Fokus Tangani Krisis Energi, Zelenskyy Putuskan Tak Hadiri WEF Setelah Serangan Rusia
Poin Penting
|
KYIV, Investortrust.id - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan tetap berada di Ukraina pada Selasa (20/1/2026) untuk mengoordinasikan penanganan krisis energi nasional, alih-alih melakukan perjalanan ke Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, di tengah serangan besar-besaran Rusia yang menghantam infrastruktur vital.
Zelenskyy menyampaikan keputusan tersebut kepada wartawan setelah melakukan konsultasi dengan otoritas terkait sektor energi. “Saya telah mengadakan konsultasi terkait dengan markas besar energi. Ini adalah prioritas utama saat ini. Tentu saja, dalam hal ini, saya memilih Ukraina, bukan forum ekonomi. Namun, semuanya dapat berubah setiap menit, karena bagi saya, bagi rakyat Ukraina, sangat penting untuk mengakhiri perang ini,” kata dia dilansir The New Voice of Ukraine.
Ia menekankan bahwa memastikan pasokan energi bagi masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. “Untuk saat ini, rencana saya adalah membantu masyarakat dengan energi,” kata Presiden Zelenskyy.
Zelenskyy juga menyampaikan perkembangan dokumen rencana kemakmuran dan jaminan keamanan Ukraina yang tengah disusun pemerintah bersama mitra internasional. Ia mengatakan dokumen tersebut hampir rampung dan memiliki arti strategis bagi masa depan negara. “Masih tersisa satu mil terakhir,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan ke Davos masih dimungkinkan apabila dokumen-dokumen tersebut telah siap atau jika terdapat keputusan penting terkait paket energi tambahan maupun penguatan aset pertahanan udara bagi Ukraina.
Baca Juga
Di WEF Davos 2026 CEO Coinbase Tegaskan Bank dan Kripto Harus Setara
Sebelumnya pada Selasa (20/1/2026), Financial Times melaporkan, mengutip sumber di Kantor Presiden Ukraina, bahwa Zelenskyy belum memutuskan kehadirannya di Forum Ekonomi Dunia dan sementara waktu tetap berada di Kyiv untuk mengoordinasikan respons pemerintah setelah serangan besar-besaran Rusia.
Menurut laporan tersebut, Presiden Ukraina diperkirakan akan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta para pemimpin Eropa dan berpotensi menandatangani dokumen penting terkait “kemakmuran ekonomi” Ukraina yang telah disepakati dengan Amerika Serikat. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah pertemuan tersebut akan berlangsung.
Pada Selasa (20/1/2026) malam, Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke Kyiv dan sejumlah kota lain di Ukraina dengan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone Shahed. Serangan tersebut menghantam wilayah Odesa, Vinnytsia, Rivne, dan Kyiv, serta menargetkan kota Zaporizhzhya dan Dnipro.
Sejumlah laporan menyebutkan fasilitas dan perusahaan infrastruktur penting, termasuk sektor energi, menjadi sasaran. Operator sistem transmisi listrik nasional Ukrenergo menyatakan bahwa pemadaman listrik darurat diberlakukan di beberapa wilayah akibat kerusakan jaringan.
Di sejumlah kawasan di tepi kiri Sungai Dnipro di Kyiv, gangguan pasokan listrik dan air dilaporkan terjadi. Kondisi ini memperparah tekanan terhadap sistem layanan publik di ibu kota Ukraina.
Baca Juga
Di Davos CEO Microsoft Sebut Talenta AI Jakarta Tak Beda dengan Talenta AS, Bedanya Cuma Ini
Situasi energi yang memburuk juga berdampak pada transportasi umum. Operasional metro Kyiv mengalami penyesuaian.
Sementara Wali Kota Kyiv Vitaliy Klitschko menyatakan sebanyak 5.635 gedung apartemen masih tanpa pemanas. Hampir 80% di antaranya merupakan bangunan yang sebelumnya telah kembali mendapat pasokan panas setelah serangan pada Kamis (9/1/2026).
Serangan Rusia di distrik Bucha, Oblast Kyiv, juga dilaporkan menewaskan seorang pria, menambah daftar korban sipil akibat eskalasi konflik yang terus berlanjut.

