Sampaikan Pidato Mengejutkan di WEF, PM Kanada Ajak Dunia Bersatu Melawan para “Penindas” dan "Hegemon"
Poin Penting
|
DAVOS, SWISS — Perdana Menteri (PM) Kanada, Mark Carney menyampaikan pidato yang amat tajam dan mengejutkan di Word Economic Forum (WEF), Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026). Ia mendesak negara-negara di dunia untuk bersatu dan bersuara melawan para “penindas” dan "hegemon". Meski tidak menyebutkan nama secara spesifik, Carney diduga menunjuk Amerika Serikat (AS) dan China.
“Hari ini saya akan berbicara tentang runtuhnya tatanan dunia, tentang berakhirnya fiksi yang menyenangkan dan dimulainya realitas brutal di mana geopolitik negara-negara adidaya tidak tunduk pada batasan apa pun,” kata Mark Carney yang memulai pidatonya dalam bahasa Prancis.
Carney berbicara di depan para politisi, pemimpin bisnis, dan jurnalis selama sesi pleno pada hari pertama pertemuan tahunan WEF. Pidatonya mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin, hal yang jarang terjadi di WEF.
Baca Juga
Mark Carney mengingatkan tentang bahaya yang dihadapi negara-negara kekuatan menengah seperti Kanada yang tetap diam, sementara hegemon dan negara-negara adidaya sedang merusak tatanan internasional berbasis aturan.
“Baru-baru ini, negara-negara besar mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata. Tarif sebagai pengaruh, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, rantai pasok sebagai kerentanan yang harus dieksploitasi,” ujar dia.
Menurut Carney, negara-negara kekuatan menengah harus bertindak bersama agar tidak terus dizalimi. “Jika Anda tidak berada di meja perundingan, Anda akan menjadi santapan,” tegas Carney yang disambut seruan “oh” oleh hadirin.
Baca Juga
Macron Tegaskan Eropa Harus Lindungi Perekonomiannya agar Keluar dari Stagnasi
Mark Carney menggaungkan pesan utama bahwa dunia lama di mana kepatuhan negara-negara adidaya terhadap hukum internasional dan perdagangan telah mati. Negara-negara adidaya menggunakan kekuatannya untuk memaksa negara-negara kecil menuruti keinginan mereka.
“Berhentilah menyebut ‘tatanan internasional berbasis aturan’ seolah-olah masih berfungsi seperti yang diiklankan. Sebut sistem itu apa adanya: suatu periode di mana yang paling kuat mengejar kepentingan mereka menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata paksaan,” tandas dia.
Tidak seperti para pemimpin dunia lainnya seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Komisioner Ursula von der Leyen yang secara eksplisit menyebut AS dan presidennya, Donald Trump, Carney tidak menyebutkan kata-kata "Amerika Serikat," "Trump," atau negara mana pun.
Baca Juga
Bertolak ke Inggris dan Swiss, Prabowo Akan Bertemu PM Keir Starmer hingga Pidato di WEF
Meski demikian, Mark Carney menyerukan negara-negara lain untuk mengecam negara-negara kuat yang terlibat dalam intimidasi atau pemaksaan.
Carney merujuk pada metafora sebelumnya tentang seorang pemilik toko yang memasang tanda pro-Komunis di jendela tokonya meskipun tidak percaya pada pesan tersebut.
“Terapkan standar yang sama kepada sekutu dan saingan. Ketika negara-negara kekuatan menengah mengkritik intimidasi ekonomi dari satu arah tetapi tetap diam, ketika itu datang dari arah lain, kita tetap memasang tanda di jendela,” papar dia.

