Penggulingan Maduro Picu Ketidakpastian, Harga Minyak Tertekan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melemah pada Minggu (4/1/2026) seiring penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh pemerintahan Trump. Penggulingan Maduro memunculkan ketidakpastian besar terhadap Venezuela yang kaya minyak.
Minyak mentah AS turun 31 sen, atau 0,54%, menjadi US$57,01 per barel. Patokan global Brent turun 22 sen, atau 0,36%, menjadi US$60,53 per barel.
Baca Juga
Presiden Donald Trump pada Sabtu menegaskan bahwa investasi AS di sektor minyak Venezuela merupakan tujuan utama dari operasi pergantian rezim yang menyingkirkan Maduro.
“Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar—yang terbesar di mana pun di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” kata Trump dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida.
Trump juga menegaskan bahwa embargo minyak AS terhadap Venezuela tetap berlaku.
Venezuela, anggota pendiri OPEC, memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total global, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).
Caracas memproduksi sekitar 3,5 juta barel per hari pada puncaknya di akhir 1990-an, namun produksinya telah menurun signifikan sejak saat itu, menurut firma konsultan energi Kpler. Negara Amerika Selatan tersebut saat ini memproduksi sekitar 800.000 barel per hari, berdasarkan data Kpler.
Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang beroperasi di Venezuela. Perusahaan ini mengekspor sekitar 140.000 barel per hari pada akhir kuartal keempat 2025, menurut Kpler.
"Dampak penggulingan Maduro terhadap harga minyak bersifat ambigu dalam jangka pendek," beber Daan Struyven, kepala riset minyak di Goldman Sachs, seperti dikutip CNBC. Produksi bisa meningkat jika pemerintah yang didukung AS terbentuk dan pemerintahan Trump mencabut sanksi terhadap Venezuela, papar Struyven kepada klien dalam catatan Minggu.
Baca Juga
Namun, penyingkiran Maduro juga dapat memicu gangguan pasokan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, menurut Struyven, investasi AS yang meningkatkan produksi Venezuela akan memberikan tekanan turun pada harga minyak, kata Struyven. Pemulihan produksi, bagaimanapun, kemungkinan akan berlangsung bertahap dan tidak penuh.
“Eksekutif minyak yang beroperasi di Venezuela mengatakan dibutuhkan biaya sekitar US$10 miliar per tahun untuk membalikkan kondisi produksi, dan lingkungan keamanan yang stabil sangat penting untuk mengembalikan produksi ke tingkat historis,” beber Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets.
Pelonggaran sanksi secara penuh dapat mengembalikan produksi beberapa ratus ribu barel dalam periode 12 bulan jika terjadi transisi kekuasaan yang tertib, tulis Croft kepada klien dalam catatan Sabtu.
Baca Juga
Trump Buka Opsi Perang dengan Venezuela, Harga Minyak Global Naik
“Namun, semua perkiraan bisa gugur dalam skenario perubahan kekuasaan yang kacau seperti yang terjadi di Libya atau Irak,” jelasnya.

