Wall Street Melemah Dua Hari Beruntun, Investor Cermati Arah Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Kamis waktu AS atau Jumat (20/3/2026) WIB. Indeks S&P 500 turun 0,27% dan ditutup di 6.606,49, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,28% ke 22.090,69. Dow Jones Industrial Average turun 203,72 poin atau 0,44% ke 46.021,43.
Ketiga indeks sempat pulih dari posisi terendah sesi, ketika Dow turun hampir 500 poin atau sekitar 1,1%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun sekitar 1% dan 1,4%.
Ini merupakan hari kedua berturut-turut penurunan bagi ketiga indeks utama.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 0,2% ke $96,14 per barel. Sementara minyak Brent naik sekitar 1,2% ke $108,65 per barel, penutupan tertinggi sejak Juli 2022.
Baca Juga
Sekutu AS Enggan Kawal Tanker di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 103
Harga minyak mereda setelah penutupan perdagangan ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara kepada media, mengatakan bahwa Israel membantu AS “dalam intelijen dan cara lain” untuk membuka Selat Hormuz. Ia juga menyebut Iran telah kehilangan kemampuan memperkaya uranium dan membuat rudal balistik serta perang mungkin berakhir lebih cepat dari perkiraan.
Harga minyak sebelumnya melonjak setelah Iran menyerang fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) utama di Qatar sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa jika lebih banyak fasilitas di Qatar diserang, AS akan “menghancurkan sepenuhnya” ladang gas South Pars.
Adam Crisafulli dari Vital Knowledge mengatakan dilema utama tetap sama. Meskipun AS dan Israel “menang” secara konvensional, tidak ada solusi militer jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pengerahan pasukan darat, sehingga jalur tersebut kemungkinan tidak akan normal tanpa penyelesaian diplomatik.
Dengan lalu lintas di Selat Hormuz yang sebagian besar terhenti, para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam memastikan jalur pelayaran aman.
Peter Boockvar dari One Point BFG Wealth Partners mengatakan pada awal konflik, pasar yakin gangguan ini akan segera berakhir.
Namun kini, memasuki minggu keempat, investor mulai berpikir konflik tidak akan cepat selesai dan harga komoditas tidak akan kembali ke level sebelum perang. “Tidak mungkin minyak kembali ke $65 per barel,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Selain kekhawatiran harga minyak, Boockvar menilai tekanan di sektor teknologi dan kredit swasta yang sudah muncul sebelum perang akan tetap berlanjut, sehingga investor harus lebih selektif dalam mengelola portofolio.
Di sektor teknologi, saham Micron Technology turun 3,8%. Analis Citi menyebut penurunan ini lebih karena aksi ambil untung, setelah lonjakan pendapatan perusahaan akibat kekurangan pasokan memori.

