimatum Iran: Membuka Selat Hormuz dalam 24 Jam atau “Neraka Turun dari Langit”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase paling kritis setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menerima kesepakatan damai, dengan peringatan keras bahwa “neraka akan turun dari langit” jika tuntutan tersebut diabaikan.
Perkembangan ini dilaporkan dalam pembaruan langsung sejumlah media internasional pada Sabtu, 4 April 2026, termasuk laporan kompilasi dari CNN, Reuters, dan Associated Press yang mengonfirmasi meningkatnya tekanan militer dan diplomatik dalam konflik yang kini telah meluas ke berbagai front.
Di lapangan, intensitas serangan terus meningkat. Media pemerintah Suriah melaporkan ledakan besar mengguncang Damaskus dan sekitarnya pada 4 April 2026, seiring meluasnya serangan lintas batas yang terkait langsung dengan perang Iran-AS. Pada hari sebelumnya, Jumat, 3 April 2026, Iran mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur A-10 milik AS dan itu merupakan jet tempur kedua yang berhasil dilumpuhkan dalam konflik ini, sebagaimana dilaporkan oleh media Iran dan dikonfirmasi sebagian oleh pejabat AS kepada Reuters.
Ketegangan juga meningkat di kawasan Teluk. Bahrain melaporkan empat warga sipil terluka dan sejumlah rumah rusak di wilayah Sitra akibat serpihan dari intersepsi drone Iran. Sementara itu, kelompok Hezbollah mengumumkan serangan rudal terhadap pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon, termasuk Ainata, Maroun al-Ras, dan al-Malikiyah.
Militer Israel, di sisi lain, menyatakan telah mendeteksi dan mencegat gelombang baru rudal Iran yang diluncurkan dari Teheran, menandakan konflik kini telah berkembang menjadi perang multi-front dengan keterlibatan aktor negara dan non-negara.
Baca Juga
Iran Hajar Gedung Oracle di Dubai dan Incar 18 Perusahaan Teknologi AS
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat melakukan “terorisme” setelah serangan yang diduga menargetkan kepala Dewan Strategis Kebijakan Luar Negeri Iran menewaskan istrinya. Ia menegaskan bahwa Teheran tetap membuka ruang dialog, namun menolak proposal gencatan senjata 48 jam yang diajukan Washington melalui negara perantara.
Sebaliknya, Iran justru meningkatkan intensitas serangan, termasuk setelah serangan terhadap depot militer AS di Pulau Bubiyan, Kuwait. Data Pentagon yang dikutip media AS menunjukkan sedikitnya 247 tentara Amerika terluka, sebagian besar dari Angkatan Darat, dengan 13 korban tewas dalam pertempuran.
Di ranah diplomasi, upaya internasional mengalami kebuntuan. Dewan Keamanan PBB menunda pemungutan suara atas resolusi yang diusulkan Bahrain untuk melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz, setelah mendapat penolakan dari China terhadap penggunaan kekuatan militer. Di sisi lain, Inggris menginisiasi koalisi keamanan maritim yang melibatkan lebih dari 40 negara.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dijadwalkan mengunjungi Washington pada 8–12 April 2026 untuk bertemu Trump dan pejabat tinggi AS lainnya di tengah meningkatnya ketegangan dalam aliansi Barat.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dilaporkan telah berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menegaskan penolakan Ankara terhadap baik serangan AS-Israel maupun balasan Iran, serta mendorong peran mediasi untuk menghentikan konflik.
Di sektor energi, pasar global terus bergejolak akibat ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan segera membuka kembali jalur tersebut, memperkuat kekhawatiran akan eskalasi militer lebih lanjut di kawasan.
Selain itu, Iran mengklaim telah menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menjatuhkan jet tempur AS, dengan komando militer Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa mereka akan “sepenuhnya menguasai” wilayah udara nasional.
Konflik juga mulai menyasar sektor sipil dan pendidikan. Menteri Sains Iran Hossein Simaei Sarraf menyebut lebih dari 30 universitas di negaranya telah menjadi sasaran serangan langsung, yang menurutnya bertujuan melemahkan basis ilmiah dan budaya Iran. Pernyataan ini dikutip oleh CNN berdasarkan laporan kantor berita ISNA. Namun, Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari upaya melemahkan program nuklir Iran, sementara AS menegaskan tidak menargetkan fasilitas sipil secara sengaja.
Dengan eskalasi yang meluas dari Teluk hingga Levant, dari infrastruktur energi hingga institusi pendidikan, konflik ini kini memasuki fase yang semakin kompleks dan sulit dikendalikan. Ultimatum 48 jam dari Washington menempatkan dunia pada titik genting: antara jalan menuju kesepakatan atau babak baru perang yang lebih luas dan destruktif.

