Konflik Timur Tengah Kian Memanas, Harga Minyak Dunia Terus Naik
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent naik 9 sen (0,12%) menjadi US$ 77,71 per barel pada perdagangan Jumat (4/10/2024). Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 8 sen (0,11%) ke posisi US$ 73,79 per barel.
Mengutip Reuters, kenaikan ini seiring langkah investor yang mempertimbangkan dampak konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan minyak mentah di tengah pasar global yang masih terjaga pasokannya. Kedua tolok ukur minyak ini berada di jalur untuk kenaikan mingguan sekitar 8%.
Presiden AS Joe Biden pada hari Kamis menyatakan bahwa AS sedang membahas kemungkinan serangan terhadap fasilitas minyak Iran sebagai balasan atas serangan rudal Tehran terhadap Israel. Pernyataan ini berkontribusi pada kenaikan harga minyak sebesar 5%.
Analis ANZ Daniel Hynes mengatakan, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan dari Timur Tengah, yang menyumbang sekitar sepertiga dari pasokan minyak global.
"Pergerakan ini diperparah oleh para investor yang sebelumnya bertaruh pada penurunan harga sekarang mulai membalikkan posisinya. Kenaikan ini bisa berlanjut jika investor mulai mengambil posisi bullish terhadap minyak," ujar Hynes.
Namun, kekhawatiran tentang pasokan mereda karena adanya kapasitas cadangan produksi dari OPEC dan fakta bahwa pasokan minyak global belum terganggu oleh kerusuhan di Timur Tengah.
Pada hari Kamis kemarin (3/10/2024), pemerintah timur Libya dan National Oil Corp yang berbasis di Tripoli mengumumkan pembukaan kembali semua ladang minyak dan terminal ekspor setelah sengketa kepemimpinan bank sentral diselesaikan, mengakhiri krisis yang secara signifikan telah mengurangi produksi minyak.
Di mana Iran dan Libya keduanya merupakan anggota OPEC yang memainkan peran penting dalam pasar minyak global.
Selain itu, berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS, Iran, yang beroperasi di bawah sanksi AS, memproduksi sekitar 4 juta barel per hari pada 2023. Sementara Libya menghasilkan sekitar 1,3 juta barel per hari tahun lalu.

