Murka di Davos, Macron Tuding AS Lemahkan Eropa
Poin Penting
| ● | Macron mengkritik kebijakan tarif AS yang dinilai menekan dan melemahkan Eropa. |
| ● | Presiden Prancis memperingatkan pergeseran global menuju otokrasi dan meningkatnya konflik. |
| ● | Ancaman tarif Trump memperbesar ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. |
DAVOS, Investortrust.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik keras kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) yang dinilainya digunakan sebagai alat tekanan politik dan ekonomi terhadap Eropa, termasuk melalui ancaman tarif yang disebut bertujuan melemahkan dan menundukkan kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Macron dalam pidatonya pada KTT Tahunan ke-56 Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Selasa (21/1/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Macron mengatakan dunia sedang memasuki fase ketidakstabilan yang ditandai ketidakseimbangan di bidang keamanan, pertahanan, dan ekonomi. Ia menilai tanpa tata kelola kolektif yang kuat, kerja sama global berisiko tergantikan oleh persaingan tanpa batas yang merugikan banyak pihak, termasuk Eropa.
Baca Juga
Fokus Tangani Krisis Energi, Zelenskyy Putuskan Tak Hadiri WEF Setelah Serangan Rusia
Kritik Kebijakan Perdagangan AS
Presiden Prancis itu secara khusus menyoroti praktik perdagangan Amerika Serikat yang dinilai merusak kepentingan Eropa. Ia menyebut kebijakan tersebut menuntut konsesi maksimal, memberlakukan tarif baru secara agresif, serta digunakan sebagai alat tawar-menawar yang menyentuh isu kedaulatan teritorial.
“Jelas bahwa kita sedang memasuki masa ketidakstabilan dan ketidakseimbangan, baik dari sudut pandang keamanan, pertahanan, maupun ekonomi,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron dilansir Aninews.
Ia menegaskan bahwa tanpa mekanisme tata kelola bersama, persaingan global akan berlangsung tanpa kendali. Menurutnya, pendekatan perdagangan Amerika Serikat telah melampaui batas kepatutan, terutama ketika dikaitkan dengan isu sensitif kedaulatan wilayah Eropa.
“Jelas ini adalah masa yang mengkhawatirkan karena kita kehilangan perspektif yang dibutuhkan untuk memperbaiki situasi. Tanpa tata kelola kolektif, kerja sama akan digantikan oleh persaingan tanpa henti. Persaingan dari AS melalui perjanjian perdagangan merusak kepentingan perdagangan kita, menuntut konsesi maksimal, dan secara terbuka bertujuan untuk melemahkan dan menundukkan Eropa, dikombinasikan dengan akumulasi tarif baru yang tak ada habisnya yang pada dasarnya tidak dapat diterima, terutama ketika digunakan sebagai alat tawar-menawar terhadap kedaulatan teritorial,” ujar Macron.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai sindiran tidak langsung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya mengusulkan pencaplokan Greenland dan mengaitkannya dengan negosiasi perdagangan dengan negara-negara Eropa.
Ancaman Tarif Trump ke Eropa
Pernyataan Macron muncul di tengah ketidakpastian global akibat ancaman Washington untuk mengenakan tarif terhadap Prancis dan tujuh negara Eropa lainnya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan apabila negara-negara tersebut tidak menyetujui penjualan Greenland.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menawarkan negosiasi dengan Eropa, tetapi memperingatkan kenaikan tarif sebesar 10% mulai Februari 2026 dan meningkat menjadi 25% mulai Juni 2026 jika kesepakatan gagal dicapai.
Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis yang diekspor ke Amerika Serikat. Ancaman ini disampaikan setelah Macron dilaporkan menolak untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, sebuah inisiatif yang bertujuan mempromosikan stabilitas dan mengawasi rekonstruksi pascakonflik di wilayah tersebut.
Baca Juga
Macron di Davos: Eropa Tak Bisa Pasrah Hadapi Tekanan Dagang AS dan Banjir Industri China
“Tidak ada yang menginginkannya karena dia akan segera lengser dari jabatannya,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi pertanyaan wartawan mengenai sikap Macron.
“Saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanye buatannya, dan dia akan bergabung, tetapi dia tidak harus bergabung,” tambah Trump.
Masa jabatan Presiden Prancis Emmanuel Macron akan berakhir pada Mei 2027. Berdasarkan hukum Prancis, ia tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan ketiga.

