India di Tengah Tekanan Global: Tarif AS, Minyak Rusia, dan Diplomasi China
Poin Penting
- Tarif impor AS hingga 50% ancam sektor ekspor India, khususnya berlian, garmen, dan makanan laut.
- Minyak murah Rusia tetap jadi penopang ekonomi India, meski menuai kritik Washington.
- Hubungan India–Tiongkok tetap penuh luka pasca bentrok perbatasan, namun perdagangan bilateral terus tumbuh.
- Modi menghadapi ujian diplomasi besar dalam menjaga “otonomi strategis” India di tengah tekanan tiga kekuatan besar.
JAKARTA, investortrust.id - India kini berada di salah satu persimpangan geopolitik paling rumit dalam sejarah modernnya. Washington menekan dengan tarif impor, Moskow menjaga stabilitas ekonomi India lewat minyak murah, sementara Beijing—meski hubungan masih sarat luka—bersiap menyambut Perdana Menteri Narendra Modi dalam KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tiongkok.
Baca Juga
Trump Resmi Gandakan Tarif Impor India hingga 50%, Hubungan Dagang Memanas
Perdagangan dengan AS menjadi titik panas. Washington telah memberlakukan tarif timbal balik 25% atas impor dari India, ditambah penalti 25% lain terkait pembelian minyak Rusia oleh India. Hal itu membuat bea atas beberapa ekspor India mencapai 50%. AS adalah pasar ekspor tunggal terbesar India, senilai sekitar USD 87 miliar per tahun, hampir seperlima dari total perdagangan barangnya. Sektor kunci India seperti berlian, garmen, dan produk laut sangat rentan.
Dampaknya jelas terasa di lapangan. Para pemoles berlian di Gujarat, pekerja garmen di Tirupur, dan pengolah makanan laut di Kerala semuanya bergantung pada pesanan dari AS. Elektronik dan farmasi sementara ini aman, tetapi sektor lain — yang mempekerjakan jutaan orang — tiba-tiba terancam.
Pertarungan tarif ini terjadi bahkan ketika kedua negara memperdalam hubungan strategis. Di sejumlah bidang, AS dan India bekerja sama. Antara lain, memperluas kerja sama pertahanan, bermitra dalam Quad, dan memajukan pembicaraan rantai pasok semikonduktor.
Perusahaan besar AS, termasuk Apple, Microsoft, dan Amazon, telah meningkatkan investasinya di India dalam beberapa tahun terakhir. Namun friksi perdagangan memperumit hubungan ini, menimbulkan pertanyaan di Delhi: apakah Washington benar-benar melihat India sebagai mitra sejati, atau sekadar masalah dagang lain yang harus diatur?
Baca Juga
Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Beralih ke Rusia. India adalah konsumen minyak terbesar ketiga dunia, dengan konsumsi lebih dari 5 juta barel per hari, sehingga energi murah bukan kemewahan — melainkan kebutuhan. Pada 2021, hanya 1% minyak mentah India berasal dari Rusia. Kini lebih dari 35%, sekitar 1,75 juta barel per hari, menghemat lebih dari USD 17 miliar sejak awal 2022, menurut perkiraan analis. Diskon tersebut menjaga inflasi tetap terkendali dan memberi Modi ruang bernapas di dalam negeri.
Namun ada lapisan kedua. India berjalan di atas tali geopolitik, dengan ketegangan Pakistan yang mengancam memanas. Dalam konteks ini, Rusia adalah mitra keamanan vital dan pusat dari pengadaan pertahanan India, sehingga sulit bagi Delhi untuk menjauh tanpa melemahkan postur keamanannya.
Masalahnya, Washington tidak terkesan. Pejabat AS termasuk Peter Navarro dan Scott Bessent berargumen bahwa Delhi “mengambil keuntungan” dengan membayar di atas batas harga G7 sebesar USD 60 untuk minyak Rusia dan mengekspor kembali bahan bakar olahan ke Eropa.
