Trump Ultimatum Rusia: Dua Pekan Menuju Damai atau Hadapi 'Tarif Sekunder'
Poin Penting
|
EDINBURGH, investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempercepat tenggat waktu bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina, dari semula 50 hari menjadi kurang dari dua minggu. Jika tidak ada kesepakatan damai dalam 10–12 hari ke depan, Rusia dan mitra dagangnya terancam dikenai “tarif sekunder” dalam skala besar, dengan intensitas mencapai 100%.
Baca Juga
Trump Ancam ‘Tarif Sekunder’ 100% Jika Putin Tak Hentikan Perang sebelum September
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Skotlandia, Senin (28/7/2025), Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Putin dan menegaskan bahwa sanksi tambahan akan segera diumumkan secara resmi. Trump menyebut serangan Rusia ke kota-kota sipil Ukraina, termasuk Kyiv, sebagai titik balik dalam pendekatan diplomatiknya terhadap Moskow.
AS tidak melihat adanya kemajuan dalam penyelesaian perang Ukraina. “Saya akan menetapkan tenggat waktu baru, kira-kira… 10 atau 12 hari dari hari ini,” ujar Trump, dan menambahkan bahwa ia kecewa pada Presiden Putin. “Rusia dan Ukraina — saya rasa lima kali saya sudah bilang kita punya kesepakatan.”
Baca Juga
“Saya sering berbicara dengan Presiden Putin. Hubungan kami cukup baik,” katanya. “Lalu Presiden Putin meluncurkan roket ke kota seperti Kyiv dan menewaskan banyak orang — di panti jompo, atau di mana pun — dan mayat berserakan di jalan-jalan.”
Trump mengatakan kemungkinan besar ia akan secara resmi mengumumkan revisi tenggat waktu itu “malam ini atau besok,” seraya menambahkan bahwa AS juga akan memberlakukan sanksi bersamaan dengan tarif sekunder tersebut.
“Tidak ada alasan untuk menunggu. Kalau kita sudah tahu jawabannya, kenapa harus menunggu?” kata Trump.
Trump menetapkan tenggat 50 hari kepada Putin pada 14 Juli. Saat itu, ia mengatakan bahwa para pembeli ekspor Rusia akan dikenai tarif “sekitar 100%” jika tidak ada kesepakatan gencatan senjata dengan Ukraina sebelum September.
Trump sebelumnya dikenal enggan mengkritik Putin secara terbuka.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia mulai menunjukkan kekecewaannya karena perang Rusia di Ukraina semakin intensif.

