Israel Gempur Situs Rudal Iran, Trump Tunda Serangan 10 Hari
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) kembali memasuki fase dinamis setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari, sementara Israel terus menggempur target militer Teheran. Keputusan ini langsung memicu volatilitas harga minyak dunia di tengah ketegangan di Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan BBC yang diperbarui pada Jumat (27/3/2026), Trump menyatakan akan menunda rencana penghancuran fasilitas energi Iran hingga 6 April 2026. Keputusan tersebut diambil setelah ia mengklaim bahwa pembicaraan dengan Teheran “berjalan sangat baik”, meskipun sebelumnya ia menetapkan tenggat sepihak untuk eskalasi militer.
Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, Iran belum memberikan respons resmi atas penundaan tersebut. Sebelumnya, Teheran menyatakan masih menunggu jawaban Washington atas sejumlah syarat gencatan senjata yang diajukan melalui jalur diplomatik tidak langsung.
Baca Juga
Apakah Kapal Indonesia Diizinkan Iran Melintas Selat Hormuz?
Pada saat yang sama, Israel meningkatkan tekanan militer. Militer Israel menyatakan telah mencegat gelombang serangan rudal terbaru dari Iran dan melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di Teheran serta Beirut, Lebanon. Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 ini terus meluas ke berbagai front regional.
Perkembangan senada dilaporkan Al Jazeera dalam siaran langsung yang dipublikasikan pada Jumat (27/3/2026), yang menyebut bahwa penundaan serangan energi oleh AS merupakan bagian dari upaya membuka ruang negosiasi. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dikonfirmasi menjadi perantara komunikasi antara Washington dan Teheran, dengan dukungan Turki dan Mesir dalam mendorong proses damai.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, korban jiwa terus bertambah. Wakil Menteri Kesehatan Iran Ali Jafarian menyatakan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya 1.937 orang telah tewas akibat serangan AS dan Israel di wilayah Iran. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari 1.100 korban jiwa sejak 2 Maret 2026 akibat serangan Israel di wilayahnya.
Dampak Kemanusiaan Meluas
Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa sekitar 370.000 anak di Lebanon terpaksa mengungsi akibat invasi dan serangan udara Israel yang terus berlanjut.
Sementara itu, ketegangan militer juga memicu peringatan keamanan di kawasan. Garda Revolusi Iran (IRGC), dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars dan dilaporkan BBC pada Jumat (27/3/2026), memperingatkan warga di sekitar pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk segera meninggalkan area tersebut. Iran menuduh AS dan Israel menggunakan lokasi sipil sebagai “tameng manusia” serta bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil dan pejabat Iran.
Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, melaporkan bahwa hingga akhir Maret 2026, sedikitnya 1.492 warga sipil Iran, termasuk 221 anak-anak, serta 1.167 personel militer telah tewas dalam konflik ini.
Baca Juga
Trump Tunda Lagi Tenggat Serangan ke Iran, Buka Ruang Negosiasi hingga 6 April 2026
Di pasar energi, keputusan Trump menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran sempat menekan harga minyak dunia. Namun, volatilitas tetap tinggi karena risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz belum mereda. Sekitar 90% aliran minyak dan gas yang melewati jalur tersebut menuju negara-negara Asia, sehingga setiap eskalasi berpotensi langsung mengguncang pasar energi global.
Dengan konflik yang terus bereskalasi di berbagai front—militer, diplomatik, dan energi—para analis menilai situasi saat ini berada pada titik kritis, antara peluang deeskalasi melalui negosiasi atau justru menuju konflik regional yang lebih luas dengan dampak besar terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.

