Israel Gempur Iran “Tanpa Henti”, Hormuz Bergejolak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Israel menegaskan akan terus melanjutkan serangan terhadap Iran dengan “intensitas penuh”, menandai eskalasi terbaru dalam perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 dan kini semakin mengguncang stabilitas energi global.
Berdasarkan laporan Bloomberg yang diperbarui pada Selasa (24/3/2026), militer Israel tetap melancarkan serangan udara ke berbagai target strategis Iran, sementara konflik meluas ke kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon, Teluk Persia, hingga jalur pelayaran kritis Selat Hormuz.
Pernyataan Israel tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan geopolitik. Lebanon bahkan secara resmi menyatakan duta besar Iran sebagai persona non grata, menandakan memburuknya hubungan diplomatik di kawasan. Di sisi lain, Iran merespons dengan langkah agresif di sektor maritim.
Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan Bloomberg memaksa sebuah kapal kontainer berbalik arah di Selat Hormuz. Teheran juga mulai mengenakan biaya transit hingga US$2 juta per kapal yang melintas, sebuah kebijakan yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi global.
Langkah tersebut memperkuat ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sebelumnya, laporan CNN (22/3/2026) menyebut Iran bahkan mengancam akan menutup selat tersebut jika Amerika Serikat menyerang fasilitas energinya.
Ketegangan ini langsung tercermin di pasar. Harga minyak dunia kembali naik seiring memudarnya harapan deeskalasi konflik. Bloomberg mencatat harga minyak bergerak lebih tinggi, sementara emas justru melemah, mencerminkan pergeseran sentimen investor terhadap risiko geopolitik.
Sementara itu, QatarEnergy menyatakan force majeure akibat gangguan operasional di tengah konflik, menambah tekanan terhadap pasokan energi global. Gangguan juga meluas ke infrastruktur regional, termasuk pemadaman listrik di Kuwait dan gangguan layanan komputasi awan Amazon di Bahrain akibat serangan semalam.
Dalam dinamika politik internal Iran, pemerintah menunjuk tokoh garis keras Mohammad Bagher Zolghadr sebagai kepala keamanan baru. Penunjukan ini dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran memilih jalur konfrontatif dalam menghadapi tekanan militer Israel dan sekutunya.
Dari sisi diplomasi, upaya meredakan konflik mulai bermunculan. Pemerintah Pakistan menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan damai, sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pembicaraan telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi mendesak semua pihak segera memulai dialog untuk menghentikan perang.
“China akan terus menjaga posisi objektif, menentang pelanggaran kedaulatan, serta aktif mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China yang dikutip Bloomberg, Selasa (24/3/2026).
Namun, sinyal perdamaian tersebut tertutup oleh realitas di lapangan. Serangan lintas kawasan terus berlangsung, sementara negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan mulai kehilangan kesabaran dan mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh dalam konflik, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Sejalan dengan itu, laporan Reuters dan Al Jazeera dalam beberapa hari terakhir (23–24 Maret 2026) juga menegaskan bahwa perang telah memasuki fase regional, dengan serangan terhadap fasilitas energi, pelayaran, dan infrastruktur sipil yang semakin meluas.
Baca Juga
Iran Tetap Mampu Serang Israel Meski Digempur, Ini Strategi “Perang Daya Tahan” Teheran
Di tengah kekacauan ini, ada pihak yang justru diuntungkan. Bloomberg mencatat Rusia menjadi salah satu pemenang tak langsung, dengan lonjakan pendapatan dari ekspor minyak seiring melonjaknya harga energi global—mengulang pola yang terjadi saat invasi Ukraina pada 2022.
Dengan eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, pasar energi global kini menghadapi ketidakpastian yang semakin dalam. Risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak lagi bersifat hipotetis, melainkan telah menjadi kenyataan yang mendorong volatilitas harga dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Harapan Damai Memudar
Konflik Iran yang telah memasuki pekan keempat sejak dimulai pada 28 Februari 2026 terus menunjukkan eskalasi signifikan, di tengah ketidakpastian diplomatik antara Amerika Serikat dan Teheran yang memicu gejolak pasar energi dan keuangan global.
