Konflik Timur Tengah Terus Memanas, Risiko Stagflasi Bayangi Zona Euro
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tak kunjung mereda. Dampaknya mulai menjalar ke jantung ekonomi Eropa. Data terbaru menunjukkan aktivitas sektor swasta di kawasan zona euro melemah tajam, memicu kekhawatiran akan skenario terburuk, yaitu stagflasi.
Baca Juga
Iran-Israel Tetap Saling Serang di Tengah Ketidakpastian, Harga Minyak Tembus US$100
Indeks PMI (purchasing manager's index) kilat yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis zona euro turun ke level 50,5 pada Maret, merosot dari 51,9 pada Februari. Angka ini hanya sedikit di atas ambang 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi—menandakan ekonomi nyaris stagnan.
Kondisi ini terjadi di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Iran, yang menekan rantai pasok global sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan.
“PMI zona euro membunyikan alarm stagflasi, di mana perang di Timur Tengah mendorong harga naik tajam sambil menahan pertumbuhan,” ujar Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari CNBC, Rabu (25/3/2026).
Biaya perusahaan melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, sementara keterlambatan pengiriman kembali meningkat ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Gangguan logistik, terutama pengiriman energi dan bahan baku, menjadi pemicu utama.
Lebih mengkhawatirkan, perusahaan mulai menahan perekrutan dan memangkas ekspektasi produksi, mencerminkan ketidakpastian yang semakin dalam.
Di sisi kebijakan, situasi ini menempatkan European Central Bank dalam dilema klasik: menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi berisiko memperlambat ekonomi, sementara pelonggaran moneter dapat memperburuk tekanan harga.
Dalam proyeksi terbaru, ECB memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 0,9% pada 2026, dengan inflasi rata-rata 2,6% tahun ini—angka yang dinilai terlalu optimistis jika konflik berlanjut.
Raphael Brun-Aguerre dari J.P. Morgan menilai lonjakan harga energi berpotensi menyebar ke inflasi inti, sekaligus menekan profitabilitas bisnis dan daya beli konsumen.
Sentimen konsumen pun terpukul. Data European Commission menunjukkan kepercayaan konsumen anjlok signifikan pada Maret.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, memperingatkan bahwa krisis energi global kini berada pada tahap “kritis” dan menyerukan negosiasi segera dengan Iran untuk meredakan konflik.
Baca Juga
AS-Iran Saling Ancam, Harga Minyak Diperkirakan Terus Bergolak
Jika konflik berkepanjangan, kombinasi inflasi tinggi, pertumbuhan lemah, dan meningkatnya pengangguran bisa menjadi kenyataan pahit bagi Eropa—menghidupkan kembali momok stagflasi yang terakhir menghantui dunia pada era 1970-an.

