Perang AS–Israel vs Iran Memasuki Hari ke-15, Serangan ke Pulau Kharg Tingkatkan Krisis Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-15 dengan eskalasi militer yang semakin luas. Serangan terbaru militer AS terhadap target militer di Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—menandai babak baru konflik yang kini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi dan keamanan kawasan Teluk.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seperti dikutip Aljazeera, Sabtu (14/03/2026) mengatakan Washington sengaja tidak menyerang infrastruktur minyak di pulau tersebut, meskipun fasilitas energi Kharg merupakan jalur vital bagi ekspor minyak Iran. Sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran melewati pulau kecil di Teluk Persia tersebut sebelum dikirim ke pasar global melalui Selat Hormuz.
Trump memperingatkan bahwa keputusan untuk tidak menyerang fasilitas energi bisa berubah sewaktu-waktu. Ia menyatakan Amerika Serikat akan mempertimbangkan serangan terhadap infrastruktur minyak Iran jika Teheran mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Sementara itu, Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi negara tersebut akan memicu pembalasan terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk serta aset negara-negara yang bersekutu dengan Washington. Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya krisis energi regional yang dapat mengguncang pasar minyak global.
Situasi di Iran
Di dalam negeri Iran, konflik terus memakan korban. Sejak dimulainya operasi militer AS-Israel pada 28 Februari, sedikitnya 1.444 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 18.500 lainnya terluka akibat serangan udara.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone terhadap Israel. Operasi tersebut dilakukan bersama kelompok Hezbollah dari Lebanon dan disebut sebagai bagian dari peringatan tahunan Hari al-Quds, yang selama ini menjadi simbol dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina.
Baca Juga
Anindya Bakrie Ingatkan Pengusaha Waspadai Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik Iran
Dalam perkembangan lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, diyakini mengalami luka serius. Washington bahkan menawarkan hadiah hingga US$10 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai keberadaan Khamenei dan pejabat senior Iran lainnya.
Eskalasi di Negara-negara Teluk
Konflik juga meluas ke berbagai negara Teluk. Iran dilaporkan melancarkan serangan drone dan rudal terhadap pangkalan militer serta fasilitas komersial yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat enam drone yang memasuki wilayahnya. Sementara itu, Qatar mengumumkan berhasil menghancurkan sebuah rudal yang mengarah ke wilayahnya setelah sebelumnya mengirim peringatan keamanan kepada seluruh warga melalui telepon seluler.
Di Bahrain, sirene peringatan terdengar di sejumlah kota dan pemerintah meminta warga mencari tempat perlindungan. Oman juga melaporkan korban jiwa setelah drone jatuh di wilayahnya, mendorong Sultan Haitham bin Tariq dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyerukan dialog untuk meredakan ketegangan regional.
Dampak konflik bahkan menjalar ke sektor olahraga global. Balapan Formula One di Bahrain dan Arab Saudi dilaporkan kemungkinan besar akan dibatalkan atau dijadwal ulang karena risiko keamanan yang meningkat di kawasan tersebut.
Mobilisasi Militer AS
Di tengah eskalasi konflik, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll mengatakan Washington akan mengerahkan sekitar 10.000 drone pencegat untuk menghadapi serangan drone Iran.
Media Amerika juga melaporkan kemungkinan pengerahan kapal serbu amfibi USS Tripoli bersama sekitar 2.500 marinir ke kawasan tersebut, sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi militer AS di Teluk.
Dalam pernyataan yang menuai kontroversi, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa militer AS tidak akan menunjukkan “belas kasihan” kepada Iran. Pernyataan tersebut memicu kritik dari sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mengkhawatirkan potensi pelanggaran hukum internasional.
Operasi Israel dan Dampaknya
Militer Israel menyatakan telah melancarkan sekitar 7.600 serangan udara di Iran sejak operasi gabungan dengan Amerika Serikat dimulai pada 28 Februari. Selain itu, sekitar 1.100 serangan juga dilakukan terhadap target di Lebanon.
Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel. Ledakan terdengar di sekitar pusat ekonomi Tel Aviv setelah sistem peringatan dini mengumumkan adanya rudal yang diluncurkan dari Iran.
Di Lebanon, serangan Israel sejak awal Maret dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 773 orang. Pemerintah Lebanon juga mengecam keras serangan Israel terhadap sebuah pusat kesehatan di Borj Qalaouiye yang menewaskan 12 tenaga medis.
Selain itu, markas pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) yang dihuni batalion Nepal di wilayah selatan Lebanon juga dilaporkan terkena tembakan artileri Israel.
Baca Juga
Ketegangan Meluas ke Irak
Di Irak, sebuah rudal dilaporkan menghantam helipad di kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad. Serangan tersebut merusak sistem pertahanan udara di kawasan kedutaan yang berada di Zona Hijau ibu kota Irak.
Kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran sebelumnya beberapa kali meluncurkan roket dan drone ke fasilitas militer Amerika di Irak.
Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani berjanji akan mencegah serangan lebih lanjut setelah seorang tentara Prancis tewas dalam serangan drone di wilayah Kurdistan Irak.
Dampak Ekonomi Global
Konflik ini juga mulai memicu dampak ekonomi global. Harga minyak melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Sebagai respons, Kanada mengumumkan akan melepaskan 23,6 juta barel minyak dari cadangan strategisnya sebagai bagian dari koordinasi darurat negara-negara anggota International Energy Agency (IEA).
Sektor penerbangan juga terkena dampaknya. Maskapai India seperti Air India dan IndiGo menaikkan harga tiket secara signifikan akibat melonjaknya biaya bahan bakar pesawat yang dipicu ketidakstabilan geopolitik.
Baca Juga
Di sisi diplomatik, sejumlah analis mencatat bahwa pengaruh Amerika Serikat dalam mengendalikan krisis mulai dipertanyakan. Beberapa negara besar seperti India, Prancis, dan Italia dilaporkan memilih bernegosiasi langsung dengan Iran untuk menjamin keselamatan kapal mereka yang melintasi Selat Hormuz.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Iran bukan hanya persoalan militer regional, tetapi telah berkembang menjadi krisis geopolitik dan energi global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia. (Sumber: Al Jazeera, AFP, Reuters, AP)

