Bagikan

Bursa Eropa Melemah di Tengah Konflik Timur Tengah yang Terus Memanas

Poin Penting

Indeks Stoxx 600 Eropa turun 0,5% di tengah kekhawatiran dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global.
Harga minyak Brent bertahan di atas $100 per barel meski cadangan darurat global dilepas dalam jumlah besar.
Ketegangan di Selat Hormuz dan ancaman blokade Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia.

LONDON, investortrust.id — Bursa saham Eropa ditutup melemah pada Jumat (13/3/2026) di tengah kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang terus memanas. Lonjakan harga energi setelah gangguan pasokan global membuat pasar semakin waspada terhadap risiko perlambatan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi.

Baca Juga

Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Panas, Minyak Brent Tembus US$ 100 Lagi

Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup turun sekitar 0,5%, dengan sebagian besar bursa utama kawasan berada di wilayah negatif. Sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik serta volatilitas harga energi yang meningkat tajam dalam dua pekan terakhir.

Sektor minyak dan gas menjadi salah satu yang mencatat kenaikan, bersama sektor asuransi dan utilitas, karena investor mencari saham defensif yang diuntungkan oleh lonjakan harga energi. Sebaliknya, sektor industri dan pertambangan tertinggal dan menekan kinerja indeks secara keseluruhan.

Tekanan juga datang dari pasar mata uang. Pound sterling melemah terhadap dolar AS dan euro setelah data awal menunjukkan ekonomi Inggris stagnan pada Januari.

Sterling turun sekitar 0,8% ke level $1,323, sementara euro juga melemah sekitar 0,6% terhadap dolar menjadi $1,144.

Di sektor perbankan, saham Deutsche Bank turun 0,9% setelah bank tersebut mengungkapkan eksposur sekitar $30 miliar terhadap pasar kredit swasta. Penurunan saham Deutsche terjadi di tengah upaya sektor perbankan Eropa menahan dampak gejolak pasar yang dipicu konflik Timur Tengah.

Indeks Stoxx 600 Banks tercatat turun sekitar 1,12%.

Di sisi lain, saham perusahaan teknologi chip Belanda, BE Semiconductor Industries (BESI), melonjak 6,6% setelah beredar rumor minat akuisisi terhadap perusahaan tersebut. Hingga saat ini perusahaan belum memberikan komentar resmi.

Fokus utama pasar global tetap tertuju pada harga energi. Harga minyak Brent bertahan di atas $100 per barel, bahkan setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel—yang merupakan pelepasan terbesar dalam sejarah.

Harga Brent terakhir tercatat naik sekitar 1% menjadi $101,54 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1% menjadi $96,82.

Amerika Serikat juga mengumumkan rencana melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve untuk meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan global.

Selain itu, Washington memberikan pengecualian sementara selama 30 hari terhadap minyak Rusia yang sedang dalam perjalanan di laut, sebagai upaya meredakan tekanan pada pasar energi.

Namun langkah tersebut belum cukup menenangkan pasar. Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal komersial di sekitar jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pengawalan militer terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz akan dimulai “secepat mungkin secara militer.” Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan langkah tersebut kemungkinan dilakukan “dalam waktu relatif dekat,” meski belum bisa dilaksanakan segera.

Baca Juga

Pengawalan Kapal Tanker di Selat Hormuz Tunggu ‘Kesiapan’ Militer AS

Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya akan terus memblokir jalur pelayaran tersebut. Selat Hormuz secara efektif terhenti sejak pecahnya permusuhan militer, memicu lonjakan harga minyak global.

Kenaikan biaya energi ini mulai membebani pasar saham global. Bursa Asia juga berada di bawah tekanan pada Jumat, dengan indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan sama-sama ditutup lebih rendah.

Di Wall Street, sentimen serupa juga terlihat. Pasar saham AS tertekan seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memperburuk inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Bagi investor, kombinasi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian kebijakan moneter kini menjadi tiga risiko utama yang membayangi pasar keuangan global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024