Wall Street Ambruk Dipicu Kekhawatiran Disrupsi AI, Dow Anjlok Lebih dari 650 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Kamis waktu AS atau Jumat (13/2/2026) WIB. Investor mulai mengkhawatirkan sisi negatif dari pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang dapat mengganggu model bisnis berbagai industri dan meningkatkan pengangguran.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 669,42 poin atau 1,34% ditutup di 49.451,98. Penurunan dipimpin oleh Cisco Systems yang anjlok 12% setelah produsen perangkat jaringan seperti switch dan router tersebut memberikan proyeksi yang mengecewakan untuk kuartal berjalan.
S&P 500 turun 1,57% dan ditutup di 6.832,76, sementara Nasdaq Composite melemah 2,03% menjadi 22.597,15.
Baca Juga
Wall Street Melemah di Tengah Laporan Tenaga Kerja AS yang Solid, Saham Software Bebani Pasar
Beberapa segmen pasar saham terpukul tahun ini setelah peluncuran alat AI yang berpotensi mereplikasi model bisnis mereka — atau setidaknya menggerus margin keuntungan.
Saham keuangan seperti Morgan Stanley tertekan karena kekhawatiran AI akan mengganggu bisnis wealth management, sementara saham perusahaan truk dan logistik seperti C.H. Robinson anjlok 14% karena kekhawatiran AI akan merampingkan operasi pengiriman barang dan menekan lini pendapatan tertentu.
Kekhawatiran disrupsi AI bahkan menyebar ke sektor properti, menekan saham seperti CBRE dan SL Green Realty, dengan anggapan bahwa meningkatnya pengangguran akan menekan permintaan ruang kantor.
Saham perangkat lunak — kelompok yang telah dibayangi kekhawatiran disrupsi dalam beberapa pekan terakhir — memperpanjang kerugian sejak awal tahun. Saham Palantir Technologies turun hampir 5%, membuat penurunannya tahun ini menjadi lebih dari 27%. Saham Autodesk merosot hampir 4%, dengan pelemahan tahun berjalan sekitar 24%. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) turun hampir 3% dan kini sekitar 31% di bawah puncak terbarunya setelah pertama kali memasuki pasar bearish bulan lalu.
“AI, yang sebelumnya menjadi satu-satunya faktor yang mendorong saham-saham ini ke level parabola dan valuasi yang ekstrem — meski tidak sepenuhnya ekstrem — kini justru menjadi faktor yang menahan mereka,” ujar Jay Woods, kepala strategi pasar di Freedom Capital Markets, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Wall Street Terpuruk Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi, Nasdaq Terimbas Paling Parah
Aksi jual perak, yang menjadi perdagangan populer di kalangan investor ritel tahun ini, turut memperkuat sentimen risk-off pada Kamis. Kontrak berjangka perak anjlok 10%.
Investor mencari keamanan di sektor defensif. Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik 3,8% dan 0,5%. Sektor kebutuhan pokok konsumen dan utilitas memimpin kenaikan di antara sektor S&P 500, masing-masing naik lebih dari 1%, mendorong sektor kebutuhan pokok mencetak rekor penutupan baru.
Saham mengakhiri sesi sebelumnya lebih rendah setelah sempat menguat berkat laporan tenaga kerja yang kuat. Antusiasme terhadap data tersebut memudar karena ekonom meragukan apakah itu menjadi awal tren kenaikan payroll, terutama setelah revisi dalam laporan menunjukkan tidak ada pertumbuhan lapangan kerja pada paruh kedua 2025.
Pelaku pasar kini bersiap menghadapi laporan inflasi utama pada Jumat. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan CPI Januari naik 0,3% baik untuk angka utama maupun inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi.
“CPI sekarang sedikit kurang penting setelah kita mendapatkan angka pekerjaan yang baik, karena itu sudah memungkinkan The Fed untuk menahan suku bunga cukup lamaJika CPI keluar panas, Anda masih punya beberapa bulan data untuk melihat tren sebelum The Fed benar-benar harus membuat keputusan sulit,” urai Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird.
Sebaliknya, menurut dia, jika data lebih rendah dari perkiraan, strategi tersebut memperkirakan Jumat bisa menjadi hari risk-on, meskipun “dibutuhkan angka yang sangat, sangat tinggi untuk benar-benar berdampak besar pada pasar saham dan kontrak berjangka fed fund.

