Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Panas, Minyak Brent Tembus US$ 100 Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak dan kembali menembus level psikologis US$ 100 per barel pada Kamis (13/3/2026) setelah pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei bersumpah akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Patokan internasional minyak mentah Brent naik 9,22% atau US$ 8,48 dan ditutup di level US$ 100,46 per barel. Ini menjadi pertama kalinya Brent berakhir di atas US$ 100 sejak Agustus 2022. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak Amerika Serikat, naik 9,72% atau US$ 8,48 menjadi US$ 95,73 per barel.
Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mojtaba Khamenei merupakan putra pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada fase awal konflik. Pernyataan keras Mojtaba muncul saat serangan terhadap kapal dagang di Teluk Persia terus berlanjut.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS belum siap mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Ia menambahkan fokus utama militer AS di kawasan tersebut masih pada upaya menghancurkan kemampuan ofensif Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah dua kapal tanker minyak dan satu kapal kargo dilaporkan terkena serangan di lepas pantai Irak dan Uni Emirat Arab dalam semalam. Insiden itu menjadi rangkaian serangan terbaru yang terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat sempit tersebut setiap hari. Karena itu, gangguan pada jalur ini dapat langsung memicu gejolak harga energi global.
Baca Juga
Bitcoin Nyaris Tembus US$ 72.000 usai Menkeu AS Redam Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak
Pelepasan Cadangan Darurat
Serangan terhadap kapal-kapal tersebut terjadi setelah Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah darurat terbesar dalam sejarahnya.
Meski demikian, pasar minyak tidak terlalu terpengaruh oleh langkah tersebut. Para pedagang meragukan bahwa pelepasan cadangan itu cukup untuk menutup kekurangan pasokan yang muncul akibat penutupan jalur pengiriman minyak utama di kawasan tersebut.
Ahli strategi di bank Belanda ING menilai harga minyak sulit turun secara berkelanjutan tanpa kembalinya arus minyak melalui Selat Hormuz. “Seperti yang telah kami katakan berulang kali, satu-satunya cara untuk melihat harga minyak turun secara berkelanjutan adalah dengan mengalirkan minyak melalui Selat Hormuz,” tulis mereka dalam catatan riset yang dirilis Kamis.
Mereka memperingatkan bahwa jika jalur tersebut tetap tertutup, reli harga minyak kemungkinan belum mencapai puncaknya.
Negara-negara anggota IEA pada Rabu (12/3/2026) sepakat untuk melepas total 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka. Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar dengan rencana pelepasan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategisnya.
Namun, analis energi MST Marquee Saul Kavonic mengatakan volume tersebut hanya mampu menutup sebagian kecil dari kekurangan pasokan global.
Menurutnya, tambahan pasokan dari cadangan darurat kemungkinan hanya mampu menggantikan sekitar seperempat dari gangguan pasokan yang muncul akibat penutupan jalur pengiriman minyak utama.
“Keputusan IEA juga menandakan betapa akutnya risiko kekurangan minyak, menunjukkan bahwa IEA tidak percaya perang akan segera berakhir,” kata Saul Kavonic kepada CNBC.
Ia menambahkan bahwa cadangan yang dilepas saat ini pada akhirnya harus digantikan kembali di masa depan, sehingga berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi bahkan setelah konflik berakhir.
Hambatan Logistik
Selain volume pasokan, pelaku pasar juga mengkhawatirkan waktu distribusi minyak dari cadangan darurat tersebut. Ketidakpastian mengenai kapan minyak benar-benar tiba di pasar membuat volatilitas harga tetap tinggi.
IEA tidak memberikan rincian mengenai jadwal pelepasan cadangan oleh masing-masing negara anggota maupun mekanisme distribusi minyak tersebut.
Baca Juga
Lonjakan Harga Minyak Seret Wall Street ke Level Terendah 2026, Dow Ambles Lebih 700 Poin
Menteri Energi Chris Wright mengatakan Amerika Serikat memerlukan waktu sekitar 120 hari untuk menyelesaikan pelepasan cadangan minyaknya. Cadangan strategis tersebut disimpan secara terpisah oleh setiap negara anggota IEA sehingga proses distribusi dapat menghadapi kendala teknis dan logistik.
Ahli strategi investasi senior Raymond James Pavel Molchanov mengatakan minyak dari cadangan darurat kemungkinan baru benar-benar mencapai pasar dalam waktu 60 hingga 90 hari.
“400 juta adalah angka yang besar. Namun, ini adalah gangguan pasokan minyak terbesar setidaknya sejak tahun 1970-an, jadi kita membutuhkan banyak minyak, dan kita membutuhkannya dengan cepat,” kata Pavel Molchanov.

