Harga Emas dan Perak Turun 2 Hari Beruntun, Investor Cermati Arah Suku Bunga AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dan perak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa (17/2/2026) di tengah sinyal campuran ekonomi Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi arah suku bunga Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) yang belum pasti. Hal ini memicu investor menahan posisi sambil menunggu kepastian kebijakan global.
Harga emas spot tercatat turun 0,43% menjadi US$ 4.992 per ons (sekitar Rp 77,376 juta), sementara harga perak spot merosot hampir 3% menjadi US$ 74,24 per ons (sekitar Rp 1,150 juta) selama perdagangan Asia.
Tekanan terhadap logam mulia terjadi setelah data terbaru menunjukkan inflasi konsumen Amerika Serikat pada Januari naik lebih rendah dari perkiraan, sedangkan pertumbuhan lapangan kerja justru meningkat pada periode yang sama. Kondisi ini menciptakan ekspektasi yang beragam terhadap peluang penurunan suku bunga.
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya 18 Maret. Namun, pasar keuangan sudah mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga pada Juli, bahkan sebagian pedagang menilai pemangkasan dapat terjadi lebih cepat pada Juni.
Fokus investor bergeser pada notulen rapat The Fed, data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV, dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti yang menjadi acuan inflasi bank sentral untuk membaca arah kebijakan berikutnya.
Dari sisi geopolitik, laporan menyebut seorang diplomat Iran mengatakan negaranya sedang berupaya mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi kedua pihak.
Aktivitas perdagangan global juga terpengaruh karena pasar Amerika Serikat tutup untuk memperingati Hari Presiden, sementara bursa di China dan sejumlah negara Asia lain tidak beroperasi karena libur Tahun Baru Imlek.
Direktur Pelaksana Badjate Stock & Shares Pvt Ltd Anuj Badjate menilai emas dan perak masih bergerak dalam kisaran harga tertentu yang menunjukkan fase konsolidasi, bukan perubahan tren besar.
Baca Juga
Antrean "War" Emas di JCC, Pengamat: Masyarakat Kian Cerdas Investasi
“Ke depannya, pergerakan arah selanjutnya akan bergantung pada kondisi likuiditas global, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan isyarat geopolitik. Penembusan di atas level resistensi dapat memicu pembelian momentum baru, sementara penembusan level support dapat mengundang tekanan korektif,” kata Badjate dilansir Livemint.
Ia melihat pasar masih menunggu katalis baru sebelum menentukan arah selanjutnya, terutama terkait kebijakan moneter dan dinamika geopolitik global.
Chief Executive Officer Enrich Money Ponmudi R menyampaikan tren kenaikan emas secara umum masih terjaga, sementara penurunan terbaru mencerminkan aksi ambil untung dan penyesuaian harga setelah reli panjang.
Harga emas COMEX diperdagangkan di dekat zona US$ 4.850–US$ 5.100 setelah koreksi tajam dari level tertinggi baru-baru ini di atas US$ 5.500US–$ 5.600. Harga saat ini sedang berkonsolidasi dalam jangka pendek di dekat level saat ini dan terus diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan utama, menunjukkan bahwa koreksi sedang mencapai puncaknya.
"Penembusan di atas US$ 5.200–US$ 5.300 akan membuka jalan menuju pengujian ulang rekor tertinggi,” tambah Ponmudi.
Ia menilai pergerakan harga saat ini menunjukkan pasar masih mencari keseimbangan baru sebelum memulai tren lanjutan.
Ponmudi memaparkan prospek perak yang dinilai tetap positif dalam jangka panjang meski tekanan jangka pendek masih terlihat Perak COMEX diperdagangkan di dekat zona US$ 73–US$ 84 setelah koreksi tajam dari rekor tertinggi di atas US$ 121.
Baca Juga
Bertahannya harga di atas level ini, diikuti pemulihan dan penutupan di atas US$ 85–US$ 92, dapat menghidupkan kembali momentum kenaikan menuju US$ 95–US$ 105 dan berpotensi menguji ulang level tertinggi sebelumnya.
"Prospek jangka menengah hingga panjang tetap konstruktif, didukung oleh permintaan industri yang stabil dan kendala pasokan struktural, meskipun volatilitas meningkat,” katanya.

