Wall Street Loyo, Kejatuhan Saham AI Bebani Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS loyo pada penutupan Senin waktu AS atau Selasa (16/12/2025) WIB. Ketiga indeks utama kompak melemah. Indeks S&P 500 turun tipis, seiring pelemahan saham-saham utama berbasis kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 turun 0,16% dan berakhir di level 6.816,51, setelah sempat bergerak di zona positif pada awal sesi. Dow Jones Industrial Average melemah 41,49 poin atau 0,09% ke posisi 48.416,56, sementara Nasdaq Composite turun 0,59% ke 23.057,41.
Baca Juga
Sejumlah saham AI menekan kinerja pasar secara keseluruhan. Saham Broadcom dan Oracle—dua emiten yang memimpin rotasi keluar dari saham AI pekan lalu—masing-masing anjlok lebih dari 5% dan lebih dari 2%. Saham Microsoft juga mencatatkan pelemahan.
Investor justru beralih ke sektor-sektor yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi, seperti barang konsumsi nonprimer dan industri, serta meningkatkan kepemilikan pada saham sektor kesehatan.
Pergerakan ini terjadi setelah S&P 500 dan Nasdaq yang sarat saham teknologi menutup pekan lalu di zona negatif, sementara Dow—yang eksposurnya terhadap teknologi dan AI lebih kecil—mencatatkan kenaikan signifikan. Dalam periode mingguan tersebut, saham Oracle ambles 12,7%, Broadcom turun lebih dari 7%, dan sektor teknologi S&P 500 melemah 2,3%.
“Rasanya semua orang sedang membenci perdagangan AI saat ini. Tidak diragukan lagi,” kata Kepala Ekuitas Aptus Capital Advisors, David Wagner, kepada CNBC. Namun ia menilai pasar masih akan dipimpin oleh konsentrasi saham-saham besar, khususnya kelompok Magnificent Seven, karena pasar terus meremehkan daya ungkit operasional perusahaan-perusahaan tersebut.
“Selama masih ada pertumbuhan pendapatan, perusahaan-perusahaan ini akan terus memperluas margin dan menjadi penerima manfaat dari imbal hasil yang kuat tahun depan,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, Wagner tidak terlalu mengkhawatirkan kinerja pasar secara keseluruhan. Ia menyebut koreksi sebagai sesuatu yang sehat dan normal. Meski sebagian reli Santa Claus kemungkinan sudah terjadi, ia menilai masih ada potensi kenaikan lanjutan.
“Untuk mengubah arah pasar, fundamental harus berubah, dan saya tidak melihat itu terjadi dalam waktu dekat,” katanya.
Data ekonomi diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar pekan ini. Data nonfarm payrolls November dijadwalkan rilis pada Selasa, bersama data penjualan ritel Oktober, yang sebelumnya tertunda akibat penutupan pemerintahan AS pada musim gugur.
Baca Juga
Yield Treasury 10-Tahun Turun Setelah Payroll Swasta AS Melemah
Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan data nonfarm payrolls November menunjukkan penambahan 50.000 lapangan kerja, turun tajam dibandingkan kenaikan 119.000 pada September. Selain itu, data indeks harga konsumen (CPI) November akan dirilis pada Kamis.

