Trump Ngotot Ambil Alih Greenland, Sebut ‘Tak Ada Jalan Kembali’
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ancamannya untuk mengambil alih Greenland, dengan mengatakan di media sosial bahwa “tidak ada jalan kembali” dan bahwa “Greenland adalah hal yang mutlak”.
Baca Juga
Trump ‘Keukeuh’ AS Greenland Jadi Bagian AS, Denmark Kedepankan Dialog
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (20/1/2026), Trump ditanya sejauh mana ia bersedia melangkah untuk memperoleh Greenland. Ia menjawab singkat, “Anda akan mengetahuinya.”
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Swiss tentang adanya “pergeseran menuju dunia tanpa aturan”. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan bahwa “tatanan lama tidak akan kembali”.
Trump dijadwalkan tiba di Davos pada Rabu, di mana ia mengatakan akan ada “banyak pertemuan yang dijadwalkan soal Greenland”.
Baca Juga
Trump Akan Hadir di Davos, Sejumlah Tokoh Pilih Absen Termasuk PM Denmark
Dalam pengarahan pers yang panjang, Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa “segala sesuatunya akan berjalan cukup baik” di Greenland.
Terkait pecahnya aliansi NATO akibat ambisinya mengambil alih Greenland, Trump berdalih bahwa kontribusi AS cukup besar di NATO. “Tidak ada seorang pun yang telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibanding saya, dalam segala hal. NATO akan senang dan kita juga akan senang,” katanya, menjawab BBC. “Kita membutuhkannya untuk keamanan dunia,” tambahnya.
Namun sebelumnya ia mempertanyakan apakah NATO akan membantu AS jika diperlukan. “Saya tahu kita akan datang menyelamatkan NATO, tetapi saya benar-benar mempertanyakan apakah mereka akan datang menyelamatkan kita,” ujarnya kepada wartawan.
NATO — Organisasi Perjanjian Atlantik Utara — saat ini memiliki 32 negara anggota, dengan AS sebagai salah satu dari 12 negara pendiri. Aliansi ini dirancang untuk menjaga kebebasan dan keamanan melalui pertahanan kolektif. Salah satu prinsip utamanya tercantum dalam Pasal 5, yang menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu atau lebih anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap semua.
Dalam wawancara dengan BBC Newsnight pada Selasa malam, Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Alam Greenland, Naaja Nathanielsen, mengatakan warga Greenland “bingung” dengan langkah presiden AS. “Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, dan kami sudah cukup jelas tentang hal itu,” kata Nathanielsen.
“Nilai apa yang Anda berikan pada budaya kami dan hak kami untuk menentukan apa yang terjadi dengan kami di masa depan?” ujarnya
Komitmen Eropa
Selasa merupakan hari pertama forum di Davos. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menanggapi isu ini secara langsung dalam pidatonya kepada para peserta, dengan menegaskan bahwa Eropa “sepenuhnya berkomitmen” terhadap keamanan Arktik.
Namun ia mengatakan hal itu hanya bisa dicapai secara bersama-sama, dan menyebut rencana tambahan tarif Trump sebagai “kesalahan”.
Presiden AS mengatakan ia akan mengenakan tarif 10% atas “semua barang apa pun” yang diimpor dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari jika negara-negara itu menentang rencana pengambilalihan Greenland.
Von der Leyen menambahkan bahwa Uni Eropa berdiri dalam “solidaritas penuh” dengan Greenland dan Kerajaan Denmark, serta menegaskan bahwa kedaulatan mereka “tidak dapat dinegosiasikan”.
Pernyataan itu digaungkan oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang mengatakan bahwa komitmen negaranya terhadap Pasal 5 NATO adalah “tak tergoyahkan”.
Baca Juga
“Kami berdiri teguh bersama Greenland dan Denmark serta sepenuhnya mendukung hak unik mereka untuk menentukan masa depan Greenland,” kata Carney.
Dalam pernyataannya, Macron mengatakan ia lebih memilih “rasa hormat ketimbang perundungan” dan “supremasi hukum ketimbang kebrutalan”.
Sebelumnya pada Selasa, Trump mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Macron dilaporkan menolak undangan untuk bergabung dengan “Dewan Perdamaian” Gaza.
Presiden Prancis itu mengecam “akumulasi tanpa henti tarif-tarif baru” sebagai sesuatu yang “secara mendasar tidak dapat diterima”, terutama jika digunakan sebagai alat tekan terhadap kedaulatan wilayah.
Baca Juga
Macron termasuk pihak yang mendorong Uni Eropa mempertimbangkan opsi pembalasan terhadap tarif AS, termasuk instrumen anti-pemaksaan yang dijuluki “bazoka dagang”.
Sumber yang dekat dengan komite perdagangan internasional mengatakan Parlemen Eropa berencana menangguhkan persetujuan atas kesepakatan dagang AS yang disepakati pada Juli, sebuah langkah yang akan menandai eskalasi ketegangan lebih lanjut antara AS dan Eropa.

