Wall Street Loyo, Investor Cermati Gejolak Timur Tengah dan Arah Kebijakan Trump
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS mayoritas melemah pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (21/6/2025). Indeks S&P 500 melemah untuk hari ketiga berturut-turut, seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian langkah ekonomi berikutnya dari Presiden Donald Trump, khususnya terkait suku bunga dan kebijakan tarif.
Baca Juga
AS Tunda Keputusan Serang Iran dalam 2 Pekan, Eropa Dorong Upaya Diplomasi
Indeks S&P 500 turun 0,22% menjadi 5.967,84, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,51% ke 19.447,41. Satu-satunya indeks utama yang mencatat penguatan adalah Dow Jones Industrial Average yang naik tipis 35,16 poin atau 0,08% ke 42.206,82.
Sektor semikonduktor menjadi salah satu yang paling terpukul menyusul laporan Wall Street Journal bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan pencabutan izin ekspor bagi sejumlah produsen chip. Saham Nvidia turun lebih dari 1%, sedangkan Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) merosot hampir 2%. ETF VanEck Semiconductor (SMH) ditutup melemah hampir 1%.
Pasar sempat dibuka menguat setelah Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga bisa dilakukan paling cepat bulan Juli. “Saya rasa kita berada dalam posisi yang memungkinkan untuk memangkas suku bunga, bahkan seawal bulan Juli,” ujar Waller dalam wawancara di acara CNBC. “Itu pandangan saya. Apakah komite akan setuju atau tidak, kita lihat nanti,” tambahnya.
Pernyataan Waller muncul dua hari setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa bank sentral belum terburu-buru memangkas suku bunga, dan akan tetap bergantung pada data ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian dampak tarif Presiden Trump terhadap perekonomian.
Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap Powell pada Kamis, menyebut sang Ketua The Fed telah merugikan Amerika ratusan miliar dolar karena terlalu lama menunda pemangkasan suku bunga. Sebelumnya, Trump bahkan menyebut Powell sebagai “bodoh” dan meragukan ia akan mengambil langkah dovish.
Baca Juga
Kecam Kebijakan The Fed, Trump Sebut Powell ‘Merusak’ Ekonomi AS
Sementara itu, ketegangan antara Israel dan Iran terus meningkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memerintahkan serangan terhadap sasaran strategis dan pemerintahan di Iran. Di sisi lain, Presiden Trump mempertimbangkan keterlibatan militer langsung Amerika Serikat dalam serangan ke Teheran. Gedung Putih menyebut keputusan akhir akan diambil dalam dua minggu ke depan.
Sebelumnya, Trump mendesak Iran untuk “menyerah tanpa syarat”, pernyataan yang kemudian dibalas Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai “ancaman yang konyol” dan seruan ‘perang dimulai’.
“Dengan ketidakpastian global sebesar ini, siapa yang berani ambil posisi beli menjelang akhir pekan?” ujar Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi di CFRA Research, seperti dikutip CNBC. Ia menambahkan bahwa S&P 500 saat ini masih berada hanya sekitar 3% di bawah level tertingginya dalam 52 minggu terakhir. “Rekor-rekor harga seperti pintu karatan, butuh beberapa dorongan sebelum akhirnya bisa terbuka,” bebernya.
Namun Stovall juga menilai jika ketegangan geopolitik mulai mereda, hal itu bisa menjadi pemicu pemulihan pasar.
Secara mingguan, S&P 500 tercatat turun sekitar 0,2%. Dow Jones naik tipis 0,02%, sementara Nasdaq berhasil menguat 0,2%.

