Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor terhadap India menjadi total 50%, sebagai respons atas kelanjutan pembelian minyak dari Rusia oleh New Delhi. Langkah ini disebut Trump sebagai bagian dari upaya menekan negara-negara yang "secara langsung atau tidak langsung mendanai mesin perang" Kremlin.
Baca Juga
India Abaikan Ancaman ‘Tarif Penalti’ Trump, Tetap Impor Minyak Rusia
Gedung Putih mengumumkan pada Rabu (6/8/2025) bahwa mereka memberlakukan tarif tambahan 25% terhadap India.
“Saya mendapati bahwa Pemerintah India saat ini secara langsung atau tidak langsung mengimpor minyak dari Federasi Rusia,” kata Presiden Donald Trump dalam sebuah perintah eksekutif, dikutip dari CNBC.
“Dengan demikian, dan sesuai dengan hukum yang berlaku, barang-barang dari India yang diimpor ke wilayah pabean Amerika Serikat akan dikenai tarif ad valorem tambahan sebesar 25%,” bunyi perintah tersebut.
Tarif baru ini dijadwalkan mulai berlaku dalam 21 hari, menurut perintah tersebut, sementara tarif 25% yang telah diumumkan sebelumnya akan mulai berlaku pada hari Kamis (7/8/2025).
Tarif baru Trump terhadap India kini menjadi salah satu tarif tertinggi yang dikenakan terhadap mitra dagang Amerika Serikat mana pun.
Ini menjadi tanda terbaru bahwa Trump menepati ancamannya untuk menghukum negara-negara yang membeli minyak Rusia, seiring meningkatnya retorikanya dalam beberapa pekan terakhir atas invasi Presiden Vladimir Putin ke Ukraina.
Tarif terhadap India diberlakukan saat utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bertemu pada hari Rabu di Moskow dengan Putin, beberapa hari sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Gedung Putih bagi Rusia untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pertemuan tersebut “berjalan dengan baik” dan “Rusia ingin terus menjalin keterlibatan dengan Amerika Serikat.”
Tarif sekunder yang diancamkan Trump terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia masih diharapkan akan diberlakukan pada hari Jumat, menurut pejabat tersebut.
Sebagai respons terhadap tarif yang tinggi, India menyatakan bahwa “sangat disayangkan bahwa AS memilih untuk memberlakukan tarif tambahan ... untuk tindakan yang juga dilakukan oleh sejumlah negara lain demi kepentingan nasional mereka sendiri,” menurut sebuah pernyataan.
“Kami telah menyampaikan dengan jelas posisi kami mengenai isu-isu ini, termasuk fakta bahwa impor kami didasarkan pada faktor pasar dan dilakukan dengan tujuan utama menjamin ketahanan energi bagi 1,4 miliar penduduk India,” ujar juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri India.
Baca Juga
India Meradang, Kritik UE dan AS Soal Perdagangan dengan Rusia
“Kami tegaskan kembali bahwa tindakan ini tidak adil, tidak berdasar, dan tidak masuk akal,” lanjut pernyataan tersebut.
Perintah Trump juga menginstruksikan anggota pemerintahannya untuk “menentukan apakah ada negara lain yang secara langsung atau tidak langsung mengimpor minyak dari Federasi Rusia,” dan menentukan “apakah dan sejauh mana saya harus mengambil tindakan terhadap negara tersebut.”
Pekan lalu Trump mengatakan bahwa barang-barang dari India akan dikenai tarif 25%, selain “hukuman” atas pembelian peralatan militer dan energi dari Rusia oleh negara tersebut. Namun saat itu belum jelas bentuk hukuman seperti apa yang dimaksud.
Trump mengisyaratkan pada hari Selasa bahwa ia akan menaikkan tarif terhadap India “secara sangat substansial dalam 24 jam ke depan, karena mereka membeli minyak Rusia, mereka mendanai mesin perang.”
“Dan jika mereka akan terus melakukan itu, maka saya tidak akan senang,” kata Trump dalam acara “Squawk Box” di CNBC.
India telah menyatakan bahwa mereka sedang “dijadikan sasaran” oleh AS dan Uni Eropa “karena mengimpor minyak dari Rusia setelah dimulainya konflik Ukraina.”
Kementerian Luar Negeri India dalam pernyataan pada hari Senin mengatakan bahwa “sungguh ironis bahwa negara-negara yang mengkritik India justru melakukan perdagangan dengan Rusia.”
“Berbeda dengan kami, perdagangan mereka tidak didorong oleh kebutuhan nasional yang sangat penting,” bunyi pernyataan tersebut.
Sementara itu, Rusia membela India dalam perang dagang yang sedang berlangsung dengan AS dan menyatakan bahwa tarif Trump adalah “upaya untuk memaksa negara-negara menghentikan hubungan dagang dengan Rusia.”
Baca Juga
Trump Ultimatum Rusia: Dua Pekan Menuju Damai atau Hadapi 'Tarif Sekunder'
“Kami percaya bahwa negara-negara berdaulat harus memiliki, dan memang memiliki, hak untuk memilih mitra dagang mereka sendiri, dalam kerja sama perdagangan dan ekonomi,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam pernyataan pada hari Selasa.