Berdasarkan laporan CBS News yang diperbarui pada Selasa, 24 Maret 2026 pukul 11.13 EDT (23.13 WIB), harapan akan penyelesaian diplomatik sempat muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah berlangsung. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh otoritas Teheran yang menegaskan tidak ada dialog langsung antara kedua negara.
Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Iran kepada CBS News mengakui bahwa pihaknya memang menerima sejumlah “poin” dari Amerika Serikat melalui mediator dan sedang menelaahnya. Dalam konteks ini, Pakistan muncul sebagai kandidat mediator baru, bahkan disebut berpotensi menjadi tuan rumah pertemuan dalam waktu dekat. Informasi ini juga dikonfirmasi oleh laporan Reuters yang terbit pada 24 Maret 2026, yang menyebut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi perundingan damai antara Washington dan Teheran.
Baca Juga
Kekuatan Militer Israel Unggul Teknologi, Namun Sulit Hadapi Iran Tanpa Dukungan AS
Namun, di tengah sinyal diplomasi yang masih kabur, perang terus berlangsung intensif. CBS News melaporkan Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel dalam semalam, sekaligus menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Serangan ini memperburuk situasi keamanan kawasan, termasuk di Bahrain, di mana Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengonfirmasi satu kontraktor sipil tewas akibat serangan rudal Iran, sementara lima personel lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, di Lebanon, media pemerintah melaporkan serangan baru Israel dan peringatan evakuasi bagi warga sipil di wilayah selatan, sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa operasi militer terhadap Iran dan Hizbullah akan terus berlanjut.
Di sisi kemanusiaan, Presiden Bulan Sabit Merah Iran Ali Kolivand menuduh fasilitas medis menjadi sasaran serangan. Ia menyatakan sedikitnya 17 basis organisasi tersebut serta puluhan ambulans dan kendaraan darurat terkena serangan sejak perang dimulai. Bahkan, menurut laporan lanjutan yang dikutip BBC, lebih dari 82.000 unit infrastruktur sipil, termasuk 281 rumah sakit, klinik, dan apotek, mengalami kerusakan akibat serangan udara hingga 24 Maret 2026.
Ketidakpastian arah konflik dan diplomasi berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak kembali di atas US$100 per barel pada Selasa pagi waktu Asia, setelah sebelumnya sempat turun menyusul pernyataan Trump terkait peluang negosiasi. BBC dalam laporan langsungnya pada 24 Maret 2026 mencatat pasar bereaksi cepat terhadap sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran, mencerminkan tingginya ketidakpastian geopolitik.
Gangguan terbesar terjadi di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Laporan Reuters menyebut jalur ini praktis lumpuh akibat eskalasi militer, memicu apa yang disebut sebagai salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperingatkan adanya “ancaman besar” terhadap ekonomi global jika gangguan ini berlanjut.
Di luar kawasan Timur Tengah, dampak konflik juga mulai meluas ke Eropa. CBS News melaporkan munculnya kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap institusi Yahudi di Eropa Barat, yang menyatakan akan menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel secara global. Para ahli menilai kelompok tersebut kemungkinan merupakan jaringan longgar atau “astroturfed terror brand” yang memanfaatkan momentum konflik untuk propaganda dan aksi oportunistik.
Meski berbagai pihak mulai mendorong jalur diplomasi, termasuk melalui Pakistan, sinyal yang muncul masih saling bertentangan. BBC mencatat Gedung Putih menyebut rencana pembicaraan tetap “fluid” atau belum pasti, sementara Iran secara konsisten membantah adanya negosiasi langsung.
Dengan intensitas serangan yang terus berlangsung di Iran, Israel, Lebanon, dan negara-negara Teluk, serta pasar energi yang tetap bergejolak, konflik ini tidak hanya menjadi krisis geopolitik, tetapi juga berpotensi menjadi guncangan ekonomi global yang berkepanjangan.