Lalu datanglah Beijing, mungkin hubungan yang paling rumit. Modi bersiap melakukan perjalanan pertamanya ke Tiongkok dalam lebih dari tujuh tahun, untuk bertemu Xi Jinping dan berdiri bersama Vladimir Putin. Sementara Beijing menyebut acara itu sebagai simbol solidaritas, ketegangan antara India dan Tiongkok tetap belum terselesaikan.
Bentrok perbatasan pada 2020 menewaskan setidaknya 20 tentara India, memicu pembekuan hubungan tingkat tinggi. Sejak saat itu, India telah melarang ratusan aplikasi Tiongkok, memperketat aturan investasi asing, dan mendorong kemandirian di sektor kunci. Namun perdagangan kedua negara tetap mencapai USD 118 miliar tahun lalu, dengan impor India jauh lebih besar daripada ekspornya. Ketidakseimbangan ini membuat Delhi frustrasi, tetapi sekaligus menegaskan bahwa pemutusan hubungan bukanlah pilihan realistis.
Seperti dilansir CNBC, analis menilai Modi kecil kemungkinan mendapat terobosan besar saat berkunjung ke Tianjin. Namun kehadirannya sendiri adalah sinyal — bahwa India mau menjaga jalur komunikasi tetap terbuka, bahkan sambil memperdalam hubungan pertahanan dengan Washington dan membeli minyak murah dari Moskow.
Jika ditarik ke belakang, posisi India menjadi lebih jelas. AS adalah pelanggan terbesar sekaligus pengkritik terkerasnya. Rusia menjaga pasokan energi, tetapi dengan harga politik. Tiongkok adalah rival di sebelah, namun terlalu besar untuk diabaikan. Delhi menyebut pendekatannya sebagai “otonomi strategis”. Itu berhasil selama beberapa dekade, tetapi kini pertunjukan keseimbangan itu menghadapi tekanan lebih besar daripada sebelumnya.
Richard Rossow, Penasihat Senior dan Ketua Ekonomi India dan Asia Berkembang di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan kesepakatan antara AS dan India “masih sangat mungkin” karena India menawarkan konsesi substansial.
Arnab Mitra, analis konsumen India di Goldman Sachs, mengatakan bisa terjadi kebangkitan konsumsi massal di India yang dipicu oleh permintaan pedesaan dan reformasi GST (penyederhanaan pajak barang dan jasa) mendatang.
Meera Shankar, mantan duta besar India untuk AS, mengatakan India tidak akan bisa sepenuhnya membuka sektor pertanian karena sensitivitas politik domestik.
Hingga saat ini, negosiasi perdagangan India-AS masih berlangsung. Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan India memiliki “beberapa garis merah dalam negosiasi, yang harus dijaga dan dipertahankan.” Ia menambahkan bahwa “merupakan hak kami untuk mengambil keputusan demi ‘kepentingan nasional’.”
India dan Rusia menegaskan kembali rencana untuk meningkatkan perdagangan bilateral. Kedua negara berjanji memperluas hubungan dagang, langkah yang menunjukkan bahwa tarif besar dari Presiden AS Donald Trump atas pembelian minyak Rusia oleh New Delhi kemungkinan tidak akan memengaruhi kemitraan mereka.
Di sisi lain, mantan Gubernur Bank Sentral India mendesak India meninjau ulang pembelian minyak Rusia. Raghuram Rajan mengatakan tarif besar dari Trump adalah “alarm peringatan” agar India mengurangi ketergantungan pada satu mitra dagang. Ia menambahkan kini penting bagi India untuk “bertanya siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.”
Baca Juga
Bank Sentral India Tahan Suku Bunga di Tengah Ancaman Tarif Trump
Sementara itu, pasar saham India ikut bergejolak menyusul berlakunya tarif baru AS. Indeks Nifty 50 melemah 0,85%, sementara BSE Sensex turun 0,87%. Namun, sejak awal tahun, keduanya masih membukukan kenaikan tipis, menandakan optimisme investor meski tekanan eksternal meningkat.

