Bitcoin Bertahan di Atas "Support" Psikologis US$ 100.000, Investor Pantau Level Kunci
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kembali menguat pada Rabu (6/11/2025) meskipun masih mencatatkan penurunan secara mingguan. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi faktor seperti optimisme regulasi, langkah akumulasi dari institusi besar, dan stabilisasi teknikal di area support psikologis US$ 100.000.
Dukungan datang dari arah kebijakan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump pada 5 November 2025 yang menyatakan pandangan positif terhadap aset kripto, menyebutnya sebagai “inovasi yang mendukung dolar AS”. Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, Gedung Putih juga dikabarkan mendorong legislasi kripto bipartisan yang memberikan sinyal kejelasan regulasi di pasar Amerika Serikat.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat perkembangan ini mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko politik dan meningkatkan minat dari modal institusi. “Secara historis, perubahan sikap pro-kripto dari sisi kebijakan sering diikuti oleh penguatan harga Bitcoin, sebagaimana terjadi pasca pemilu AS 2024,” jelasnya dalam riset, Kamis (6/11/2025).
Di sisi institusional, Canaan Inc., perusahaan tambang kripto yang terdaftar di Nasdaq, memperoleh investasi sebesar US$ 72 juta dari beberapa firma besar seperti Galaxy Digital untuk memperkuat infrastruktur penambangan Bitcoin.
Namun, data on-chain juga menunjukkan adanya aliran masuk sebesar US$ 6,8 miliar BTC ke exchange Binance dalam 30 hari terakhir. Hal ini menunjukkan reposisi strategis dari investor besar (whales), yang berpotensi menimbulkan tekanan jual jangka pendek.
Meski begitu, pasar tampak menyerap tekanan tersebut melalui aliran masuk ke ETF spot Bitcoin, yang kini memiliki total aset kelolaan mencapai US$139,87 miliar, serta meningkatnya minat beli di level rendah.
Baca Juga
Harga Bitcoin Sempat Anjlok ke Bawah US$ 100.000 Pertama Kalinya Sejak Juni, Ini Penjelasannya
Fyqieh menilai kenaikan Bitcoin kali ini mencerminkan keseimbangan antara faktor makro dan teknikal. “Rebound Bitcoin di atas US$103.000 lebih mencerminkan proses stabilisasi pasar. Sentimen positif dari arah kebijakan dan aktivitas institusi memberikan dorongan jangka pendek, namun tekanan dari arus jual whale masih perlu diwaspadai,” ujarnya.
“Selama level US$ 100.000 tetap bertahan sebagai support, tren pemulihan dapat berlanjut secara bertahap, terutama jika regulasi di AS semakin jelas dan likuiditas global meningkat,” tambahnya.
Secara teknikal, Bitcoin berhasil bertahan di atas level US$ 100.000, setelah sempat menyentuh titik terendah di US$99.900. Indeks RSI naik ke 37,85, menandakan harga mulai keluar dari area oversold.
Sementara itu, divergensi pada indikator MACD menunjukkan pelemahan momentum penurunan. Level Fibonacci retracement 23,6% di US$118.995 kini menjadi area resistance penting, dengan potensi target berikutnya di US$112.073 jika penembusan terjadi.
Para pelaku pasar kini memantau perkembangan sidang Mahkamah Agung AS terkait tarif perdagangan Trump, yang dapat mempengaruhi inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi menurun dan prospek penurunan suku bunga meningkat, kondisi tersebut bisa menjadi katalis baru bagi penguatan pasar kripto.
Fyqieh juga memperkirakan bahwa lonjakan likuiditas setelah berakhirnya potensi government shutdown di Amerika Serikat dapat menjadi pemicu kembalinya momentum bullish di pasar aset digital. Ia menambahkan, rilis data inflasi AS (CPI dan Core CPI) untuk Oktober pada 13 November mendatang akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi arah pergerakan Bitcoin dan altcoin. Angka inflasi yang lebih rendah umumnya mendorong peningkatan selera risiko di pasar keuangan.
Baca Juga
Sementara itu, Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan, meskipun ada pemulihan harga yang signifikan, volume perdagangan masih tinggi, mengindikasikan bahwa trader masih bersikap sangat hati-hati.
Untuk mengonfirmasi pembalikan tren, Panji menyarankan investor untuk memantau penutupan harian di atas US$ 105.000 dan US$ 108.000. Kegagalan mempertahankan level US$ 102.000 dapat memicu pengujian ulang pada level kritis US$ 100.000.
Di tengah pemulihan harga yang rapuh, pasar mendapat dorongan sentimen positif dari perkembangan adopsi institusional global. BlackRock dilaporkan akan mendaftarkan produk iShares Bitcoin ETF mereka di Australian Securities Exchange (ASX) pada pertengahan November 2025.
“Produk ini akan menjadi 'bungkus' lokal dari US iShares Bitcoin Trust yang sukses, sebuah kendaraan investasi yang diluncurkan pada Januari 2024 dan kini telah mengelola aset senilai sekitar US$ 85 miliar,” papar Panji.
Ekspansi itu, dinilsi menunjukkan keyakinan BlackRock terhadap permintaan global dan memperluas akses investor internasional terhadap Bitcoin.
Meskipun harga BTC rebound, investor institusional secara kolektif mengurangi eksposur mereka. Data Bitcoin dan Ethereum Spot ETF pada periode 3-4 November 2025 menunjukkan adanya aksi jual masif dan terkoordinasi:
Bitcoin ETF mencatat outflow sebesar US$ 186,51 juta pada 3 November, yang kemudian melonjak tajam menjadi US$ 577,74 juta pada 4 November. Pola serupa terjadi pada Ethereum ETF, dengan outflow sebesar US$ 135,76 juta pada 3 November meningkat drastis menjadi US$ 219,37 Juta pada 4 November.
“Total outflow yang signifikan ini menegaskan dominasi sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar pasca-koreksi harga BTC di bawah US$ 100.000, menyebabkan total net assets pada kedua ETF tersebut turun drastis.
Sedangkan hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di sekitar US$ 104.000 - US$ 105.000 sedangkan Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 3.400 - US$ 3.700.
Terpantau, hingga pukul 19:09 WIB, Bitcoin masih bertengger di atas US$ 103.000, terapresiasi 1,01% dalam 24 jam terakhir sehingga mencatatkan kapitalisasi pasar US$ 2,06 triliun.
Sementara, dominasi pasar BTC kini berada di level 60,64%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto juga turut menguat 3,33% menjadi US$ 3,41 triliun.

