Harga Minyak Bertahan di Atas $100, Krisis Energi Global Mengintai
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali melonjak dan bertahan di atas level psikologis US$100 per barel untuk hari kedua berturut-turut. Perang Iran memasuki pekan ketiga dan jalur pengiriman energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, masih lumpuh.
Kontrak minyak mentah Brent pada Jumat ditutup naik 2,67% atau $2,68 ke level $103,14 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,11% atau $2,98 menjadi $98,71 per barel.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Panas, Minyak Brent Tembus US$ 100 Lagi
Lonjakan harga energi terjadi meskipun Amerika Serikat dan sekutunya telah meluncurkan berbagai langkah darurat untuk menahan kenaikan harga minyak global.
Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya menyetujui pelepasan 400 juta barel cadangan minyak strategis—aksi terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut—untuk menambah pasokan di pasar.
Washington juga memberikan pengecualian sementara selama 30 hari bagi India untuk membeli minyak Rusia yang terkena sanksi, sebagai upaya meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan global.
Di dalam negeri, Presiden Donald Trump bahkan mempertimbangkan pelonggaran aturan Jones Act yang selama ini mewajibkan pengiriman barang antar pelabuhan AS, termasuk minyak dan gas, menggunakan kapal berbendera Amerika—langkah yang dinilai dapat menekan biaya logistik energi.
Namun pasar energi tampaknya lebih fokus pada risiko geopolitik yang terus meningkat.
Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyebabkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir terhenti. Jalur ini merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melintasi selat tersebut.
Situasi semakin memanas setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan perlawanan.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden Trump yang sebelumnya mengatakan kepada para pemimpin G7 bahwa Iran “hampir menyerah.”
Ketegangan juga meningkat setelah sejumlah kapal asing diserang di sekitar Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Serangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi krisis energi global yang berkepanjangan.
Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, bahkan memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga $200 per barel jika stabilitas kawasan terus terganggu.
“Bersiaplah menghadapi harga minyak $200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan,” katanya.
Kenaikan harga minyak saat ini sudah tergolong sangat tajam. Sepanjang pekan ini, kontrak Brent naik sekitar 10% setelah sebelumnya melonjak 27,9% pada pekan lalu—kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Sementara itu, kontrak WTI—yang pekan lalu mencatat kenaikan terbaik sejak 1983—kembali menguat lebih dari 8% pada pekan ini.
Analis Barclays menyebut pasar mulai menunjukkan kegelisahan setelah sebelumnya memperkirakan konflik hanya akan berlangsung singkat.
“Investor masih percaya pada ‘Trump put’, sehingga saham global tidak turun sedalam guncangan minyak sebelumnya,” kata analis Barclays Emmanuel Cau dalam catatan risetnya.
“Namun kegelisahan meningkat setiap hari, dan semakin lama Selat Hormuz tetap tertutup, pasar akan semakin mengarah pada kondisi stagflasi,” ujarnya.
CEO perusahaan energi Inggris EnQuest, Amjad Bseisu, bahkan menyebut krisis yang terjadi saat ini belum pernah terlihat sebelumnya di pasar minyak modern.
“Setiap hari terjadi penundaan, sekitar 20 juta barel lagi hilang dari pasar. Dampaknya akan terus terasa,” katanya kepada CNBC.
Menurut Bseisu, gangguan pasokan global dengan skala seperti ini terakhir kali terjadi saat embargo minyak Arab pada 1970-an—periode yang memicu lonjakan harga energi hingga empat kali lipat.
“Kita sudah melihat harga naik sekitar 50%, tetapi saya pikir krisis ini bisa berlangsung cukup lama,” ujarnya.
Baca Juga
Bursa Eropa Melemah di Tengah Konflik Timur Tengah yang Terus Memanas
Bagi pasar global, perkembangan konflik Timur Tengah kini menjadi faktor penentu arah harga energi dunia. Jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi global baru sekaligus meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

